Selamat Datang Di Blogger AHMADI unTUk bUMI.....
Seraya Berucap....
Selamat Pagi bUMI.....
Aku Ada Karena Kau Ada....
Wahai Calon Pemimpin Besar.... Bersahabatlah Engkau Dengan Malam Dan Siang..... Karena Apapun Yang Engkau Miliki hari Ini.... Tidak Akan Cukup Untuk Mengubah Dunia..... Apalagi Melukis Langit Dengan Indah.....
Aksi Masyarakat Adat atas Pelecehan di Draft REDD
0 komentar Diposting oleh bang_ Ahmadi_ N' friend's di 06.34Poznan -- Kalimat yang menyatakan REDD harus menghormati hak-hak masyarakat adat dihapus dari draft keputusan, selasa (9/12/08) kemarin. Kontan saja hal tersebut mendapatkan perlawanan dari kelompok masyarakat adat dan NGO yang hadir dalam COP 14 UNFCCC dengan mengadakan aksi mendadak di depan ruang pers didekat The Plenary Stork.
Puluhan masyarakat adat dari Amerika Latin, India, PNG maupun Afrika bersama dengan aktivis Friends of the Earth, Climate Justice Now! mengecam penghapusan kalimat yang diduga merupakan ulah dari US, Australia, Canada dan New Zealand. Dalam aksinya mereka meneriakkan slogan “No Rights, No REDD!; No Bloody REDD!.”
Aksi tersebut mendapatkan pengawalan ketat karena tidak mengantongi ijin dari pihak keamanan. Aturannya, untuk melakukan aksi ditengah UN Compund harus mengirimkan penberitahuan 3 hari sebelumnya dengan mencantumkan jumlah orang, tempat, tingkat kebisingan, dan properti yang akan dipakai. Ancaman pencabutan akreditasi di UNFCCC tidaklah menyurutkan langkah gerakan sosial untuk melakukan protes tepat dijantung perundingan.
Sebelumnya dalam informal meeting memang US tidak sepakat dengan masuknya kata 'indigenous people' yang didorong oleh negera Amerika Latin dan menggantinya dengan 'indigenous individual'. Terakhir, versi amandemen hanya menyebutkan bahwa mengakui kebutuhan untuk mempromosikan partisipasi yang efektif dari masyarakat adat dan komunitas lokal.
Aksi Mengecam Bank Dunia
Puluhan aktivis Friends of the Earth dan Climate Justice Now! mengadakan aksi untuk mengecam peran Bank Dunia dalam pembiayaan perubahan iklim. Dalam pandangan mereka, Bank Dunia adalah lembaga yang selama ini justru merupakan penjahat iklim yang membiayai proyek-proyek bermasalah di negara berkembang. Selain itu, Bank Dunia juga merupakan istitusi yang tidak demokratis dan tidak memiliki sesitifitas terhadap penderitaan masyarakat di negara berkembang karena hutang.
Dalam aksi tersebut, digelar teaterikal jalanan yang menunjukkan Bank Dunia merambisi untuk menguasai bumi dengan ditangannya memegang batubara. Tapi ambisi tersebut mendapatkan perlawanan dari pepohonan dan beruang-beruang. Aksi semakin menarik dengan iringan tabuhan drum dari kelompok Anarchist Polandia.
Seruan seperti “World Bank, Hands Off!, World Bank is Climate Criminal” kembali memekik ke udara dan dihiasi dengan banner “World VS Bank, Don't Let Big Business Rules the World, No to Any Role of World Bank in Climate Regime.”
Sore hari ini kelompok ynag sama mengadakan side event dengan judul “World Before Bank” yang bercerita tentang bagaimana kebusukan Bank Dunia dalam perubahan iklim ini. Dan kebutuhan akan adanya lembaga baru yang mengelola dana perubahan iklim dengan demokratis, adil dan berspektif selatan. Selain itu juga diterangkan kebutuhan untuk memasukkan Ecological Debt (hutang ekologis) untuk menunjukkan bahwa siapa sebenarnya yang berhutang. (Agung Wardana*).
Label: ahmadi, aksi, konservasi, masyarakat indonesia, muhammad ahmadi, rakyat, REDD
TINDAK NYATA MENOLONG ORANG LEMAH DISAAT KRISIS !
0 komentar Diposting oleh bang_ Ahmadi_ N' friend's di 06.15Di bawah ini adalah usulan-usulan dalam menolong kalangan miskin dalam menghadapi krisis ekonomi global ini .
terlepas kita setuju atau tidak, namun intinya kita memang perlu lebih memperhatikan
orang-orang yang tidak seberuntung kita. Silahkan dicermati :
1. Kalau beli MAJALAH, jangan beli di dalam supermarket atau toko
buku. Tetapi usahakan untuk membelinya dari kios pinggir jalan atau pun di
lampu merah.
Sehingga uang keuntungan akan masuk ke orang kecil.
2. Kalau beli SAYUR-SAYURAN, mungkin bisa beli di tukang sayur yang lewat
di rumah daripada beli di supermarket. Kebanyakan dari kita tidak ada di
rumah
pada saat tukang sayur lewat, tetapi bisa juga kita titipkan dengan
pembantu/tetangga. Agak lebih repot sedikit, tetapi uangnya akan masuk ke
orang kecil.
3. Ada baiknya secara berkala, misalnya satu bulan sekali, kita panggil
tukang NASI GORENG/TUKANG SATE yang lewat di depan rumah. Walaupun kita
tidak
terlalu ingin makan nasi goreng atau sate, tetapi boleh lah sekali-sekali
membeli dagangan mereka. Uangnya akan membantu org kecil jg.
4. Sering kita berjalan-jalan dan mendapati beberapa orang berjualan KUE,
misalnya kue pancong, kue ape, dsb. Belilah.Untuk kita uangnya tidak
seberapa,
tetapi untuk mereka akan sangat berguna bagi org kecil. Tentu saja jangan
keseringan,
karena nanti kita juga bosen.
6. Untuk yang cowok -- mungkin jika tidak terlalu pusing sama model
rambut, ada baiknya mulai POTONG RAMBUT di barbershop ketimbang di salon.
Lumayan bisa
menolong mereka.
7. Kalo mo service ke BENGKEL,mendingan nggak ke dealer tapi ke bengkel
umum/biasa, jadi dapat membantu usaha org kecil.
8. Sebulan sekali gaji yang kita peroleh bisa kita sisihkan ke YATIM atau
JANDA janda tua atao orang yang berhak / yang membutuhkan. Hal ini sangat
membantu kaum miskin / duafa. Disamping itu kita juga akan mendapat pahala
atas kebaikan kita tersebut.
9. Bagi yang punya MOBIL ada baiknya kita sewaktu waktu naik angkutan umum
kayak bis, mikrolet, bajai dan becak, buat nambah penghasilan mereka.
10. Bagi yg punya dana berlebih, bisa juga membuka usaha kecil2an seperti
WARUNG rokok, kios pulsa, jual gorengan dll untuk membantu anggota keluarga
ataupun teman sekampung yg menganggur. Ini akan sangat membantu mengurangi
pengangguran
di negara kita.
Kalau di dalam mailing list ini ada 100 orang, rasanya uang yang turun ke
bawah cukup lumayan. Jika kita beli nasi goreng seharga 4000 rupiah satu
kali sebulan,
maka uang yang kita "berikan" ke orang kecil sudah mencapai 400 ribu
sebulan -- itu
hanya dari urusan nasi goreng.
Jadi rasanya kalau kita membiasakan diri untuk melakukan ini, maka
mudah-mudahan secara perlahan kita bisa menyeimbangkan distribusi uang ke
bawah.
Apalagi jika Anda mau meneruskan usul ini.
Atau jika itu terlalu muluk -- paling tidak kita sudah memainkan peran
kita untuk menolong orang kecil.
Salam Dahsyat
Didik Mulato ST
=============
Unit Manager PT Prudential Life Assurance
Label: ahmadi, krisis ekonomi, krisis global, muhammad ahmadi, orang, solusi krisis, tolong, tulisan
Sebenarnya Kita Miskin atau dimiskinkan??
0 komentar Diposting oleh bang_ Ahmadi_ N' friend's di 06.08dari milis alumni UIN Jakarta..... .
diteruskan oleh alien dimilis walhi
------------ --------- --------- ------
Sektor pertambangan sebagai sektor yang berpotensi menopang ekonomi Indonesia hanyalah isapan jempol belaka. Berdasarkan APBN 2008, pertambangan umum yang mencakup tambang emas, tembaga, nikel, perak, batubara dan lain-lain ternyata hanya menyumbang 15% dari total APBN.
Menurut pakar perminyakan Kurtubi, minimnya kontribusi pertambangan terhadap pendapatan negara diakibatkan pengelolaan pertambangan yang tidak benar. "Ini bukan salah investor, tetapi kesalahan Undang Undang Pertambangan Nomor 11/1967 dan UU Migas Nomor 22/2001. Karena itu dua Undang Undang itu perlu dicabut segera, karena kedua UU itu membuat sumberdaya alam Indonesia yang sangat kaya tidak mampu dimanfaatkan untuk mensejahterakan rakyat," kata Kurtubi saat berbicara dalam sebuah dialog di Plaza Central, Jakarta, Kamis (11/12) kemarin.
Lebih lanjut Kurtubi menjelaskan, dalam APBN 2008 penerimaan sektor pertambangan umum dinilai sangat kecil yaitu sekitar Rp36 triliun. Hal itu, lanjutnya, disebabkan ada kesalahan pengaturan dalam UU Pertambangan Nomor 11/1967. "Dalam UU Pertambangan diatur beberapa hal yang harus diubah. Misalkan, UU Pertambangan mengatur pengelolaan pertambangan yang melibatkan investor harus melalui mekanisme Kontrak Karya dengan ketentuan royalti yang diterima negara sangat kecil yaitu hanya 3 persen. Selain itu, meski Pasal 33 UUD menyebutkan seluruh sumberdaya alam dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat, tetap pada UU Pertambangan malah diatur negara bukanlah penguasa sumber daya alam, tetap hanya sebagai pengelola. Konsekuensinya, jika ditemukan sumberdaya mineral di Bumi Indonesia, maka itu bukan milik negara karena negara hanya pengelola bukan pemilik. UU seperti ini salah besar dan merugikan rakyat," ketus Kurtubi.
Lebih lanjut dia mengatakan, dirugikannya bangsa Indonesia dalam UU Pertambangan Nomor 11/1967, diantaranya disebabkan karena UU tersebut secara materi mengadopsi UU Belanda Indische Mijnwet 1890.
"Dalam UU Belanda Indische Mijnwet 1890 juga diatur bahwa investor hanya membayar royalti sebesar 3 persen kepada pemerintahan Belanda di Indonesia. Jadi seperti halnya KUHP kita yang merupakan warisan Belanda, UU Pertambangan kita juga seperti itu. "
Karena itu, Kurtubi mendesak DPR dan pemerintah untuk segera mengubah UU Pertambangan Nomor 11/1967. "Kalau diubah, saya berharap mekanisme kontrak karya dalam pengelolaan pertambangan umum kita harus dihapus. Kalau dalam UU Pertambangan negara hanya menerima royalti 3 persen, maka nanti royalti harus dihapus dan diganti dengan production sharing untuk negara 85 persen dan untuk investor cukup 15 persen."
Selain itu, lanjut Kurtubi, pemerintah harus memiliki mekanisme kontrol untuk mengawasi investor dalam pengelolaan pertambangan. "Kalau untuk minyak dan gas pemerintah memiliki lembaga BPH Migas yang bertugas mengontrol perusahaan-perusaha an itu. Tapi dalam bidang pertambangan umum, sampai sekarang pemerintah tidak tahu berapa volume produksi pertambangan emas, tembaga, nikel, perak dan batubara yang diproduksi, diekspor serta berapa harga yang dijual perusahaan-perusaha an itu. Contohnya Freeport, sampai detik ini pemerintah tidak tahu berapa banyak produksi emas Freeport per hari di Papua dan berapa harga yang mereka jual ke luar negeri. Ini 'kan kacau. Sumberdaya alam negeri ini malah dinikmati asing," kata doktor ahli pertambangan yang juga dosen Pascasarjana UI itu.
Menanggapi Kurtubi, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar menyatakan sependapat. Menurut Muhaimin, keterpurukan ekonomi Indonesia merupakan indikasi rakyat dan negara tidak lagi berdaulat. "Kita perlu meninjau kembali sejumlah perundang-undangan kita yang tampaknya menyimpang dari amanah konstitusi. Padahal dengan ekonomi berbasis konstitusi, sudah jelas sumber daya alam digunakan untuk kesejahteraan rakyat.Kerapuhan kita itu tidak pernah diantisipasi dengan baik oleh pemerintah dan DPR," kata pria yang akrab disapa Cak Imin.
--
--
Khalisah Khalid
Mobile Phone : +62813 11187 498
Email : sangperempuan@ gmail.com
YM : aliencantik@ yahoo.com
www.sangperempuan. blogspot. com
__._,_.___
Label: ahmadi, anggaran, APBN, cerita, kemiskinan, krisis ekonomi, miskin, muhammad ahmadi, rakyat, tulisan
Wacana Tanding Harus Dibangun
Posted Desember 3rd, 2008 by Alien
* Artikel
"Kami belajar untuk menjadi mandiri, terhadap pangan, ekonomi dan energi" ujar Manis, seorang ibu dari kelompok Sistem Hutan Kerakyatan Tunas Lestari, dari Dusun Pesangoan, Lampung pada Seminar Nasional – Gerakan Politik Hijau Merespon Krisis Global di Gedung YTKI Jakarta hari ini (3/12). Ibu Manis menuturkan "Kami membangun kemandirian secara bersama dengan mengorganisir diri dan juga membangun kemandirian secara politik. Kami mendukung Sarekat Hijau Indonesia dapat menjadi salah satu perahu rakyat menuju Indonesia baru"
Senada dengan yang disampaikan oleh Ibu Manis, Muliadi, Sekretaris Jenderal Aliansi Rakyat Pengelola Lahan Gambut Kalimantan Tengah, telah melakukan perlawanan dan membangun kekuatan kolektif rakyat untuk berorganisasi, membangun kekuatan ekonomi dan melakukan penguatan gerakan politik.
