Selamat Datang Di Blogger AHMADI unTUk bUMI.....

Mari Menatap Pagi.....
Seraya Berucap....
Selamat Pagi bUMI.....
Aku Ada Karena Kau Ada....

Wahai Calon Pemimpin Besar.... Bersahabatlah Engkau Dengan Malam Dan Siang..... Karena Apapun Yang Engkau Miliki hari Ini.... Tidak Akan Cukup Untuk Mengubah Dunia..... Apalagi Melukis Langit Dengan Indah.....

Krisis Ekonomi Politik Indonesia Ditinjau Dari Sistem Perkebunan Skala Besar

Disajikan oleh Badan Persiapan Pembentukan Nasional

Serikat Petani Kelapa Sawit (BPPN- SPKS)

Bagian Kedua


Akar Persoalannya Adalah Sistem Perkebunan Skala Besar

Sistem perkebunan skala besar hari ini tidak terlepas dari sejarah
kolonialisme di Nusantara ditandai dengan komersialisasi komoditas yang laku
dipasaran dunia oleh portugis, spanyol dan terakhir adalah kolonial belanda,
sistem ini masih mewarisi sistem politik usang yang mengandalkan monopoli
atas tanah ( sistem ekonomi politik feodal) dengan menjadikan pemilik
perkebunan sebagai tuan tanah yang memonopoli penguasaan tanah yang sangat
luas, serta mengendalikan kekuasaan politik diwilayah tersebut dengan
tersedianya buruh yang banyak dengan upah yang rendah merupakan syarat pokok
dari beroperasinya sistem ini. Disamping itu syarat-syarat lain yang harus
tersedia agar lebih lancar seperti kebijakan pemerintah, tekhnologi,
birokrasi yang bisa dikontrol secara efektif, manajemen modern dan lain
sebagainya. Untuk memperoleh syarat tersebut perusahaan tidak segan-segan
menggunakan cara-cara yang melanggar nilai kemanusiaan. Pemenuhan
syarat-syarat tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar bagi kehidupan
masyarakat, dimana tanah dan kekayaan alam yang selama ini menjadi sumber
hidup dan kehidupan masyarakat terampas dengan hadirnya sistem tersebut.

Dalam relasi produksinya perkebunan besar menggunakan sistem kapitalisme
dengan mempekerjakan buruh yang dibayar dengan uang. Sementara pemenuhan
kebutuhan sangat berorientasi pasar dengan upaya pemenuhan komsumsi
negara-negara barat sementara kebutuhan ditingkat rakyat bukan menjadi
tujuan utama pembangunan perkebunan sawit. Hal ini yang sangat dirasakan
oleh petani sawit saat ini dengan terpuruknya harga TBS karena tidak
tersedianya industri pengolahan dan turunan CPO dalam negeri berdasarkan
kebutuhan rakyat indonesia.

Maka secara sederhana ekonomi politik perkebunan skala besar menjadikan
majikan didalam pemilik perusahaan perkebunan merupakan tuan tanah "tipe
baru" baik yang dijalankan oleh perusahaan swasta maupun perusahaan negara.
Istilah tuan tanah "tipe baru" digunakan karena perusahaan perkebunan
menguasai tanah yang sangat luas, dia tidak bekerja ditanah tersebut secara
langsung dan hasilnya sangat berlebih yang diambil dari penindasan dan
penghisapan terhadap kaum buruh dan petani berupa nilai lebih dengan
mengambil waktu dan hasil kerja kaum buruh, serta produk lebih dengan
mengambil hasil produksi yang dari petani kelapa sawit (monopoli proses
budidaya dan monopoli hasil produksinya) . Jadi, tuan tanah "tipe baru" dalam
relasi produksi didalam sistem perkebunan skala besar merupakan pihak yang
paling diuntungkan oleh sistem ini dan petani sawit hanya menjadi objek
hisapan untuk pemenuhan kebutuhan TBS.