Hendro Sangkoyo, dari Sekolah Ekonomika Demokratik, menyampaikan keadaan Indonesia akan semakin buruk bila tidak ada perlawanan terhadap rezim, termasuk yang sedang dibicarakan di Poznan, Polandia saat ini. Penting bagi kelompok gerakan untuk mencari tandingan dari model perluasan ekonomi yang basisnya bukan pembongkaran rumah rakyat dan bukan pembongkaran ruang hidup, yang kalau Indonesia ini basisnya pulau.
"Para petani sekarang sudah bergerak untuk melakukan pertanian berbasis keluarga yang ekologis" ujar Hendri Saragih, Sekjen Serikat Petani Indonesia yang juga Pimpinan Pusat La Via Campesina. "Sistem pertanian yang dilakukan oleh masyarakat adat maupun petani tradisional selama ini melakukan pengelolaan pertanian yang efisien dan ekologis".
Apa yang dilakukan oleh ibu Manis dan pak Mulyadi, yang diperkuat oleh aktifis gerakan sosial yang selama ini banyak berdialektika bersama gerakan tani dan lingkungan, menjadi sebuah cerita yang seharusnya terus menerus disuarakan oleh gerakan sosial sebagai sebuah bentuk dari perlawanan komunitas terhadap mainstream ekonomi dan pembangunan yang selama ini menjauhkan rakyat terhadap akses dan kontrol terhadap sumber daya alam (SDA) dan ruang hidupnya. Begitu banyak fakta krisis yang dialami oleh bangsa ini, baik krisis ekonomi, krisis ekologis, krisis sosial dan krisis politik yang terjadi, dan sudah hampir dapat dipastikan yang akan selalu menempatkan kelas yang paling lemah sebagai korban dari sebuah sistem yang memiliki kekuatan, baik secara ekonomi maupun politik.
Wacana tanding untuk merumuskan sebuah dunia baru dan Indonesia menjadi penting untuk ditawarkan sebagai sebuah jalan baru bagi rakyat, terlebih kondisi politik dan ekonomi dunia saat ini menunjukkan fakta kegagalan sebuah sistem ekonomi dunia yang selama ini berlandaskan pada basis produksi kotor, ketamakan dan sudah dapat dipastikan mengabaikan keberlanjutan lingkungan hidup. Krisis global yang terjadi, bahkan semakin menunjukkan hilangnya kedaulatan dan kemandirian bangsa ini yang disebabkan oleh ketergantungan Indonesia terhadap sistem kapitalisme yang basis pembangunan ekonominya bertumpu di sektor finansial yang begitu rentan dilanda krisis. Ironisnya, penanganan krisis global saat ini dan dalam konteks Indonesia sangat jauh relasinya dengan krisis yang dialami oleh rakyat dan tidak terintegrasi sama sekali dengan krisis global yang ada, selain krisis finansial antara lain krisis energi, krisis air, krisis pangan yang diakumulasi salah satunya oleh perubahan iklim.
Bahkan, komunitas yang selama ini memiliki pengetahuan dan pengalaman didalam mengelola sumber-sumber kehidupannya yang menjadi bagian dari survival komunitas terhadap mainstream ekonomi dan pembangunan, seharusnya menjadi bahan baku bagi bangsa ini untuk menjadikan krisis global sebagai sebuah moment bagi gerakan politik hijau untuk menawarkan wacana tanding dari komunitas untuk membangun kemandirian rakyat, keadilan sosial, kedaulatan dan kemandirian ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan hidup.
--
Khalisah Khalid
Mobile Phone : +62813 11187 498
Email : sangperempuan@ gmail.com
YM : aliencantik@ yahoo.com
www.sangperempuan. blogspot. com
www.sarekathijauind onesia.org
Label: artikel, ilmu politik, opini, politik, politik alternatif, sosial demokrasi, wacana
Relevankah Ekonomi Pasar Sosial?
6.12.08
Oleh: RUDI HARTONO
Beberapa hari yang lalu, dalam Workshop Mahasiswa Mengagasa Jalan Baru
Indonesia, yang digelar Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi
(LMND), dimana fadhil Hasan menjadi pembicara untuk sesi ekonomi, ia
melemparkan kesimpulan bahwa sistim neoliberal sudah gagal. Ketika
sebuah pertanyaaan di arahkan kepadanya, menyinggung soal alternatif
ekonomi, ia dengan jelas merujuk pada Ekonomi Pasar Sosial (EPS)
sebagai solusi.
Menarik, setidaknya buat saya, karena gagasan EPS yang identik dengan
kebijakan pemerintahan sosial demokrasi di Jerman kini sedang
mengalami krisis. Artinya, sebuah model ekonomi yang terbukti salah
hendak dipakai untuk menyembuhkan masalah ekonomi yang lebih ruwet
ketimbang Jerman, yaitu Indonesia.
Jerman dan Ekonomi Pasar Sosial
Ekonomi pasar sosial (Epasos) mulai dibangun di Jerman paska perang
dunia ke II. Konsep ini dikenalkan dalam kongres Godesberg, tahun
1958, setelah veteran-veteran kiri SPD yang tetap komitmen pada
perjuangan klas dan menolak ekonomi pasar meninggalkan partai,
sedangkan Jerman barat memilih berpartisipasi pada aliansi barat.
Ekonomi pasar sosial (EPS) dikampanyekan sebagai alternative terhadap
laissez-faire dan sosialisme.
ekonomi pasar sosial mencurigai kompetisi bebas dan ide laissez-faire,
tapi menghendaki peran negara yang kuat dalam membentuk dan menjamin
aturan ekonomi pasar, yang disebut "ordnung" (kebijakan membentuk
tatanan hukum bagi perekonomian) , yang tidak akan mencampuri mekanisme
pasar, namun lebih menjamin bentuk-bentuk kebebasan perjanjian dan
hak-hak kepemilikan pribadi dari pihak lain [1].
Pada tahun 1969, melalui koalisi dengan partai demokrasi Liberal
(FPD), sebuah sayap partai liberal, SPD berhasil mengontrol
pemerintahan. Segera program EPS diperkenalkan, terutama dengan isu
memperluas demokrasi dan redistribusi kekayaan. Pada masa kanselir
Willy Brandt, SPD memperluas hak-hak pekerja dengan membentuk dewan
pabrik dan hak menentukan bersama berjalannya pabrik besar. Ia
menggunakan pendekatan Keynesian dalam strategi investasi, yaitu
memperluas pembangunan infrastruktur publik, pendidikan, dan jaringan
pengaman sosial yang konferehensif, seperti pendidikan, kesehatan,
asuransi kecelakaan, pengangguran, dan dukungan dana bagi keluarga dan
anak-anak[2] .
Akan tetapi, Jerman dibawah pemerintahan sosial demokrasi tetap
merupakan masyarakat kapitalisme yang tersusun dan hierarkis; tetapi
polarisasi sosial, dalam pengertian mengikuti laissez-faire barat,
cukup berkurang. Pada pertengahan 1970-an, kapitalisme benar-benar
sedikit dijinakkan dari keserakahannya. Perkembangan ini berjalan
berkat pembangunan yang berkesibambungan dan pertumbuhan ekonomi yang
tinggi. Tapi periode ini berlansung singkat, dibawah Helmut Schmidt,
pemerintah berhadapan dengan inflasi yang tinggi, pengangguran yang
terus meningkat, dan deficit anggaran yang begitu besar. Dari 1974
hingga 1982, pengangguran meningkat dari 4,7% menjadi 8,2 %, serta
upah pekerja yang terus jatuh sejak 1981.
Schmidt mencoba mengatasi perkembangan ini, antara lain, dengan
mengeluarkan dana pinjaman bagi investasi infrastruktur public dan
pengurangan pajak bagi aktifitas bisnis. Akan tetapi, upaya Schmidt
tidak memperbaiki keadaan, malahan dia harus jatuh dari kekuasaannya.
Setelah ini, kekuasaan SPD berakhir dan digantikan oleh pemerintahan
kanan CDU-FPD, yang menaikkan Helmut Kohl's.
Di bawah Helmut, kondisi jerman bukannya membaik, apalagi dengan
integrasi Jerman Timur, melainkan membawa kesulitan ekonomi yang cukup
parah. Secara nasional, pengangguran meningkat menjadi 11,4% pada
tahun 1994 (dan 19,5% di Jerman Timur), serta upah pekerja jatuh 7%
sejak tahun 1992. kehancuran ini memberikan angin pada kembalinya
SPDdalam pemerintahan. SPD berkoalisi dengan partai hijau untuk
membentuk pemerintahan, dan menjanjikan membawa Jerman pada "Inovasi
dan Keadilan", dengan reformasi pajak, pension, sistim pendidikan,
serta perundangan yang mengatur pasar tenaga kerja.
Dibawah Schröder, orientasi SPD semakin mengarah pada kebijakan
neoliberal. Dibawah kritik kelompok kiri SPD, Schröder bergabung
bersama Blair untuk membangun jalan ketiga; dengan menolak pendekatan
Keynesianism dan mulai mendekati mekanisme pasar dan globalisasi.
Pertumbuhan ekonomi menurun dari 2,9% pada tahun 2000 menjadi nol
persen pada tahun 2003, sedangkan pengangguran mencapai 10% (4,4 juta)
pada tahun yang sama.
Stagnasi ekonomi sudah di depan mata, Schröder mengantisipasinya
dengan serangkaian reformasi, seperti pemotongan pajak, pencabutan
subsidi, dan deregulasi pasar tenaga kerja. Upaya itu tetap mendapati
kegagalan. produksi industri turun 2,1% pada oktober 2002. sekitar
37.000 perusahaan kolaps pada tahun 2002, termasuk bebeapa perusahaan
besar seperti Kirch Media, Babcock, Fairchild Dornier dan Herlitz, dan
650.000 orang kehilangan pekerjaan. Pengangguran resmi tercatat 4,2
juta jiwa [3].
Krisis yang dialami pemerintahan Schröder menciptakan krisis
kepercayaan bukan saja anggota partai, tapi juga pekerja dan rakyat
Jerman. 38 ribu kadernya meninggalkan partai pada tahun 2003. pada
pemilu 2004, perolehan suara SPD hanya 21,4% (turun dari 30,7% pada
tahun 1999). Ini merupakan kekalahan terburuk sejak 1945[4] .
Keterbatasan- Keterbatasan Ekonomi Pasar Sosial
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan; bahwa; (1). EPS social tidak
dapat menghindar dari krisis, meskipun lebih lambat dibanding dengan
AS, tapi sejumlah reformasi-reformasi dan bongkar pasan sistim pajak
dan jaminan social oleh pemerintah Jerman membuktikan bahwa Epasos
sudah harus ditinggalkan. (2). Partai Sosial Demokrat (SPD) yang
mencomot EPS dan mempraktekkannya dalam beberapa puluh tahun kini pun
mengalami krisis dan mulai ditinggalkan pendukung fanatiknya, terutama
yang berlatarbelakang kiri.
EPS, seperti juga Keynesian, kapitalisme Negara, merupakan model-model
ekonomi yang tercipta, dalam berbagai penyesuaian- penyesuaian, untuk
mengantisipasi dan menunda krisis yang inheren dalam sistim
kapitalisme. EPS yang dipraktekkan Jerman, mungkin lebih mirip dengan
neoliberalisme yang sedikit jinak, yang disesuaikan dengan kultur
politik masyarakat Jerman atau ajaran social kristen; jiwa sosialnya
tinggi.
Di dalam sistim kapitalisme, ada 3 penyebab krisis yang inheren dalam
sistim tersebut, yakni; (1). Ketidakseimbangan antara produksi
kapitalis dengan kebutuhan real masyarakat, yang selalu dijelaskan
dengan anarkisme produksi. (2). Ketidakseimbangan antara keluaran
(kapasitas produksi) dengan kemampuan konsumsi massal—yang
parameternya adalah upah (daya beli) masyarakat. (3). Akumulasi
berlebihan, yakni tidak cukupnya produksi nilai lebih, dibandingkan
dengan jumlah capital yang diakumulasikan.
Di dalam kapitalisme, mekanisme pertukaran dan distribusi diatur via
mekanisme pasar yang kompetitif. Kompetisi pasar adalah aspek penting
dan mendasar dalam kapitalisme, yang mengatur bukan saja distribusi,
tapi juga soal penentuan harga dan panduan soal produk yang di mana
yang perlu dihasilkan dan tidak. Dengan kepemilikan pribadi satu
pihak, maka tujuan keterlibatan individu dalam mekanisme pasar yang
kompetitif adalah memaksimalkan keuntungan (profit).
Dalam situasi tersebut, EPS bukan untuk mengendalikan pasar agar
sedikit jinak, seperti yang diyakini sejumlah intelektual di
Indonesia, tapi justru menjamin kebebasan pasar. Makna kebebasan
disini adalah jaminan atas kepemilikan pribadi atas alat produksi,
pasar terbuka, kebebasan memasuki dan keluar dari pasar, serta
kebebasan membuat kontrak-kontrak. Karena sifat pasar yang
hiper-aktif, kompetitif, dan anarkis, sehingga berpotensi mendorong
kesenjangan ekonomi, pengangguran, dan hilangnya jaminan social. Maka,
EPS menawarkan beberapa katup pengamannya, diantaranya; (1).
pengaturan soal monopoli; maka pemerintah harus membentuk aturan anti
monopoli dan lembaga independent yang mengawasi persaingan usaha agar
tidak mengarah pada monopoli (mirip KPPU, di Indonesia). (2).
Redistribusi kekayaan; EPS menyadari bahwa distribusi dibawah
mekanisme pasar tidak akan melahirkan keadilan, maka Aucken
mengusulkan paket redistribusi kekayaan, salah satunya dengan pajak,
meskipun ia menentukan limitnya agar tidak menggerus investasi
produktif. (3) peraturan biaya eksternalisasi, terutama penggunaan
sumber daya alam, kesehatan dan keselamatan kerja, serta soal waktu kerja.
Model EPS sendiri di Jerman sedang mengalami krisis. Dari tahun ke
tahun, pemerintah selalu mendorong reformasi pajak, hingga diprediksi
bahwa nilai pajak Jerman merupakan terendah keempat di Eropa- 38.6%,
yang jauh lebih rendah dengan US pada 46,5%. Untuk pajak personal,
yang mencapai 56% pada tahun 1960-an, dan masih 53% pada masa akhir
jabatan Kohl's, dan pada tahun 2005 turun menjadi 42%. Reformasi pajak
yang dilakukan pemerintah Jerman, ternyata juga tidak mendorong sector
real berkembang, malah sebaliknya, semakin meningkatkan pengangguran,
kemiskinan, dan hilangnya sejumlah layanan social, akibat macetnya
distribusi kekayaan. Di masa lalu, sistim pajak telah mengikat
masyarakat Jerman agar tidak terseret pada filosofis ekonomi "yang
kaya semakin kaya", tapi di masa kini, sistim pajak lebih berorientasi
memberikan fasilitas kepada pemimpin bisnis, korporasi besar,
perusahaan perbankan, untuk menarik dananya dan menginvestasikan pada
sector yang menggiurkan, yakni kenaikan harga saham.
Kesuksesan EPS di Jerman dalam beberapa periode, terutama dalam
menekan pengangguran dan mempertahankan industrialisasi, terletak pada
investasi social (pembangunan infrastruktur publik, sistim jaminan
social, dll) besar-besaran dari Negara, karena periode booming ekonomi
dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ketika periode itu berlalu,
segera ekonomi Jerman berhadapan dengan stagnasi ekonomi.
Jerman dan Krisis Finansial
Salah satu lapangan ujian bagi ketangguhan ekonomi suatu Negara adalah
seberapa kebal terhadap pengaruh krisis financial di AS. Ketika badai
krisis financial mengamuk, beberapa petinggi dan ekonom eropa
memuji-muji bahwa EPS akan manpu menyelamatkan Jerman dari krisis,
bahkan ada yang menganjurkan agar EPS dipraktekkan pada tataran
internasional, sebagai solusi ekonomi global. Hingga bulan September,
beberapa ekonom Jerman tetap optimis; bahwa tidak ada bank swasta dan
sector public tetap solid dan aman, bahkan beberapa Bank yang
menyimpan dana public, seperti Sparkasse dan Volksbank tetap aman.
Juga, di Jerman belum ada tanda-tanda gelembung perumahan, atau
tanda-tanda kekacauan dramatis dari harga properti.
Namun, optimisme ini berakhir karena terjadinya krisis likuiditas yang
melanda HRE dan mengarahkan pada kebangkrutannya. Dana 3,1 juta US$
hilang, tanpa ada hasil. Sektor industri Jerman, terutama otomotif
(Opel, Ford, BMW dan Mercedes-Benz) sedang mengalami kesulitan, akibat
penuruan permintaan (omzet) yang berlansung drastis. Perusahaan
software SAP, yang berbasis di Jerman Barat, telah bereaksi atas
jatuhnya permintaan dengan membekukan penyewaan. Lufthansa juga
menderita kerugian akibat penurunan travel bussines dan bisnis kargo[5] .
Beberapa lembaga penelitian di Swiss, Austria, dan Jerman, telah
mendokumentasikan laporan yang menyebutkan prediksi pertumbuhan
ekonomi Jerman, pada tahun 2009, hanya 0,2%, serta jumlah pengangguran
yang meningkat drastic. Bahkan, Hans-Werner Sinn, kepala institute
penelitian ekonomi (IFO), yang berbasis di Munich, membuat kesimpulan
catatan "situasi sudah sangat mencemaskan". Nilai ekspor Jerman
sendiri sudah jatuh 2,5% hanya untuk bulan Agustus saja[6].
Apa yang disebutkan disini, meskipun belum mewakili keseluruhan, namun
sudah dapat menjelaskan bahwa ekonomi Jerman benar-benar terperosok
dan tak dapat melepaskan diri dari krisis financial. EPS tidak dapat
membuat pertahanan ekonomi, yang melindungi kepentingan nasional dan
rakyatnya, dari serbuan krisis. Hal ini terjadi, selain karena Jerman
merupakan bagian dari sistim global yang sedang krisis, juga karena
beberapa pendekatan ekonomi pemerintah Jerman serupa dengan
pemerintahan kapitalis di AS maupun di eropa.
kesimpulan
Sudah hampir menjadi kesimpulan, bahwa sistim neoliberal telah menjadi
penyebab utama dari masalah ekonomi di Indonesia. Kesimpulan ini,
seharusnya menjadi titik berangkat untuk mendiskusikan jalan ekonomi
seperti apa yang bisa menjadi alternative, diluar neoliberalisme yang
gagal tersebut. EPS yang berdiri pada mekanisme pasar liberal tentu
juga bernasib sama dengan neoliberalisme, sehingga perlu dicoret dari
daftar pencarian.
Menurut saya, yang terperting dalam pencarian sistim ekonomi
alternatif setidaknya memenuhi kriteria berikut; pertama,
memperjuangkan pengambil-alihan kendali atas control sumber daya alam,
yang sebelumnya dikuasai dan dieksploitasi asing, untuk dimanfaatkan
pada pemenuhan kebutuhan rakyat dan dalam negeri. Kedua, mengutamakan
prinsip "kemandirian" dalam pengolahan sumber daya ekonomi, strategi
industrialisasi, serta kerjasama ekonomi dan perdangan dengan
bangsa-bangsa lain. Ketiga, memperbesar transfer sumber daya ekonomi
kepada rakyat, dengan memperbesar anggaran investasi social, seperti
pembangunan infrastruktur public, layanan pendidikan dan kesehatan,
perumahan, kenaikan upah pekerja, sarana produksi bagi petani, dll.
Keempat, memberikan tempat yang luas bagi partisipasi rakyat, terutama
dalam mendiskusikan prioritas perencanaan ekonomi, pembangunan, dan
pengalokasian anggaran.
Mohon Maaf, Atas segala kekurangannya!
Rudi Hartono, Anggota Redaksi BERDIKARI Online dan Pengelolah Jurnal
Arah KIRI
Catatan:
1. Dr. Rainer Adam, Ekonomi Pasar Sosial: Ludwig Erhard: Bapak dari
apa yang disebut Keajaiban Perekonomian Jerman,
Friedrich-Naumann- Stiftung.
2. Bill Smaldone, Krisis Sosial Demokrasi Jerman, 2002, Jurnal Solidarity
3. Crisis and class struggle in Germany, Jurnal Sosialism today, edisi
72 feb 2003
4. Bill Smaldone, Krisis Sosial Demokrasi Jerman, 2002, Jurnal Solidarity
5. Majalah DER SPIEGEL Online, edisi 15 oktober 2008
6. Ibid
Baca Selengkapnya!
RUU MINERBA PERPARAH PEMISKINAN & KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT PERTAMBANGAN
0 komentar Diposting oleh bang_ Ahmadi_ N' friend's di 10.13RUU MINERBA PERPARAH PEMISKINAN &
KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT PERTAMBANGAN
Siaran Pers JATAM - WALHI - ICEL - HuMA, 5 Desember 2008
Pemerintah dan DPR RI rupanya tutup mata terhadap praktek-praktek pertambangan lewat UU No 11/1967, yang telah berlaku lebih 4 dekade. Terakhir, mereka akan menuntaskan Rancangan UU Mineral & Batubara, disingkat RUU Minerba dan segera disahkan di rapat paripurna DPR RI minggu depan. Semangat RUU ini tak banyak berubah, Keruk cepat, jual murah. Bisa dipastikan, konflik dan pemiskinan masyarakat serta kerusakan lingkungan di sekitar pertambangan akan naik.
Pertambangan skala besar telah melahirkan banyak masalah, tak hanya kepada masyarakat sekitar, tapi juga kerugian bagi negara. Mulai PT Freeport Indonesia di Papua hingga Laverton Gold di Sumatera. Demikian pula tambang-tambang rakyat di Bangka Belitung hingga tepian sungai-sungai di pulau Kalimantan . Perusahaan asing pertambangan diperlakukan istimewa, sepanjang bahan tambang hanya dipandang sebagai komoditas dagang penghasil devisa, yang tak punya daya rusak. Sejak dulu, Industri tambang Indonesia tak naik kelas, hanya menjadi penyedia bahan mentah, yang mensubsidi ekonomi negara-negara maju lewat ekspor, dan menjadi pasar raksasa produk olahannya di negara lain, kemudian. Sementara di lingkungan sekitar tambang rusak berat dan warganya makin miskin.
Celakanya, RUU Minerba tidak tanggap. Lagi-lagi, isinya abai terhadap posisi masyarakat, baik saat menentukan Wilayah Pertambangan hingga saat tambang beroperasi. Ia akan melanggengkan perebutan paksa ruang hidup dan sumber-sumber pengidupan rakyat oleh perusahaan tambang,dibantu pemerintah. Mengikuti UU lama, rancangan ini mengkriminalkan rakyat yang menolak wilayah kelolanya ditambang.
Saat carut marut perijinan tambang terus berlangsung dan makin tak terkontrol di masa otonomi. RUU Minerba justru mengatur keluarnya ijin-ijin baru. Bukan cara jitu mengkaji ulang perijinan yang sudah ada, yang tumpang tindih, melanggar hukum dan jumlahnya tidak masuk akal ,untuk negara kepulauan berpenduduk sekitar 240 juta jiwa ini.
Anehnya, tak satupun fraksi di DPR RI yang kritis dan menyerukan masalah kaji ulang. Ironisnya, partai penguasa, Golkar dan Demokrat justru terus memaksa memberikan perlakukan istimewa bagi perusahan asing, melalui Perijinan Usaha Pertambangan. RUU Minerba tak menawarkan perubahan mendasar bagi pengelolan sektor tambang yang mandiri, berkeadilan bagi rakyat dan lingkungan sekitar, ujar Siti Maemunah, koordinator nasional JATAM.
Semangat RUU Minerba, masih keruk cepat, jual murah. Ruang hidup rakyat, maupun kawasan lindung, yang dilarang untuk kegiatan Pertambangan bisa saja ditambang, jika mendapatkan izin Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Sungguh, nasib bangsa akan terpuruk jika RUU Minerba ini tak diperbaiki.
Berry Nahdian Forqan, Direktur Eksekutif WALHI menyatakan, Posisi rakyat dan kawasan lindung terancam dengan ketentuan ini ditengah keberadaan budaya korupsi yang marak di lembaga pemerintahan dan perwakilan rakyat, sebagaimana tampak dalam beberapa kasus alih kawasan lindung yang beberapa diantaranya sekarang sedang dalam proses pengadilan.
Jika tak mau menjerumuskan bangsa ini melalui kebijakan yang buruk, Pemerintah dan DPR RI harus segera memperbaiki subtansi RUU Minerba. Rancangan ini harus memasukkan mandat dilakukannya kaji ulang perijinan yang telah ada melalui upaya moratorium bertahap, mensyaratkan penghitungan daya dukung lingkungan dan veto rakyat sekitar pertambangan dan menegaskan arah pembangunan indusutri tambang yang bertanggungj jawab, adil, mandiri dan hanya memenuhi kebutuhan domestik. [ ]
Kontrak Media :
Berry Nahdian Forqan (Direktur Eksekutif WALHI) : 08125110979
Siti Maimunah (Kordinator JATAM): 0811920462
Asep Yunan Firdaus (Koordinator HuMA):08158791019
Rino Subagio (Direktur Eksekutif ICEL):08129508335
Label: akibat tambang, lingkungan, miskin, RUU, tambang, undang undang
KontraS dan 10th Jiffest
Memperingati 60 tahun Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
Dalam rangka memperingati 60 Tahun Deklarasi Hak Asasi Manusia, KontraS memperingati Hari HAM Internasional yang akan jatuh pada 10 Desember 2008 dengan tema 'Human Loves Human'. Melalui tema ini, KontraS bersama para ikon pendukung Human Love Human, yaitu Nicholas Saputra, Riri Riza, Mira Lesmana, Darbotz (Tembok Bomber a.k.a Bomber Wall), Efek Rumah Kaca, Arie Dagienkz and Arian 13 (Seringai) mengajak publik untuk bersama menghadiri Pemutaran Film dalam Human Loves Human Section yang bekerjasama dengan Jiffest ke 10, yang dimulai 5 sampai dengan 9 Desember 2008.
Tema Human Loves Human kami pilih sebagai bagian dari gerakan sosial KontraS yang mengajak seluruh manusia untuk mencintai manusia. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat jembatan pemahaman atas nilai-nilai perbedaan, yang acapkali masih dijadikan alasan utama dari lahirnya bibit kekerasan di Indonesia. Problematika yang masih belum terpecahkan di tengah masyarakat adalah bagaimana kita bisa memahami segala bentuk perbedaan tanpa harus mengurangi segala keperbedaan itu. Berbeda adalah berkah. Perbedaan justru membuat dunia ini lebih indah, karena akan memberikan nuansa toleransi dan cinta kasih yang lebih kuat di tengah nilai-nilai keperbedaan itu sendiri.
Perjuangan untuk melawan kekerasan dan merawat segenap bentuk perbedaan dan kebebasan haruslah bisa dipahami oleh semua pihak. Kami menawarkan cinta, cinta yang luas yang mungkin saja bisa diartikan sebagai bentuk ekspresi layaknya cinta asmara manusia yang bergelora. Cinta manusia yang memiliki definisi maha luas menyentuh nilai-nilai kasih sayang, kerendahan hati, pengorbanan serta keberanian untuk memperjuangkan cinta itu sendiri.