Struktur sosial yang ada di perkebunan sawit yaitu terdiri dari 1).Tuan
tanah tipe baru atau perusahaan yang memonopoli tanah 2). petani sawit (
plasma yang di bagi dalam 3 kategori yaitu buruh tani, petani plasma, dan
petani bertanah / non sawit, 3) dan buruh industri merupakan sistem sosial
yang ada di perkebunan sawit hari ini. Apabila dilihat dari sudut
kepentingannya jelas yang paling berkepentingan adalah pihak perusahaan
perkebunan karena mereka yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari
sistem tersebut. Disusul oleh elit - elit yang menjadi parasit yang
diuntungkan oleh sistem tersebut. Sedangkan buruh kebun / tani, petani
plasma, buruh industri perkebunan merupakan pihak yang hadir dipaksa oleh
sistem tersebut dan keadaan saat ini sudah menjadi bagian yang terlanjur
berada dalam lingkaran sistem perkebunan skala besar dan masyarakat lain
terutama petani non plasma / non sawit merupakan pihak yang tidak terlalu
berkepentingan terhadap sistem tersebut karena tidak memiliki relasi
langsung terhadap sistem perkebunan tersebut, namun demikian sebagai bagian
kolektif kaum tani, masyarakat adat dan masyarakat pedesaan pada umumnya
memiliki nasib yang sama yakni terancam tanahnya untuk perluasan perkebunan
ataupun dihambatnya proses produksi (budidaya).

Harga TBS yang anjlok hari ini tidak terlepas pada penerapan sistem ekonomi
politik perkebunan skala besar yang masih dijaga oleh pemodal dan birokrasi
yang mengabdikan diri kepada kaum imprealisme yang mencirikan beberapa hal
yang di praktekan dalam sistem perkebunan skala besar ini diantaranya:

Pertama mengandalkan kosentrasi produksi dan monopoli dalam hal ini areal
perkebunan sawit dikonsentrasikan dalam satuan wilayah yang sangat luas dan
hanya dimonopoli oleh pemain besar ( Wilmar, Sinarmas, Golden
Hope/SimeDarby, Asian Agri, Astra Agro ) mereka kemudian membentuk
holding-holding pada perusahan induk dan melakukan merger dengan berbagai
jalan, yaitu: menjadi anggota dalam cabang industri yang sama, hanya
terlibat dalam berbagai pemrosesan bahan mentah, produsen untuk bahan mentah
dan perantara bagi produk tertentu misalnya dengan unilever, nestle,
catburry, Cargill, Arnott, Cognis dan Procter & Gamble yang merupakan
produsen bahan makanan yang berasal dari CPO, terlibat dalam berbagai lini
produksi namun berada dibawah satu korporasi, misalnya saja Sinarmas yang
juga melakukan produksi diluar dari bisnis minyak sawit, Astra Agro yang
mempunyai bisnis otomotif yang sangat terkenal.

Kedua adalah capital finance (uang) dimana bank kemudian merubah fungsinya
dari hanya sekedar mediator dalam penjualan kemudian mulai masuk pada
kegiatan produksi dimana uang didistribusikan oleh bank melaui pinjaman
untuk kegiatan produksi sehingga fungsinya menjadi aktif bahkan sinarmas
memiliki bank sendiri untuk mengakumulasi keuntungannya. Yang paling gress
adalah ternyata FED (Bank Central Amerika) adalah perusahaan milik swasta
yang terdiri dari beberapa bank sentral termasuk lehman brother yang
bangkrut akibat kredit perumahan yang macet (subprime mortgage) dan juga
oleh milik 300 orang pribadi yang sangat powerfull yang bisa seenaknya bisa
mencetak US Dollar tanpa jaminan emas murni satu gram pun[1]. Selain itu IMF
melaui cabang bisnisnya IFC (International Finance Corporation) juga
menyalurkan kredit kepada kelompok wilmar group dalam melakukan investasi di
sector industri sawit ini, selain itu bank -bank swasta seperti HSBC, AMRO
Bank, Rabbo Bank, Standar Charter Bank merupakan nama-nama Bank yang aktif
dalam memberikan kredit untuk perkebunan.