Untuk itu memformulasikannya dalam spirit Human Loves Human, manusia mencintai manusia, manusia mencintai sesamanya. Spirit ini juga ingin mengingatkan kembali bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar menerima perbedaan, peduli kepada sesama khususnya kepada mereka yang lemah. Melalui medium kebudayaan, KontraS berharap makna cinta maha luas ini bisa disampaikan melalui artikulasi universal, melalui bahasa cinta, bahasa kebudayaan, bahasa pengertian; dan KontraS pun berharap Human Loves Human bisa menjadi sebuah inspirasi bagi banyak orang untuk bergerak, menggagas ide besar dan tidak saja menjadi pengharapan bersama, namun juga menjadi kebaikan bersama berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Dunia yang lebih baik bagi Indonesia bukanlah sebuah keniscayaan. Gagasan besar ini hanya mungkin dilakukan jika kita bersama-sama sadar untuk melawan kekerasan dalam bentuk apapun dan merawat kebebasan yang sekarang ini sudah kita dapatkan kembali. Membuka diri kepada cinta yang mungkin mulai dilupakan adalah kesempatan yang harus dipergunakan dengan baik, ketika kita sadar bahwa kita mulai kehilangan cinta kepada sesama.
Melalui kampanye Human Loves Human mari kita rayakan keberagaman dan perbedaan secara lebih terbuka, manusiawi dan lebih berbudaya. Alam pikir yang merdeka, bebas dari segala bentuk represi akan membangkitkan artikulasi-artikula si yang lebih damai dan lebih humanis untuk menjadikan Indonesia sebagai taman yang lebih indah bagi anak cucu kita.
Secara khusus, kami mengajak kawan-kawan untuk menghadiri pemutaran film HAM sebagai bagian dari Jiffest 2009. Mari menikmati film dan membagi harapan bersama..
Salam kemanusiaan,
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)
Kamis, 4 Desember 2008
Label: hak, HAM, human loves human, kontras, love, love human
KRISIS RESESI EKONOMI GLOBAL, INFLASI DAN PENGARUH TERHADAP PETANI SAWIT
0 komentar Diposting oleh bang_ Ahmadi_ N' friend's di 01.18Krisis Ekonomi Politik Indonesia Ditinjau Dari Sistem Perkebunan Skala Besar
Disajikan oleh Badan Persiapan Pembentukan Nasional
Serikat Petani Kelapa Sawit (BPPN- SPKS)
Bagian Kedua
Akar Persoalannya Adalah Sistem Perkebunan Skala Besar
Sistem perkebunan skala besar hari ini tidak terlepas dari sejarah
kolonialisme di Nusantara ditandai dengan komersialisasi komoditas yang laku
dipasaran dunia oleh portugis, spanyol dan terakhir adalah kolonial belanda,
sistem ini masih mewarisi sistem politik usang yang mengandalkan monopoli
atas tanah ( sistem ekonomi politik feodal) dengan menjadikan pemilik
perkebunan sebagai tuan tanah yang memonopoli penguasaan tanah yang sangat
luas, serta mengendalikan kekuasaan politik diwilayah tersebut dengan
tersedianya buruh yang banyak dengan upah yang rendah merupakan syarat pokok
dari beroperasinya sistem ini. Disamping itu syarat-syarat lain yang harus
tersedia agar lebih lancar seperti kebijakan pemerintah, tekhnologi,
birokrasi yang bisa dikontrol secara efektif, manajemen modern dan lain
sebagainya. Untuk memperoleh syarat tersebut perusahaan tidak segan-segan
menggunakan cara-cara yang melanggar nilai kemanusiaan. Pemenuhan
syarat-syarat tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar bagi kehidupan
masyarakat, dimana tanah dan kekayaan alam yang selama ini menjadi sumber
hidup dan kehidupan masyarakat terampas dengan hadirnya sistem tersebut.
Dalam relasi produksinya perkebunan besar menggunakan sistem kapitalisme
dengan mempekerjakan buruh yang dibayar dengan uang. Sementara pemenuhan
kebutuhan sangat berorientasi pasar dengan upaya pemenuhan komsumsi
negara-negara barat sementara kebutuhan ditingkat rakyat bukan menjadi
tujuan utama pembangunan perkebunan sawit. Hal ini yang sangat dirasakan
oleh petani sawit saat ini dengan terpuruknya harga TBS karena tidak
tersedianya industri pengolahan dan turunan CPO dalam negeri berdasarkan
kebutuhan rakyat indonesia.
Maka secara sederhana ekonomi politik perkebunan skala besar menjadikan
majikan didalam pemilik perusahaan perkebunan merupakan tuan tanah "tipe
baru" baik yang dijalankan oleh perusahaan swasta maupun perusahaan negara.
Istilah tuan tanah "tipe baru" digunakan karena perusahaan perkebunan
menguasai tanah yang sangat luas, dia tidak bekerja ditanah tersebut secara
langsung dan hasilnya sangat berlebih yang diambil dari penindasan dan
penghisapan terhadap kaum buruh dan petani berupa nilai lebih dengan
mengambil waktu dan hasil kerja kaum buruh, serta produk lebih dengan
mengambil hasil produksi yang dari petani kelapa sawit (monopoli proses
budidaya dan monopoli hasil produksinya) . Jadi, tuan tanah "tipe baru" dalam
relasi produksi didalam sistem perkebunan skala besar merupakan pihak yang
paling diuntungkan oleh sistem ini dan petani sawit hanya menjadi objek
hisapan untuk pemenuhan kebutuhan TBS.
Struktur sosial yang ada di perkebunan sawit yaitu terdiri dari 1).Tuan
tanah tipe baru atau perusahaan yang memonopoli tanah 2). petani sawit (
plasma yang di bagi dalam 3 kategori yaitu buruh tani, petani plasma, dan
petani bertanah / non sawit, 3) dan buruh industri merupakan sistem sosial
yang ada di perkebunan sawit hari ini. Apabila dilihat dari sudut
kepentingannya jelas yang paling berkepentingan adalah pihak perusahaan
perkebunan karena mereka yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari
sistem tersebut. Disusul oleh elit - elit yang menjadi parasit yang
diuntungkan oleh sistem tersebut. Sedangkan buruh kebun / tani, petani
plasma, buruh industri perkebunan merupakan pihak yang hadir dipaksa oleh
sistem tersebut dan keadaan saat ini sudah menjadi bagian yang terlanjur
berada dalam lingkaran sistem perkebunan skala besar dan masyarakat lain
terutama petani non plasma / non sawit merupakan pihak yang tidak terlalu
berkepentingan terhadap sistem tersebut karena tidak memiliki relasi
langsung terhadap sistem perkebunan tersebut, namun demikian sebagai bagian
kolektif kaum tani, masyarakat adat dan masyarakat pedesaan pada umumnya
memiliki nasib yang sama yakni terancam tanahnya untuk perluasan perkebunan
ataupun dihambatnya proses produksi (budidaya).
Harga TBS yang anjlok hari ini tidak terlepas pada penerapan sistem ekonomi
politik perkebunan skala besar yang masih dijaga oleh pemodal dan birokrasi
yang mengabdikan diri kepada kaum imprealisme yang mencirikan beberapa hal
yang di praktekan dalam sistem perkebunan skala besar ini diantaranya:
Pertama mengandalkan kosentrasi produksi dan monopoli dalam hal ini areal
perkebunan sawit dikonsentrasikan dalam satuan wilayah yang sangat luas dan
hanya dimonopoli oleh pemain besar ( Wilmar, Sinarmas, Golden
Hope/SimeDarby, Asian Agri, Astra Agro ) mereka kemudian membentuk
holding-holding pada perusahan induk dan melakukan merger dengan berbagai
jalan, yaitu: menjadi anggota dalam cabang industri yang sama, hanya
terlibat dalam berbagai pemrosesan bahan mentah, produsen untuk bahan mentah
dan perantara bagi produk tertentu misalnya dengan unilever, nestle,
catburry, Cargill, Arnott, Cognis dan Procter & Gamble yang merupakan
produsen bahan makanan yang berasal dari CPO, terlibat dalam berbagai lini
produksi namun berada dibawah satu korporasi, misalnya saja Sinarmas yang
juga melakukan produksi diluar dari bisnis minyak sawit, Astra Agro yang
mempunyai bisnis otomotif yang sangat terkenal.
Kedua adalah capital finance (uang) dimana bank kemudian merubah fungsinya
dari hanya sekedar mediator dalam penjualan kemudian mulai masuk pada
kegiatan produksi dimana uang didistribusikan oleh bank melaui pinjaman
untuk kegiatan produksi sehingga fungsinya menjadi aktif bahkan sinarmas
memiliki bank sendiri untuk mengakumulasi keuntungannya. Yang paling gress
adalah ternyata FED (Bank Central Amerika) adalah perusahaan milik swasta
yang terdiri dari beberapa bank sentral termasuk lehman brother yang
bangkrut akibat kredit perumahan yang macet (subprime mortgage) dan juga
oleh milik 300 orang pribadi yang sangat powerfull yang bisa seenaknya bisa
mencetak US Dollar tanpa jaminan emas murni satu gram pun[1]. Selain itu IMF
melaui cabang bisnisnya IFC (International Finance Corporation) juga
menyalurkan kredit kepada kelompok wilmar group dalam melakukan investasi di
sector industri sawit ini, selain itu bank -bank swasta seperti HSBC, AMRO
Bank, Rabbo Bank, Standar Charter Bank merupakan nama-nama Bank yang aktif
dalam memberikan kredit untuk perkebunan.
Ketiga adalah eksport capital, dimana eksport capital berkembag dari hasil
akumulasi capital. Agar tidak terjadi krisis over-produksi karena surplus
kapital, maka mereka mengeksportnya ke luar negeri. Alasan utamanya adalah
untuk memproteksi dan menambah pendapatan mereka dan rata-rata keuntungan.
Sasaran dari eksport kapital adalah negara-negara yang terjajah dan setengah
jajahan termasuk Indonesia, ini adalah praktek baru dari kolonialisme atau
disebut juga dengan neo-kolonialisme. Ekspor capital di negara terjajah dan
setengah-jajahan diarahkan pada pembangunan berbagai macam cabang industri
yang melayani kepentingan negara-negara imperialis (industri ini utamanya
dalah industri manufaktur, pengepakan ekspor bahan mentah dan pertanian,
atau industri sekunder yang menyediakan barang konsumsi). Misalnya saja Bank
Dunia (Wold Bank) memberikan pinjaman kepada pemerintah Indonesia setelah
investasi terhadap sektor kayu, tambang kini investasi utang yang merupakan
rekayasa lembaga keuangan international bergerak ke isu perkebunan dalam
kerangka program revitalisasi perkebunan yang dicanangkan tahun 2007 dengan
komoditas utama adalah sawit (unggulan), kemudian karet dan kakao. Untuk
memperoleh keuntungan tentunya mereka akan mendikte pemerintah melaui
politik dan ekonomi negara penerima kredit untuk menerbitkan undang-undang
yang berpihak pada kepentingan modal semisal, UU Perkebunan tahun 2003,
UUPMA tahun 2007, kepmentan no. 21 Tahun 2007 dan inpres tentang biofuel.
Pertanyaan selanjutnya mengapa eksport CPO Indonesia terganggu yang
mangakibatkan turunya harga TBS bagi petani sawit, padahal sesunguhnya
negara tujuan eksport CPO Indonesia ke negara India, Belanda dan China ?
jawabanya karena akumulasi capital berasal dari Negara imprealis pimpinan
Amerika, sehingga gejolak yang terjadi di Amerika langsung menghantam telak
pasar eksport diseluruh dunia termasuk Indonesia yang mengorbankan petani
sawit.
Darimana Memulai Melakukan Pembaharuan Sistem Perkebunan Skala Besar Kelapa
Sawit ?
Pertanyaan klise bagi yang sedang berjuang untuk mewujudkan keadilan,
kesejahteraan dan demokrasi termasuk berjuang untuk Pembaharuan Sistem
Perkebunan Skala Besar Kelapa Sawit. Dan, jawaban yang harus dibuat tidak
sebatas sederet pengertian teoritik namun yang terpenting mampu menjadi
pisau tajam yang dapat membabat ilalang dalam membuka jalan perintisan.
Sebab, pertanyaan yang diajukan diatas mengajak kita untuk memahami posisi,
kedudukan dan tahap kerja yang sedang kita lakukan. Dengan mengerti akan
letak proses kerja kita maka setapak langkah yang akan kita lakukan menjadi
sangat bermakna bagi langkah - langkah kedepan yang masih terbentang panjang
menantang, penuh liku dan ranjau.
Berlandaskan pada kondisi kongkrit struktur sosial diwilayah sekitar
Perkebunan Skala Besar Kelapa Sawit maka kita dapat menentukan dimana titik
memulai kerja pembaharuan sistem tersebut kedalam sistem yang adil,
sejahtera dan demokratis. Dengan meletakkan dan mendudukkan elemen yang
paling dirugikan (baca: korban) oleh sistem sebagai aktor pembaharuannya.
Karena, korban merupakan elemen yang memiliki segi hari depan setelah sistem
tersebut diperbaharui, dimana cita - citanya kedepan korban menjadi aktor
yang akan memegang peranan pokok dalam sistem perkebunan yakni berkedudukan
sama dengan Perusahaan Perkebunan atau bahkan berkedudukan lebih tinggi dari
perusahaan. Dengan demikian, berdasarkan susunan struktur sosoial didalam
wilayah perkebunan maka buruh tani / kebun, petani plasma, buruh industri
perkebunan merupakan pihak yang paling dirugikan (korban) oleh sistem
perkebunan besar kelapa sawit. Sedangkan petani non plasma / non sawit
keadaannya tidak stabil dengan adanya sistem tersebut, dimana elemen ini
merupakan elemen yang terancam oleh sistem perkebunan skala besar kelapa
sawit karena sistem tersebut dengan watak dasarnya monopoli akan melakukan
perluasan secara terus menurus. Sedangkan, elite birokrasi, elite politik,
preman maupun tokoh - tokoh informal (tokoh yang sudah dibeli) merupakan
pihak yang harus diwaspadai, sebab elemen tersebut merupakan elemen parasit
yang diuntungkan oleh sistem perkebunan skala besar kelapa sawit sementara
pemilik perusahaan perkebunan (Tuan Tanah "Tipe Baru") merupakan pihak yang
mengambil keuntungan paling besar didalam Sistem Perkebunan Skala Besar
Kelapa Sawit dengan merampas dan mengancam tanah - tanah petani, menindas
dan menghisap buruh, serta merusak tatanan sosial dan kebudayaan masyarakat.
Dengan demikian, langkah yang seharusnya kita lakukan menjadikan buruh tani
/ kebun, petani plasma dan buruh industri perkebunan sebagai kekuatan pokok
dalam mewujudkan pembaharuan sistem perkebunan skala besar. Walaupun
kelihatan ada pertentangan antara buruh tani / kebun disatu sisi dan disisi
lain petani plasma, disisi lain juga ada buruh industri perkebunan namun
sesungguhnya pertentangan tersebut bukan pertentangan yang pokok maupun
pertentangan yang mendasar serta tidak memiliki sifat - sifat pertentangan
yang bisa saling meniadakan kalau penanganan terhadap pertentangan tersebut
dengan tepat. Namun jika didalam menangani pertentangan tidak tepat maka
bisa dimanfaatkan oleh pihak yang justru menjadi lawan utama yakni
Perusahaan Perkebunan beserta antek - anteknya seperti kejadian yang kita
rasakan saat ini, dimana buruh kebun dan buruh industri perkebunan digunakan
oleh perusahaan untuk berhadapan dengan Petani Plasma. Bahwa dengan
pendekatan sama - sama korban akan mampu menyatukan Buruh Tani / Kebun,
Petani Plasma dan Buruh Industri Perkebunan kedalam satu barisan yang kokoh
dan kuat. Kemudian, dengan menitik tekankan perjuangan berdasarkan
kepentingan dasar ketiga elemen tersebut akan menjadi lem perekatnya, dimana
kepentingan dasar buruh tani / kebun, petani plasma adalah kepastian atas
tanah, kemerdekaan dalam berbudidaya dan jaminan kelayakan hasil produksinya
sedangkan kepentingan buruh industri perkebunan berupa terjaminnya keamanan
atas pekerjaannya. Maka, dengan membangun kesepemahaman dan membuat
kesepakatan bersama dari tiga elemen tersebut menjadi keniscayaan yang tidak
bisa dipungkuri untuk bergerak bersama dalam satu barisan perjuangan dalam
mewujudkan pembaharuan sistem perkebunan skala besar kelapa sawit.
Jadi, agar bisa terwujud kesatuan (aliansi) dasar antara buruh tani /
kebun, petani plasma dan buruh industri perkebunan maka terlebih dahulu
harus disiapkan syarat-syaratnya yakni terbangunnya organisasi tani (buruh
tani / kebun, petani plasma) dan organisasi buruh (buruh industri
perkebunan). Dengan terbangunnya organisasi buruh dan organisasi tani maka
kesepemahaman, kesepakatan dan gerak langkah perjuangannya akan dilakukan
secara bersama - sama dengan organisasinya. Sebab, tanpa terbangunnya
organisasi massa demokratik akan semakin jauh menyatukan kekuatan korban
kedalam barisan perjuangan bersama. Masing-masing individu didalam elemen
akan terpecah kepentingannya sehingga mudah sekali dicerai beraikan kedalam
kepentingan subyektif yang akan merugikan perjuangan dalam melakukan
Pembaharuan sistem perkebunan skala besar kelapa sawit. Maka menyiapkan
syarat tersebut dibutuhkan kesanggupan dan kapasitas dari orang - orang yang
konsern terhadap masalah tersebut. Serta, faktor internal dari setiap elemen
tersebut (kontak maupun basis massanya) menjadi potensi dasar untuk
membangun organisasinya. Melihat hal ini berdasarkan kesanggupan dan
kemampuan (pengetahuan dan pengalaman historisnya) serta praktek kerja
selama ini menempatkan petani plasma sebagai prioritas kerja dalam
menyiapkan syarat - syarat tersebut, sembari juga mulai membangun secara
terbatas organisasi buruh.
###
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
[1] Tulisan Thomas D. Schauf, CPA (a national speaker to Certified Public
Accountants and business leaders) berjudul "the Federal Reserve is
Privately Owned" (Wisdom And Freedom produced by World Newsstand Copyright
1999.)
Label: ekonomi, gerakan tani, kelapa sawit, krisis ekonomi, krisis global, pertanian, sawit
SKB 4 Menteri Sengsarakan Kaum Buruh.
Kaltengpost (18 november 2008)
Palangakaraya, penerbitan Surat Kepeutusan Bersama (SKB) empat menteri pada tanggal 22 Oktober 2008 lalu menyengsarakan kaum buruh. Pasal – pasal didalamnya dinilai hanya berpihak pada pengusaha dan merugikan kamu buruh. Misalnya pada pasal 3 yang sangat menekankan upah dalam penentuan Upah Minimum Provinsi (UMP). Isinya ” gubenur dalam menetapkan upah minimum mungupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional”. Hal ini diungkap ketua KP Sarekat Hijau Indonesia kalteng M. Ahmadi ”SKB empat menteri jelas2 merugikan kamu buruh, yang sudah sengsara menjadi makin sengsara” ujar Ahmadi dalam rillisnya kepada Kalteng post sabtu 16/11 lalu.
Menurut Ahmadi keprihatinya tersebut merupakan respon dari gerakan kaum buruh yang begitu fenomenal diberbagai tempat. Ada baiknya juga menjadi cermin bersama, lebih - lebih Kalteng yang beberapa waktu lalu ribuan karyawan (2.596 orang red) sempat diliburkan oleh Perusahan Besar Swasta (PBS) dengan dalih imbas krisi moneter global saat ini.
Alih – alih tersebut ucap mantan Presiden Mahasiswa BEM Universitas Palangkaraya (Unpar) ini, ditambah lagi tindakan pemerintah yang mengeluarkan SKB empat menteri. Salah satu pointnya upah minimum atau biaya penentuanya akan ditentukan oleh perusahaan dan pekerja.
”Tentu ini (SKB empat menteri red) adalah cara tak bijak yang dilakukan oleh pemerintah, karena pintu investasi itu melalui mereka. Tetapi saat bicara kesejahteraan rakyat khususnya perekerja swasta pemerintah lepas tangan. Tentu saja perusahaan nantinya akan bertindak semena – mena terhadap karyawanya” ucapnya.
Ahmadi sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang selalu pro investasi untuk perusahaan. Apalagi hal itu masih saja berlajut ditengah – tengah iklim politik atau kampaye pemimpin negeri atau daerah yang selalu bicara tentang kesejahteraan rakyatnya. Padahal hampir 80% rakyat Indonesia adalah buruh, baik itu buruh kasar mapuan buruh lunak.
"himbauan saya, inilah saatnya buruh atau klompok yang selalu diupah, yang bisa "orang' upah dan disuruh sekendak "orang" sudah harus mengevaluasi mana lawan dan mana kawan, mana yang memang pro buruh dan yang tidak, jangan sampai penzholiman terhadap kaum buruh terus terjadi, munculnya kelompok - kelompok mengatas namakan buruh padahal hanya mengambil pemenfaatannya saja, ada buruh yang tidak memburuh, yang bicara tentang upah minimum buruh saja tidak pernah bagaimana mau bicara tentang kesejahteraan buruh. Tentu ini merupakan sesuatu yang tidak boleh terjadi, mereka hanya bisa memanfaatkan kaum buruh dengan duduk - duduk dikursi empuk” kata Ahmadi, masih dalam rillisnya,
Berdasarkan pemberiataan sebelumnya, karyawan beberapa perusahaan bidang perkayuan dan perkebunan terkena imbas krisis moneter Amerika Serikat (AS). Sebanyak 2.596 pekerja diliburkan.
Sejumlah perusahaan yang meliburkan karyawanya antara lain PT Korindo di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) untuk 1.500 pekerja selama tanggl 1 – 9 November 2008. kemudian PT Bumi Asri Persaman (BAP) di Barito Selatan (Barsel) sebanyak 425 karyawan pada tanggal 13 – 19 Oktober 2008, dan 641 karyawan PT Antang Permai Plywood Industri (APPI) di Kapuas yang rencananya akan kembali bekerja pada tanggl 15 November 2008.
Perusahaan lainnya yakni PT Sukses Karya Mandiri di Sukamara sempat melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 30 oarang karyawannya. Ini dikarenakan perusahaan tersebut bergabung atau merger dengan PT Sampoerna. 30 keryawan ii kemudian dipekerjakan di PT Sampoerna(def/sma).
Label: buruh, demontrasi, investor, partai buruh, phk, skb 4 menteri
Sosok Barack Obama....(Sebuah Cerminan)
0 komentar Diposting oleh bang_ Ahmadi_ N' friend's di 09.44
Barack Obama
Ini dia tokoh populer di Amerika Serikat saat ini. Bersaing secara ketat dengan Hillary Clinton, Obama menjadi idola dan panutan anak muda Amerika
Karir politik Barack Obama melejit. Kemampuan berpolitiknya ditopang kemampuan retorika yang mempesona, kharisma yang berkobar dan senyum menawan. Itulah yang menjadi perhatian kaum muda yang saat ini sedang kecewa dengan politik modern.
Sebenarnya siapa sih Obama ?
Barack Hussein Obama, Jr, lahir 4 Agustus 1961, adalah seorang Senator dari Illinois. Ia menjadi perhatian dunia karena pidato utamanya pada Konvensi Nasional Partai Demokrat 2004, ketika ia masih menjadi Senator Negara Bagian Illinois. Tahun itu juga, ia menjadi orang keturunan Afrika pertama yang memenangkan pemilihan ke Senat AS sebagai seorang Demokrat.
Obama dilahirkan di Queen's Medical Center di Honolulu, Hawaii dari ayah ekonom lulusan Harvard, Barack Hussein Obama, Sr., dari Kenya, dan ibu Ann Dunham, dari Wichita, Kansas. Waktu Obama dilahirkan, kedua orangtuanya adalah mahasiswa di East-West Center di Universitas Hawaii di Manoa.
Ketika berusia dua tahun, orangtuanya bercerai. Ayahnya kembali ke Kenya, dan ia hanya bertemu dengan anaknya sekali lagi sebelum meninggal pada 1982. Ann Dunham kemudian menikah dengan Lolo Soetoro, juga seorang mahasiswa East-West Center (MA Geografi 1962) dari Indonesia.
Pada masa kecilnya Barack menggunakan nama 'Barry'. Keluarga ini kemudian pindah ke Jakarta, di mana adik tiri Obama, Maya Soetoro-Ng, dilahirkan (Obama juga memiliki saudara-saudara tiri dari ayahnya yang menikah lagi). Ketika Obama berusia 10 tahun ia kembali ke Hawaii dan diasuh kakek-neneknya, Madelyn Dunham.
Masa Kecil di SDN Menteng 01
Barack Obama, orang kulit hitam pertama yang kini dijagokan jadi calon presiden Amerika Serikat pada Pemilu 2008, dikenang oleh guru dan teman-temannya di SD Menteng, Jakarta, sebagai murid bertangan kidal yang cerdas.
Sosok kepemimpinan Barry memang sudah terlihat sejak bergabung dengan Pramuka sekolah. Pertama datang ke SDN 1 Menteng, Barry tidak bisa bahasa Indonesia. “Dia diantar ibunya, orang bule,” kenang Bandung Winardiyanto, kakak kelas Obama.
Karena teman-teman satu kelas tidak ada yang bisa bahasa Inggris, Barry pun kesulitan berkomunikasi. Layaknya siswa baru yang “antik”, pria kelahiran 4 Agustus 1961 itu kerap jadi bulan-bulanan teman sekolah.
“Dia (Barry) dijulukin Si Lentik Barry karena bulu matanya lentik sekali, rambutnya keriting khas orang Afrika,” ceritanya. Selain itu, Si Lentik pun dijuluki Si Hitam karena kulitnya berwarna gelap. “Tapi dia sih cuek aja dibilang gitu,” kata Bandung tertawa.
Meski tak bisa bahasa Indonesia lancar, Barry mudah bergaul dengan teman-teman seangkatan bahkan seniornya. Kenangan terindah bersama Barry ketika camping di sekolah.
“Kami senior dan junior menjabat sebagai Pramuka penggalang,” ungkapnya. Kegemaran Barry main tali-temali dan lomba lari. Pokoknya anaknya tak bisa diam, hiperaktif dan sering bertanya,” terang Bandung. Barry juga sering didaulat menjadi pemimpin regu.
“Dia tak pernah memilih-milih teman sampai suka jajan di kios Kamid,” ceritanya. Kios Kamid berdiri sejak tahun 60-an menjual permen, ciki-cikian (sejenis makanan ringan), dan cokelat. Kami sering jajan bareng,” katanya.
Barack Obama siswa SDN Menteng 01
Barack Obama siswa SDN Menteng 01
Karir Politik, Harapan & Perubahan
Karir politik Obama bermula dari konvensi nasional Partai Demokrat pada 2004. Saat itu orang langsung membandingkan dia dengan tokoh-tokoh semacam Martin Luther King Jr, dan ikon Demokrat, John dan Robert Kennedy.
Sejak itulah ia mengembangkan mantra `harapan dan perubahan`. Ia juga menggambarkan pesaingnya, Hillary Clinton, sebagai simbol sistem politik yang rusak dan harus diperbarui segera.
"Ini saat kita akhirnya mengalahkan politik yang menakut-takuti, meragukan dan sinis. Politik ini malah memecah, bukan membangun negara ini," kata Obama kepada pendukungnya.
"Sejak saat ini, anda akan melihat ke belakang dan mengatakan, inilah waktu dan tempat Amerika mengingat apa artinya harapan," lanjutnya.
Karena dua tahun di Kongres dan satu periode sebagai legislator lokal, banyak orang menganggap kampanye Obama sekarang prematur. Dalam bukunya The Audacity of Hope, Obama menjelaskan mengapa ia tidak menunggu giliran untuk bertarung masuk Gedung Putih.