Ketiga adalah eksport capital, dimana eksport capital berkembag dari hasil
akumulasi capital. Agar tidak terjadi krisis over-produksi karena surplus
kapital, maka mereka mengeksportnya ke luar negeri. Alasan utamanya adalah
untuk memproteksi dan menambah pendapatan mereka dan rata-rata keuntungan.
Sasaran dari eksport kapital adalah negara-negara yang terjajah dan setengah
jajahan termasuk Indonesia, ini adalah praktek baru dari kolonialisme atau
disebut juga dengan neo-kolonialisme. Ekspor capital di negara terjajah dan
setengah-jajahan diarahkan pada pembangunan berbagai macam cabang industri
yang melayani kepentingan negara-negara imperialis (industri ini utamanya
dalah industri manufaktur, pengepakan ekspor bahan mentah dan pertanian,
atau industri sekunder yang menyediakan barang konsumsi). Misalnya saja Bank
Dunia (Wold Bank) memberikan pinjaman kepada pemerintah Indonesia setelah
investasi terhadap sektor kayu, tambang kini investasi utang yang merupakan
rekayasa lembaga keuangan international bergerak ke isu perkebunan dalam
kerangka program revitalisasi perkebunan yang dicanangkan tahun 2007 dengan
komoditas utama adalah sawit (unggulan), kemudian karet dan kakao. Untuk
memperoleh keuntungan tentunya mereka akan mendikte pemerintah melaui
politik dan ekonomi negara penerima kredit untuk menerbitkan undang-undang
yang berpihak pada kepentingan modal semisal, UU Perkebunan tahun 2003,
UUPMA tahun 2007, kepmentan no. 21 Tahun 2007 dan inpres tentang biofuel.

Pertanyaan selanjutnya mengapa eksport CPO Indonesia terganggu yang
mangakibatkan turunya harga TBS bagi petani sawit, padahal sesunguhnya
negara tujuan eksport CPO Indonesia ke negara India, Belanda dan China ?
jawabanya karena akumulasi capital berasal dari Negara imprealis pimpinan
Amerika, sehingga gejolak yang terjadi di Amerika langsung menghantam telak
pasar eksport diseluruh dunia termasuk Indonesia yang mengorbankan petani
sawit.

Darimana Memulai Melakukan Pembaharuan Sistem Perkebunan Skala Besar Kelapa
Sawit ?

Pertanyaan klise bagi yang sedang berjuang untuk mewujudkan keadilan,
kesejahteraan dan demokrasi termasuk berjuang untuk Pembaharuan Sistem
Perkebunan Skala Besar Kelapa Sawit. Dan, jawaban yang harus dibuat tidak
sebatas sederet pengertian teoritik namun yang terpenting mampu menjadi
pisau tajam yang dapat membabat ilalang dalam membuka jalan perintisan.
Sebab, pertanyaan yang diajukan diatas mengajak kita untuk memahami posisi,
kedudukan dan tahap kerja yang sedang kita lakukan. Dengan mengerti akan
letak proses kerja kita maka setapak langkah yang akan kita lakukan menjadi
sangat bermakna bagi langkah - langkah kedepan yang masih terbentang panjang
menantang, penuh liku dan ranjau.

Berlandaskan pada kondisi kongkrit struktur sosial diwilayah sekitar
Perkebunan Skala Besar Kelapa Sawit maka kita dapat menentukan dimana titik
memulai kerja pembaharuan sistem tersebut kedalam sistem yang adil,
sejahtera dan demokratis. Dengan meletakkan dan mendudukkan elemen yang
paling dirugikan (baca: korban) oleh sistem sebagai aktor pembaharuannya.
Karena, korban merupakan elemen yang memiliki segi hari depan setelah sistem
tersebut diperbaharui, dimana cita - citanya kedepan korban menjadi aktor
yang akan memegang peranan pokok dalam sistem perkebunan yakni berkedudukan
sama dengan Perusahaan Perkebunan atau bahkan berkedudukan lebih tinggi dari
perusahaan. Dengan demikian, berdasarkan susunan struktur sosoial didalam
wilayah perkebunan maka buruh tani / kebun, petani plasma, buruh industri
perkebunan merupakan pihak yang paling dirugikan (korban) oleh sistem
perkebunan besar kelapa sawit. Sedangkan petani non plasma / non sawit
keadaannya tidak stabil dengan adanya sistem tersebut, dimana elemen ini
merupakan elemen yang terancam oleh sistem perkebunan skala besar kelapa
sawit karena sistem tersebut dengan watak dasarnya monopoli akan melakukan
perluasan secara terus menurus. Sedangkan, elite birokrasi, elite politik,
preman maupun tokoh - tokoh informal (tokoh yang sudah dibeli) merupakan
pihak yang harus diwaspadai, sebab elemen tersebut merupakan elemen parasit
yang diuntungkan oleh sistem perkebunan skala besar kelapa sawit sementara
pemilik perusahaan perkebunan (Tuan Tanah "Tipe Baru") merupakan pihak yang
mengambil keuntungan paling besar didalam Sistem Perkebunan Skala Besar
Kelapa Sawit dengan merampas dan mengancam tanah - tanah petani, menindas
dan menghisap buruh, serta merusak tatanan sosial dan kebudayaan masyarakat.