Ia mengaku sangat termotivasi dengan ucapan Martin Luther King Jr tentang `kepentingan yang sangat mendesak` bagi sebuah gerakan akar rumput untuk mendesakkan perubahan.
Ia bahkan sering merenungkan harga yang harus dia bayar untuk menyukseskan kampanyenya, yaitu kehilangan waktu untuk sang istri Michelle dan dua anak perempuannya Malia dan Sasha.
Sebagai kaum kulit berwarna, ia kerap menyebut diri sebagai juru bicara generasi mendatang. Secara implisit berupaya memisahkan diri pejuang kulit hitam pendahulunya seperti Jesse Jackson dan Al Sharpton yang saat ikut pemilu presiden kurang mendapat perhatian dari kaum kulit putih.
Dalam sebuah wawancara dengan AFP, Obama mengaku bahwa hidup di Indonesia telah membuka matanya. Ia melihat kesenjangan lebar antara kaum miskin dan kaya di seluruh dunia, serta dampak pergolakan politik pada rakyat jelata.
"Itu menyadarkan saya tentang jurang lebar di seluruh negara di dunia ini. Ini juga membuat saya sangat memahami betapa orang bisa sedemikian miskin, bagaimana isu-isu korupsi bisa menghilangkan peluang orang," imbuhnya.
Setelah tamat sekolah menengah, Obama kuliah di Universitas Columbia, lalu masuk ke Harvard Law School. Di situlah ia menjadi mahasiswa kulit hitam pertama yang menjabat presiden Harvard Law Review, sebuah lembaga yang sangat berpengaruh.
Obama bersama istri
Obama bersama istri
Semasa kuliah ia sempat bekerja sebagai pengelola komunitas di Harlem New York dan South Side Chicago, dua wilayah paling keras di AS. Saat itu ia membentuk sebuah keluarga.
Ia pun terjun ke politik di Illinois sebagai pengacara yang membela hak publik. Ia pun berhasil tiga periode menjadi senator negara bagian, sebelum berhasil menjadi senator AS pada 2004. Pidatonya saat itu membuat dunia melihat lahirnya seorang bintang baru politik AS.
"Tidak ada kulit hitam Amerika, kulit putih Amerika, Latino atau Asia Amerika, kita satu bangsa. Kita semua berjanji setia pada bendera Amerika, kita semua mempertahankan Amerika Serikat," serunya yang mengundang tepuk tangan membahana. (afp/ly)
Label: amerika, barak obama, politik amerika, presiden AS, USA
Palangkaraya, 31. Okt. 08
Untuk Insan yang mencuri hatiku,
Tetesan embun di luaran menambah dingin suasana, namun saat ini menjelang pukul dua dini hari aku masih membolak – balikkan badanku, begitu sulitnya aku pejamkan mata ini. Dingin yang menyeruak kedalam sumsumku saat ini tak terasa lagi, yang ada hanya sebuah angan yang sulit aku lukiskan dengan kata – kata. Kulirik angka di telepon genggamku telah menunjukan pukul 01.50, berarti kini aku telah sampai di hari rabu, hampir sepuluh hari sejak perjumpaan kita.
Dalam heningnnya pertiga malam dengan beberapa kali kokok ayam , lolongan anjing di seberang jalan rumah ini, aku masih terduduk menatap kedepan, melihat bisa – bias bayangmu.
Dinda …..begitu aku ingin memanggilmu, boleh kan? sekelumit kata penuh makna antara yang lebih tua dan muda antara adik dan kakak ,…antara…. Tak mau terlalu jauh aku berangan, namun hanya sebuah kemauan dan keilkhlasan serta waktu yang akan menjawabnya.
Boleh jawabmu…. Itu yang aku hendaki.
Dinda …
Biar kuhela nafas ini terlebih dahulu sebelum kulanjutkan rangkaian kata kata ini
Dinda…
Bukan aku ingin berlebihan dalam semua ini, semata hanya dari sebuah alur fikir yang terus mengalir dan akan lebih baik jika tanpa dusta aku muarakan di kertas ini.
Kau mengerti tentang senyuman dinda ?.
Senyum adalah sebentuk penyikapan atas hidup. Tanggapmu terhadap Tuhan, alam dan manusia sesama. Senyum adalah ekspresi jiwa pada segala.
Tentu kau yang paling engerti tentang senyummu dinda. Tapi bagiku, senyum tetaplah senyum yang bermakna harmoni. Dengan tersenyumnya dirimu padaku, itu berarti bahwa kau mengajakku berbagi harmoni. Entah itu harmoni rasa, entah itu harmoni jiwa.
Kau begitu pandai tersenyum. Sampai-sampai aku berfikir bahwa senyum telah menjadi seluruh asamu. Sungguh kau sangat lihai mengukir senyuman. Apakah memang kau terlahir dengan senyuman, atau kau terlahir sebagai senyuman? Atau bagaimana bila aku memanggilmu dewi senyuman dinda?
Tapi tampaknya kau memang begitu mengerti tentang arti sebuah senyuman dinda? Kau begitu faham bahwa begitu banyak hal, bahkan mungkin semua, dapat diluruskan dengan sedikit lengkungan di sudut bibirmu.
Aku mulai belajar tersenyum dari dirimu dinda. Meski bibirku tak seindah bibirmu. Meski senyumku tak semanis senyummu.
Maukah kau mengajariku tersenyum?
Kau mengerti tentang keikhlasan dinda?
Keikhlasan bermuara pada satu titik, dimana ego diri dan keangkuhan tidak lagi memiliki eksistensi. Tentu engkau meragu dan sangsi akan hal ini.
Tapi aku sangat yakin dengan hal ini. Bila ego dirimu merontokkan sayap hak milik dan klaim kebenarannya, bila keangkuhanmu menanggalkan jubah kesombongan dan kecongkakannya, maka kau akan hadir dengan telanjang di hadapan diri-Nya dalam kesendirian, kesunyian, kebisuan dan keheningan wujud-Nya.
Kau faham dengan maksudku, dinda? Kalau tidak, maka ambillah cermin dan tataplah lekat pada senyum yang kau ukir, di sana terpatri keikhlasan.
Apakah kau sadar, dinda?
Senyummu telah meluluhlantakkan ego diri dan keangkuhan.
Tahukah engkau tentang keheningan dinda?
Jangan kau menganggap aku mengerti tentang semua ini? Tidak, aku hanya belajar dari senyummu. Senyummu mengabarkan padaku bahwa keheningan tidak terdapat pada situasi dan suasana alam yang harmonis dan dunia yang tanpa suara.
Keheningan terhampar pada padang kebeningan jiwa yang dipenuhi hijaunya rumput keikhlasan dan keteduhan hitamnya bayang pohon kerelaan. Semilir sejuk angin kekhusyukan dan gemericik air pengorbanan menjadi musik yang berdenting lirih di pangkuan-Nya.
Tapi dinda, sungguh sulit membedakan suara suara hati nurani yang hening dan bening dengan bisik nafsu yang ramai, ribut dan meracau tanpa ujung pangkal. Namun lagi-lagi aku belajar dari senyummu, bahwa suara hati nurani akan terdengar jernih bila kita dapat menyusup kedalam taman kesunyian dan lolos dari pelukan dan dekapan tangan-tangan nafsu yang kekar.
Dinda . . . . .
¬¬¬¬¬Dalam rangkaian kata kataku ini aku cuma mau menyampaikan satu hal. Senyummu kemarin manis sekali kulihat. Lebih manis dari sebelumnya. Kau tahu kenapa? Itu karena hari itu, wajahmu tidak hanya dihiasi senyum, tapi wajahmu dilengkapi dengan berbagai makna hidup.
Ternyata kau menyimpan khasanah keindahan lain dari wajahmu dinda. Mungkin sebuah anugerah buatku, bisa mencandra anugrah tuhan. Ini diakibatkan oleh penampilanmu yang berbeda. Jilbab yang membalut kepalamu lebih bersahaja kali ini sehingga wajahmu ibarat purnama.
Kau tahu? Kau menjadi makin manis karenanya.
Dinda, aku berharap dapat melihatmu terus jilbab.
Dinda . . . . .
Jangan bertanya apapun padaku. Aku sedang berusaha mengosongkan jiwaku dari ego diri dan keserakahan. Semua ini kulakukan agar aku bisa memahami, mengerti dan mencintai orang lain.
Aku ingin kembali pada diriku yang pemalu.
Bukankah rasa malu merupakan sabuk pengaman bagi sebuah silaturahmi?
Bagaimana senyummu dinda?
Ingin lebih banyak aku bertanya padamu, setelah sekian hari lamanya aku tak berjumpa, tentu senyummu masih seindah dulu bukan? Oh ya, bolehkan aku meminta sesuatu padamu? Aku penasaran dengan wajahmu bila cemberut. Apa mungkin kau akan lebih manis bila cemberut? Apa mungkin kau akan lebih menarik bila merajuk?
Terkadang aku merasa, kau begitu manja hingga aku menjadi kaget dalam bersikap terhadapmu. Jangan memaksaku menunjukkan bahwa antara kita ada jejaring rasa yang tersulam diam-diam dalam hening dan beningnya hati, bahwa antara kita ada rajutan emosi yang mulai mengkristal dan memintal menjadi temali kukuh dan mengikat jiwa.
Aku takut dengan jejaring dan rajutan itu, ini mungkin sebongkah kebodohan. Tapi bagiku, ini penting untuk kusampaikan sebagai sebentuk keberanian untuk mengakui kekeliruan, kalau ini memang kekeliruan, terutama pada diri sendiri.
Dinda, aku takut kehilangan senyummu.
Dinda . . . . .
Seribu langkah menuju cinta tidak akan terasa. Karena cinta akan mengimpaskannya.
Ada yang harus kau tau dinda,
Kau miliki makna tersediri bagiku,
Tahukah engkau tentang kedalaman makna ?
Baiklah simaklah baik-baik.
Kedalaman makna akan kau gapai bila kau menjalani hidup dengan sederhana. Karena kesederhanaan adalah cermin yang begitu bening, karena kesederhanaan adalah ruang yang begitu hening.
Peritiga malam menjelang shubuh,
Lama aku merangkai kata-kata ini untukmu dinda.
Terus terang aku sengaja melakukannya, aku takut pada diriku sendiri. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya. Bahwa ada jejaring dan rajutan yang mempertautkan kita. Aku sadar, jejaring dan rajutan itu adalah sebongkah cinta. Tetapi jejaring itu telah menjeratku begitu kuat, rajutan itu menyeretku begitu jauh, memaksaku untuk memilikimu.
¬Bukankah cinta tidaklah berarti harus memiliki?
Bukankah cinta tidaklah sebuah janji untuk saling mengikat?
Bukankah cinta tidaklah sebuah akad untuk saling memiliki?
Tapi aku rasa tak bisa melepaskan diri. Makanya aku tak menghubungimu.
Dinda,...
Hari ini aku begitu gelisah, tahukah kau kalau dalam tidur siangku aku bermimpi tentangmu. Kau hadir dengan senyummu yang termanis dalam balutan jilbabmu yang bersahaja, begitu indah.
Tapi sungguh, semua itu membuat aku sakit. Kuingin senyum itu untukku, bukan untuk yang lain.
Aku tak ingin kehilangan segalanya, kalaupun bahkan aku mulai kehilangan kata. Mungkin kalimat ini adalah baris terakhir yang kutulis diam-diam untukmu, diantara sekian banyak kalimat yang masih kusimpan dan tak pernah tercurah sedikitpun padamu.
Dindaku, aku merindui kamu.
Palangkaraya, 19 Agustus 2008
Kerja Gila Kaum Muda Untuk Kebangkitan Indonesia
Sebuah ikhtiar melawan lupa dari sebuah negeri yang disebut-sebut mengidap penyakit akut amnesia….. (I:BOEKOE)
Tim kerja -Kronik Kebangkitan Indonesia- , yang bekerja di bawah naungan Indonesia Buku (I:BOEKOE) telah meluncurkan hasil kerja raksasanya bulan Mei lalu , Kerja keras belasan anak muda berusia di bawah 25 tahun selama 1,5 tahun kini telah berbuah 21 buku dengan ketebalan 1.7 meter. Tim Kerja I:BOEKOE juga menggarap riset dan penulisan intensif Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Tanah Air Bahasa : Seratus Jejak Pers Indonesia, Seabad Pers Perempuan (1908-2008).
Hebatnya lagi 2 orang dari tim kerja ini yakni Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan secara berbarengan juga menggarap proyek mereka berdua berupa 3 buku dasyat Trilogi Lekra Tidak Membakar Buku. Buku-buku itu adalah Lekra Tak Membakar Buku : Suara Senyap Lembar kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, Gugur Merah : Sehimpunan Puisi Harian Rakjat-Lekra dan Laporan dari Bawah : Sehimpunan Cerita Pendek Harian Rakjat –Lekra. Coba simak di dalam Lekra Tidak Membakar Buku kedua anak muda ini melakukan liputan menyeluruh yang diriset dari sekitar 15 ribu artikel kebudayaan yang terserak.
Bila saya sempat menulis 2008 : Tahun Emas Penemuan Sejarah Nusantara dan Sejarah Indonesia : Dasawarsa Emas Pembongkaran Pemalsuan Sejarah (2000-2010) maka untuk anak-anak muda inilah penghargaaan tertinggi saya berikan. Salute!
dirgahayu kaum muda!!
Label: kaum muda, kepemudaan, kerja gila, pemuda, peran pemuda, revolusioner, tantangan
Kumpulan Studi Empirik Prasangka dalam Berbagai Aspek Kehidupan Orang Indonesia.
1. Ilustrasi
Tahun 1989 selagi mahasiswa saya sempat mengikuti sebuah penelitian di Kalimantan dan mendapatkan briefing dari peneliti senior di Perguruan Tinggi di Banjarmasin . Setelah briefing usai, Cantika, mahasiswi asal Banjar yang juga terlibat dalam penelitian mengajak Saya dengan berkata Kang , mari main kelamin saya! Saya karuan saja rikuh. Pikir saya gila juga nih mahasiswi, baru aja kenal udah ngajajak yang macam-macam . Membaca bahasa tubuh saya yang keGeEran , Cantika langsung menimpali Wee jangan berpikir yang bukan-bukan, ya maksud saya ayo main ke kamar (lamin=kamar) kos saya untuk ambil sejumlah buku.
Tahun 1997 di ruang training , saya membaca name tag seorang peserta tertulis Endang Kosasih kemudian mengajak bicara dalam bahasa Sunda. Kumaha Pak Endang, damang yeuh, tos kagungan putra sabaraha? Parantos lami didamel di dieu ? Ia hanya mendapatkan jawaban diam dan mata melongo dari peserta. Saat saya bertanya kenapa kok bengong pak ¿ . Jawab peserta tersebut Maaf pak, nama saya Endang Kosasih-memang nama Sunda, marga Saya Sembiring Meliala, ayah saya punya sahabat yang dikaguminya ,berhnama Endang Kosasih orang Sunda dan memberi nama itu pada saya.
Saat pertama kali ke Aceh pasca amuk samudra, Maret 2005 begitu turun di Bandara Blang Bintang dengan wajah sangar , tubuh denan dada dibusungkan dan tangan bertenaga sejumlah pria menahan saya (belakangan diketahui orang ini anggota GAM) dan mengajukan pertanyaan , Siapa Nama . Saya menjawab lantang Nama saya Asep Haerul Gani. Si penanya , bertanya lagi, Orang Sunda , ya dari daerah Kartosuwiryo. Saya jawab Betul sekali, saya orang Sunda dari daerah Garut, Kartosuwiryo dari daerah Limbangan Garut sama dengan saya. Para penanya ini herannya malah melemah dan memberi isyarat kepada temannya untuk mempersilakan saya mendapatkan mobil sewaan. Masih teringat saja si penanya berkata lirih Anda seperjuangan dengan Saya, Kita di Aceh menghargai Pak Kartosuwiryo teman seperjuangan Teuku Daud Beureh. Selama bepergian ke Aceh aman-aman saja . Berbeda dengan pengalaman teman-teman saya yang justru kena palak berkali-kali karena gara-gara namanya dikaitkan dengan nama sang tokoh orde baru.
2. Prasangka dalam kehidupan manusia
PRASANGKA adalah tema utama dari tiga cerita di atas . Masih banyak cerita-cerita lainnya yang saya alami yang bila ditarik benang merahnya bertemakan prasangka. Saking banyaknya cerita-cerita dalam hidup saya yang bertema Prasangka, sampai-sampai saya menduga betapa tidak mudah menjadi orang yang merdeka dari prasangka.
Prasangka adalah praduga yang bisa berkonotasi positif atau negatif trhadap suatu objek. Prasangka dalam bahasa Arab adalah dzan. Prasangka yang berkonotasi positif disebut dengan husnuzhan sedangkan prasangka yang berkonotasi negatif diistilahkan Suudzhon. Prasangka adalah fenomena persepsi. Kita menerima informasi mengenai objek lalu mempersepsikannya. Persepsi kita tentang sesuatu sangat tergantung seberapa banyak informasi yang anda peroleh tentangnya. Informasi yang sedikit dan hanya satu sisi tentu saja akan menyebabkan persepsi seseorang terhadap sesuatu mengalami bias. Semakin bias sebuah informasi, maka prasangka pun semakin menjadi.
Manusia terbelenggu dalam prasangka sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Manusia tidak bebas dari prasangka sejak lahir dari liang rahim hingga masuk liang kubur. Manusia bisa berprasangka terhadap apapun mulai dari makanan yang dimakan, pakaian yang disandang, peralatan yang diiklankan di TV, Berita yang tertulis di surat kabar, kendaraan yang ditumpangi, buku yang dibaca hingga tokoh yang naik daun. Objek prasangka bisa hal biasa yang dipandang nista hingga hal yang luhur dipandang agung . Manusia bisa berprasangka terhadap Nama, Gelar, Jabatan, Pekerjaan. Manusia pun bisa berprasangka terhadap pakaian yang anda kenakan, kelompok tempat anda berafiliasi, rekan-rekan yang menjadi sahabat anda bahkan pada aktifitas keagamaan yang anda geluti.
Meskipun prasangka pada awalnya maknanya adalah netral, bisa positif juga negatif, dalam sejumlah kajian psikologi seakan kata prasangka terjadi penyempitan makna. Prasangka cenderung dimaknai dengan praduga yang berkonotasi negatif terhadap objek tertentu diakibatkan oleh bias karena kurang lengkapnya informasi, dan semakin diperparah dengan adanya penilaian yang negatif dan merendahkan terhadap objek/kelompok yang bukan bagian dari identitas diri..
Di masyarakat yang multi etnik, ragam kultur, aneka bahasa, macam agama dan keyakinan ini peluang anda untuk terpancing prasangka negatif terhadap orang lain cukup besar. Prasangka negatif ini dalam beberapa hal mungkin hanya memicu kelucuan saja, namun dalam tingkat yang lebih parah bisa memicu perkelahian, pembunuhan massal hingga penghapusan etnik tertentu (genocide).
3. Buku Psikologi Prasangka Orang Indonesia
Buku yang terdiri dari 8 Bab, 206 halaman ini membahas mengenai Prasangka. Meskipun buku ini tidak mengurai lengkap seluruh prasangka yang mungkin diungkap, paling tidak buku ini memenuhi keperluan pembaca yangingin memahami fenomena prasangka.
Mas Ito, nama biasa ia dipanggil oleh mahasiswa, menjelaskan alasan penerbitan buku ini. Buku ini adalah buku yang mencoba merangkum temuan-temuan penelitian dari tugas kuliah, skripsi, tesis dan disertasi tentang prasangka. Di Bab II, dengan cara ngepop mas Ito menguraikan teori dari belahan Barat dan Timur mengenai prasangka.
Di Bab III hingga Bab VII Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono ini berupaya menyajikan fenomena-fenomena prasangka di Indonesia.
Di Bab III Anda akan menemukan beragam teori yang diungkapkan sejumlah peneliti terhadap kasus-kasus prasangka Etnik. Anda akan membaca bagaimana prasangka orang Papua terhadap karyawan Freeport, prasangka etnik dalam perkawinan, dan kerusuhan-kerusuhan yang dipicu oleh prasangka etnik.
Setelah menyusuri Bab IV anda akan senyum dikulum menelusuri bagaimana prasangka terhadap Gender meskipun di bab ini hanya mengutip prasangka terhadap gender perempuan di posisi domestik hingga perempuan di kancah publik, apalagi subjudulnya pun cukup menggelitik dan berprasangka : Dari Ibu Srie ke Ibu Tien.
Di Bab V anda akan temukan bagaimana prasangka juga muncul di kalangan agama atau umat beragama, bahkan Tuhan dipandang sebagai alasan untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan, penghakiman dan pembunuhan oleh sebagian orang.. Anda akan terkesima oleh kutipan seorang yang mengkritik Syiah . Anda akan tercengang oleh cerita seorang Wartawati yang semula mewawancari Jafr Umar Thalib malah kemudian menjadi pengikut setia. Andapun akan galau saat Anda membaca kisah Saefudin , alumni pesantren yang mengajarkan toleransi di Ponorogo Jawa Timur justru terjebak dalam konflik batin menyembunyikan alm. Dr. Azahari dan Noordin M Top.
Di Bab VI yang menguraikan Prasangka Politik dan Agressi anda dapat membaca kisah-kisah kerusuhan yang dipicu oleh prasangka antar umat beragama. Anda seakan diajak kembali menelusuri jejak kasus mulai dari kasus Empok (empat Oktober 1994) Tanjung Priuk hingga berakhir dengan rekonsiliasi dan Kasus kerusuhan Ambon yang juga diwarnai pengguinaan simbol-simbol agama dan kata-kata julukan seperti Obet dan Acan.
Nah Bab VII ini adalah Bab unik. Seperti adegan Goro-Goro pada lakon Wayang Kulit.. , Adegan yang ditampilkannya bisa membuat penonton nyantai sejenak . Ada adegan saru (nyerempet porno), lucu , senyum dan memancing tawa di Bab ini. Setelah anda membaca suasana yang penuh ketegangan, tumpahan darah dan airmata di Bab V dan VI anda akan tersenyum membaca cerita tentang seks, lelucon tentang seks, penelitian tentang seks dan folklore tentang seks. Nama Ma Erot dari Sukabumi pun dimunculkan di bab ini. Bahkan Kartun Jane yang sedang bergelantungan memegang akar Tarzan sehingga Tarzan berteriak Auuuuuooooooooo pun menghiasi halaman bab ini.
Sarlito Wirawan Sarwono memang bukan cerpenis. Namun demikian membaca buku ini tak ubahnya membaca buku kumpulan cerpen seorang cerpenis. Boleh jadi cerita demi cerita tidak disusun berdasarkan urutan atau sistematika tertentu. Anda mempunyai kebebasan membaca dari bab mana. Mulai dari bab manapun anda membaca , tak masalah. Anda akan dibawa hadir masuk ke dalam suasana cerita, bahkan anda merasa seakan menjadi Sang Tokoh sendiri. Percayalah emosi anda pun akan disentuh oleh kenyataan-kenyataan yang dipaparkan pada setiap bab, Ada emosi geram dan kesal. Ada emosi khawatir sedih dan takut. Ada emosi birahi yang menggelegak. Ada pula emosi tawa dan canda.
Di Bab VIII Mas Ito, yang juga peniup Saxophone The Profesor ini berupaya menutup dengan menduga sejumlah hal yang menjadi akar prasangka di Indonesia. Seperti yang diungkap di awal tulisan ini, Mas Ito pun tetap tidak bebas dari prasangka saat menulis dan menutup buku ini.
Buku yang diterbitkan PT. Raja Grafindo Persada, 2006 ini mungkin akan lebih baik bila editor dari penerbit cukup teliti. Ada penulisan dan penomoran yang mengganggu di halaman 165 yang merupakan bagian dari Tabel 7.7. Di tabel 7.7. ini mengurai Sifon, Budaya Sperma dan Nikah Sirri. Bila dibaca teliti sebenarnya mengupas Sifon, Budaya Sprema, Gunung Kemukus dan Nikah Sirri. Editor harusnya menuliskan c. Gunung Kemukus bukan bagian dari Budaya Sperma, tetapi sebagai sub tersendiri, dengan demikian nomor 8-12 di halaman 165 seharusnya menjadi nomor 1-5 di bawah sub Gunung Kemukus.
Hal lainnya adalah tidak ditemukannya nama Hamdi Muluk dalam daftar Pustaka sebanyak 187 itu padahal nama tersebut diulang-ulang dalam teks.
Buku yang di toko buku Gramedia dijual seharga Rp 33.000 ini , paling tidak bisa menjadi acuan pendidik, pengajar, trainer, inspirator, motivator, pekerja sosial, kalangan LSM untuk bisa masuk dan meretas prasangka demi kejayaan Indonesia Raya. Masih jauh jalan menuju sana, bisa jadi. Membaca buku ini dan memahaminya minimal menjadi langkah awal menuju ke tujuan luhur itu.
DATA MENGENAI BUKU
Pengarang : Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono
Tebal : 206 halaman
Penerbit : PT. RajaGrafindo Persada, Rajawali Pers Jakarta
Tahun : 2006
Ukuran : 13,3 X 24,5 cm
Pun Sapun , Ampón Paralun
Salam hangat dari Ciracas
Asep Haerul Gani
Label: prangka, psikologi, psikologi prasangka
Psikologi Dalam Interaksi Sosial (Persepsi)
0 komentar Diposting oleh bang_ Ahmadi_ N' friend's di 10.20Pengertian
· Pengertian interaksi sosial menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok, maupun antara orang perorangan dengan kelompok. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi.
· Interaksi sosial tidak selalu ditandai dengan mengadakan kontak muka atau berbicara, tetapi interaksi sosial bisa terjadi manakala masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan orang-orang yang bersangkutan, yang disebabkan misalnya karena bau minyak wangi. Hal itu bisa menimbulkan kesan di dalam fikiran seseorang, yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya.
· Interkasi yang terjadi antar kelompok-kelompok manusia, misalnya pada tawuran antar pelajar satu sekolah dengan sekolah lain, peperangan antar etnis, pertikaian kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain, pertemuan para senat mahasiswa perguruan tinggi se Indonesia, pertemuan perguruan tinggi dengan pemerintah daerah setempat dll.
· Interaksi yang terjadi antar orang perorangan dengan kelompok, misalnya interaksi dosen dengan mahasiswanya di dalam kelas, interaksi seorang pembicara dalam seminar dengan peserta seminar dll.
Syarat-syarat terjadinya interkasi sosial
Interaksi sosial terjadi setidaknya memenuhi dua syarat :
1. Adanya kontak sosial
Secara fisik kontak sosial bisa berarti sebagai kontak yang terjadi hubungan badaniah; sementara sebagai gejala sosial tidak perlu adanya hubungan badaniah, oleh karena seseorang dapat mengadakan hubungan dengan fihak lain tanpa menyentuhnya. Misalnya seseorang yang berbicara melalui telepon, e-mail, surat, radio dll. Bahkan dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat adanya kontak. Jadi kontak merupakan tahap pertama terjadinya interaksi sosial. Kontak terjadi misalnya kontak antara suatu pasukan dengan pasukan musuh. Ini berarti bahwa masing-masing pihak telah mengetahui dan sadar akan kedudukan masing-masing dan siap untuk bertempur (yang biasanya disebut kontak bersenjata)
Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu :
(1) antara orang perorangan, misalnya apabila anak kecil diajarkan oleh orang tuanya mengenai sopan santun, kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya; dua orang saling berbicara dll.
(2) Antara orang perorangan dengan suatu kelompok atau sebaliknya.
Misalnya ketua partai politik menyuruh para anggota-anggota paartainya untuk menyesuaikan diri dengan ideologi/program partai
(3) Antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya.
Misalnya dua atau lebih partai politik berkoalisi untuk mengalahkan partai politik yang lain.
Selain itu suatu kontak dapat pula bersifat primer dan sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, seperti misalnya apabila orang-orang tersebut berjabat tangan, saling senyum dll. Sebaliknya kontak sekunder memerlukan perantara. Misalnya A berkata kepada B, bahwa C mengagumi kepintarannya bermain catur. A sama sekali tidak bertemu dengan C akan tetapi terjadi kontak antara mereka, karena masing-masing memberi tanggapan, walaupun dengan perantaraan B. Hubungan sekunder misalnya bisa dilakukan juga melalui telepon, radio, e-mail dll. Akan tetapi apabila A meminta tolong kepada B supaya diperkenalkan dengan gadis C, maka kontak tersebut bersifat sekunder tidak langsung.
2. Adanya komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampian pesan dari komunikator (penyampai) pesan) kepada komunikan (penerima pesan). Komunikasi berlangsung apabila seseorang menyampikan suatu stimulus (rangsang) yang kemudian memeproleh arti tertentu yang dijawab (respon) oleh orang lain.
Komunikasi diartikan bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (bisa berupa pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap); dan perasaan-perasaan apa yang ingin disampikan oleh orang tersebut. Orang tersebut kemudian memberikan respon/reaksi terhadap apa yang disampaikan. Misalnya apabila seorang gadis menerima seikat bunga, secara spontan ia akan mencium bunga tersebut; akan tetapi yang menjadi pertanyaan dari gadis tersebut adalah siapa yang mengirim bunga tersebut, dan apa yang menyebabkan dia mengirimkannya. Apakah bunga tersebut dikirimkan sebagai tanda cinta, perhatian, untuk mendamaikan suatu perselisihan, untuk peringatan hari ulang tahun, untuk memenuhi janji, sebagai tanda simpati atas kesehatan seseoraang dll. Apabila gadis tersebut tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka dia-pun tidak tahu apa yang akan dilakukannya, dan selama itu juga belum terjadi komunikasi.
Dalam komunikasi terjadi pula berbagai macam penafsiran terhadap tingkah laku orang lain. Misalnya seulas senyum bisa ditafsirkan sebagai keramahtamahan, sikap bersahabat. Lirikan bisa ditafsirkan bahwa mungkin orang tersebut tidak senang atau malah sebaliknya menunjukkan ketertarikan.
Dasar Berlangsungnya Interaksi Sosial
Dasar berlangsungnya proses interaksi sosial didasarkan pada berbagai faktor yaitu :
1. Imitasi
Imitasi adalah proses meniru yang menyebabkan terjadinya interaksi sosial.
2. Sugesti
Sugesti adalah proses mempengaruhi dari seseorang kepada orang lain. Prosesnya akan efektif apabila penerima sugesti dalam kedudukan lebih rendah, dalam keadaan mental yang tidak seimbang, atau apabila pemberi sugesti adalah orang yang lebih berwibawa.
3. Identifikasi
Identifikasi adalah kecenderungan untuk menjadi sama dengan orang lain yang menjadi idolanya. Identifikasi sifatnya lebih mendalam dari imitasi, oleh karena kepribadian seseorang dapat terbentuk pada proses ini.
4. Simpati
Simpati merupakan proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Ketertarikan menyebabkan orang cenderung untuk ingin selalu berhubungan.
Hal-hal tersebut di atas merupakan faktor-faktor minimal yang menjadi dasar bagi berlangsungnya proses interaksi sosial, walaupun di dalam kenyataannya proses tadi memang sangat kompleks, sehingga kadang-kadang sulit mengadakan pembedaan tegas antara faktor-faktor tersebut.
Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), pertentangan (conflict). Secara rinci bentuk-bentuk interaksi sosial adalah sebagai berikut :
1. Kerjasama (cooperation)
Kerjasama maerupakan suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerjasa antara lain : bargaining, cooptation, coation, dan joint venture.
(a) Bargaining adalah pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih
(b) Cooptation adalah suatu penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan baru dalam organisasi atau kehidupan politik
(c) Coalition adalah penggabungan dua organisasi atau lebih untuk mencapai tujuan bersama
(d) Joint venture adalah kerjasama dalam pendirian atau penyelesaian proyek-proyek tertentu.
2. Akomodasi
Akomodasi bisa menunjuk sebagai suatu keadaan atau proses. Akomodasi sebagai suatu proses adalah usaha untuk meredakan suatu pertentangan, dalam mencapai kestabilan. Akomodasi sebagai suatu keadaan adalah apabila antara dua kelompok yang saling bertentangan berhenti tidak bertikai, tetapi masih dalam kondisi bertentangan. Bentuk-bentuk akomodasi antara lain :
(a) Coercion (penggunaan paksaan atau kekerasan)
Adalah suatu akomodasi yang prosesnya dilaksanakan secara paksaan, di mana salah satu pihak menguasai pihak lain.
(b) Compromise (kompromi)
Adalah suatu akomodasi di mana pihak-pihak yang berlawanan saling mengurangi tuntutannya dengan mengadakan kesepakatan-kesepakatan (kompromi)
(c) Arbritation (perwasitan)
Adalah penyelesaian melalui pihak ketiga, apabila masing-masing pihak yang bertentangan tidak mampu menyelesaikan sendiri.
(d) Mediation (mediasi)
Penyelesaian sengketa yang menyerupai arbritation, tetapi pihak ketiga hanya sebagai perantara dan tidak mempunyai kewenangan mengambil prakarsa.
(e) Conciliation (konsiliasi)
Adalah usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih, agar tercapai persetujuan bersama.
(f) Toleration (toleransi)
Toleransi merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan bersama. Misalnya toleransi antarumat beragama di Indonesia, masing-masing umat beragama berusaha menghindarkan diri dari perselisihan.
(g) Stalemate (buntu)
Adalah pihak-pihak yang saling bertentangan karena mempunyai kekuatan seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangan. Misalnya perang dingin anatar Amerika-Rusia di masa lalu karena masalah nuklir
(h) Adjudication (keputusan pengadilan)
Adalah penyelesaian perkara atau sengketa melalui pengadilan.
3. Akulturasi
Membicarakan akulturasi lebih tepat dalam kaitannyan dengan perubahan kebudayaan. Akulturasi terjadi apabila suatui kelompok masyarakat dengan kebudayaan tertentu berinteraksi dengan unsur-unsur kebudayaan asing yang dibawa kelompok lain, sehingga lambat laun unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan yang menyerapnya.
4. Asimilasi
Adalah proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaan antara kelompok-kelompok yang berbeda tetapi sudah bergaul cukup lama. Asimilasi ideal apabila kebudayaan-kebudayaan dari kelompok yang berbeda berubah saling menyesuaikan diri.
Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi :
1). Adanya toleransi amsing-masing kelompok
2). Kesempatan dalam bidang ekonomi yang seimbang
3). Sikap saling menghargai kebudayaan amsing-masing
4). Sikap terbuka dan mau bekerja sama
5). Adanya unsur-unsur kebudayaan yang mirip atau memiliki persamaan
6). Antara kelompok yang berbeda terjadi perkawinan
7). Adanya musuh bersama dari luar, sehinggaa menodorng masing-masing kelompok untuk bersatu
Faktor-faktor yang mempersulit terjadinya asimilasi :
1). Perbedaan ciri-ciri fisik badaniah
2). Identitas sosial khas yang terus-menerus dipertahankan
3). Dominasi ekonomi oleh kelompok tertentu
4). Terisolasinya kelompok tertentu dalam suatu kawasan, misalnya kelompok dengan tingkat ekonomi lebih baik menghuni suatu kawasan pemukiman khusus (perumahan elit) akan menyulitkan pembaauran dan asimilasi.
5. Persaingan
Persaingan adalah suatu proses sosial di mana orang perorangan atau kelompok bersaing untuk memperebutkan sesuatu yang jumlahnya terbatas. Persaingan perorangan disebut persaingan pribadi, sedangkan persaingan yang tidak bersifat pribadi merupakan persaingan antar kelompok, misalnya persaingan antara dua perusahaan dalam memperebutkan daerah pemasaran.
6. Pertikaian atau pertentangan
Pertentangan (conflict) adalah usaha menentang pihak lawan dalam mencapai tujuan. Bentuk-bentuk pertentangan antara lain :
1). Pertentangan pribadi
2). Pertentangan rasial
3). Pertentangan antara kelas-kelas sosial
4). Pertentangan politik
5). Pertentangan yang bersifat internasional
Interaksi Sosial dalam Perspektif Teori Interaksionisme Simbolik
Dalam mempelajari interaksi sosial digunakan pendekatan tertentu, yang dikenal dengan nama interactionist perspektive. Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, dijumpai pendekatan yang dikenal dengan nama symbolic interactionism (interaksionisme simbolik). Pendekatan ini bersumber pada pemikiran George Herbert Mead. Dari kata interaksionisme tampak bahwa sasaran pendekatan ini adalah interaksi sosial; sementara kata simbolik mengacu pada penggunaan simbol-simbol dalam interaksi.
Simbol menurut Leslie White didefinisikan sebagai “a thing the value or meaning of which is bestowed upon by those who use it”. Jadi simbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh seseorang (mereka) yang mempergunakannya. Menurut White makna atau nilai tersebut tidak berasal dari atau ditentukan oleh sifat-sifat yang secara instrinsik terdapat di dalam bentuk fisiknya. Makna suatu simbol, menurut White hanya dapat ditangkap melalui cara-cara non sensoris; melalui cara-cara simbolis. Misalnya : makna suatu warna tergantung mereka yang mempergunakannya. Warna merah, misalnya dapat berarti berani (dalam bendera kita merah berarti berani, putih suci); namun dapat pula berarti komunis (kaum merah); dapat pula berarti tempat pelacuran (daerah lampu merah). Warna putih berarti suci; dapat pula berarti berkabung; dapat pula berarti menyerah.
Makna-makna tersebut tidak dapat ditangkap dengan panca indera; sebagaimana dikemukakan oleh White bahwa makna-makna tersebut tidak ada kaitannya dengan sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat pada warna. Hal yang sama misalnya, air atau benda lain yang dianggap suci. Kesucian hewan tertentu (misalnya sapi bagi orang India), atau benda lain (seperti air, patung) tergantung pada makna yang diberikan oleh pihak yang menggunakannya. Jadi kesucian suatu benda tidak ada hubungannya dengan sifat-sifat intrinsik yang melekat pada benda tersebut.
Herbert Blumer salah seorang penganut pemikiran Mead, berusaha menjabarkan pemikiran Mead mengenai interaksionisme simbolis. Menurut Blumer pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga :
(1) Pertama manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. Dengan demikian tindakan (act) seorang penganut agama Hindu di India terhadap seekor sapi (thing) akan berbeda dengan tindakan seseorang penganut agama Islam di Pakistan, karena masing-masing orang tersebut – memiliki makna (meaning) yang berlainan terhadap sapi.
(2) Kedua Blumer mengemukakan bahwa makna yang dipunyai sesuatu tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya. Mengapa dalam masyarakat kita warna merah bermakna berani, dan putih suci? Mengapa orang yang ideologinya radikal sering disebut kiri? Makna yang diberikan orang pada konsep-konsep merah, putih, kanan, kiri ini muncul dari interkasi sosial, Keberanian tidak melekat pada warna merah (sebagai telah disebutkan, dalam konteks warna merah dapat pula diartikan sebagai komunisme atau tempat pelacuran) dan pandangan ideologis pun tidak ada kaitannya dengan arah kiri atau kanan.
(3) Ketiga Blumer mengemukakan bahwa makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative process), yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Yang hendak ditekankan Blumer di sini ialah bahwa makna yang muncul dari interaksi tersebut tidak begitu saja diterima oleh seseorang melainkan ditafsirkan terlebih dahulu. Apakah seseorang akan menanggapi dengan baik ucapan “selamat pagi” atau assalamualaikum, tergantung pada penafsirannya apakah si pemberi salam tersebut beritikad baik ataukah beritikad buruk.
Definisi Situasi
Konsep lain yang juga penting diperhatikan dalam pembahasan mengenai interkasi sosial ialah konsep definisi situasi (the definitiation of the situation) dari William Isac Thomas (1968). Berbeda dengan pandangan yang mengatakan bahwa interkasi manusia merupakan pemberian tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus), maka menurut Thomas seseorang tidak segera memberikan reaksi manakala ia mendapat rangsangan dari luar. Menurutnya tindakan seseorang selalu didahului suatu tahap penilaian dan pertimbangan; rangsangan dari luar diseleksi melalui proses yang dinamakannya definisi atau penafsiran situasi. Dalam proses ini orang yang bersangkutan memberi makna pada rangsangan yang diterimanya itu. Misalnya dalam proses ini orang yang memberi salam, maka rangsangan yang berupa ucapan “selamat pagi” diseleksi dan diberi makna. Bila menurut definisi situasi seorang gadis ucapan “selamat pagi” dari seorang pria yang belum dikenalnya tidak dilandasi itikad baik, ia akan cenderung memberikan reaksi berupa tindakan yang sesuai dengan penafsirannya-misalnya mengabaikan salam tersebut.
Dalam kaitannya dengan definisi situasi ini, Thomas terkenal karena ungakpannya : “when men define situations as real, they are real in the consequnces” – bila orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekuensinya nyata. Yang dimaksudkannya di sini ialah bahwa definisi situasi yang dibuat orang akan membawa konskeunsi nyata.
Thomas membedakan antara dua macam definisi situasi : definisi situasi yang dibuat secara spontan oleh individu, dan definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat (definisi situasi yang mengatur interaksi manusia). Definisi situasi dibuat oleh masyarakat – keluarga, teman, komunitas. Thomas melihat adanya persaingan antara kedua macam definisi situasi tersebut. Menurutnya moralitas yang berwujud aturan atau hukum muncul untuk mengatur kepentingan pribadi agar tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