Dengan demikian, langkah yang seharusnya kita lakukan menjadikan buruh tani
/ kebun, petani plasma dan buruh industri perkebunan sebagai kekuatan pokok
dalam mewujudkan pembaharuan sistem perkebunan skala besar. Walaupun
kelihatan ada pertentangan antara buruh tani / kebun disatu sisi dan disisi
lain petani plasma, disisi lain juga ada buruh industri perkebunan namun
sesungguhnya pertentangan tersebut bukan pertentangan yang pokok maupun
pertentangan yang mendasar serta tidak memiliki sifat - sifat pertentangan
yang bisa saling meniadakan kalau penanganan terhadap pertentangan tersebut
dengan tepat. Namun jika didalam menangani pertentangan tidak tepat maka
bisa dimanfaatkan oleh pihak yang justru menjadi lawan utama yakni
Perusahaan Perkebunan beserta antek - anteknya seperti kejadian yang kita
rasakan saat ini, dimana buruh kebun dan buruh industri perkebunan digunakan
oleh perusahaan untuk berhadapan dengan Petani Plasma. Bahwa dengan
pendekatan sama - sama korban akan mampu menyatukan Buruh Tani / Kebun,
Petani Plasma dan Buruh Industri Perkebunan kedalam satu barisan yang kokoh
dan kuat. Kemudian, dengan menitik tekankan perjuangan berdasarkan
kepentingan dasar ketiga elemen tersebut akan menjadi lem perekatnya, dimana
kepentingan dasar buruh tani / kebun, petani plasma adalah kepastian atas
tanah, kemerdekaan dalam berbudidaya dan jaminan kelayakan hasil produksinya
sedangkan kepentingan buruh industri perkebunan berupa terjaminnya keamanan
atas pekerjaannya. Maka, dengan membangun kesepemahaman dan membuat
kesepakatan bersama dari tiga elemen tersebut menjadi keniscayaan yang tidak
bisa dipungkuri untuk bergerak bersama dalam satu barisan perjuangan dalam
mewujudkan pembaharuan sistem perkebunan skala besar kelapa sawit.

Jadi, agar bisa terwujud kesatuan (aliansi) dasar antara buruh tani /
kebun, petani plasma dan buruh industri perkebunan maka terlebih dahulu
harus disiapkan syarat-syaratnya yakni terbangunnya organisasi tani (buruh
tani / kebun, petani plasma) dan organisasi buruh (buruh industri
perkebunan). Dengan terbangunnya organisasi buruh dan organisasi tani maka
kesepemahaman, kesepakatan dan gerak langkah perjuangannya akan dilakukan
secara bersama - sama dengan organisasinya. Sebab, tanpa terbangunnya
organisasi massa demokratik akan semakin jauh menyatukan kekuatan korban
kedalam barisan perjuangan bersama. Masing-masing individu didalam elemen
akan terpecah kepentingannya sehingga mudah sekali dicerai beraikan kedalam
kepentingan subyektif yang akan merugikan perjuangan dalam melakukan
Pembaharuan sistem perkebunan skala besar kelapa sawit. Maka menyiapkan
syarat tersebut dibutuhkan kesanggupan dan kapasitas dari orang - orang yang
konsern terhadap masalah tersebut. Serta, faktor internal dari setiap elemen
tersebut (kontak maupun basis massanya) menjadi potensi dasar untuk
membangun organisasinya. Melihat hal ini berdasarkan kesanggupan dan
kemampuan (pengetahuan dan pengalaman historisnya) serta praktek kerja
selama ini menempatkan petani plasma sebagai prioritas kerja dalam
menyiapkan syarat - syarat tersebut, sembari juga mulai membangun secara
terbatas organisasi buruh.

###

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

[1] Tulisan Thomas D. Schauf, CPA (a national speaker to Certified Public
Accountants and business leaders) berjudul "the Federal Reserve is
Privately Owned" (Wisdom And Freedom produced by World Newsstand Copyright
1999.)

SKB 4 Menteri Sengsarakan Buruh


SKB 4 Menteri Sengsarakan Kaum Buruh.

Kaltengpost (18 november 2008)


Palangakaraya, penerbitan Surat Kepeutusan Bersama (SKB) empat menteri pada tanggal 22 Oktober 2008 lalu menyengsarakan kaum buruh. Pasal – pasal didalamnya dinilai hanya berpihak pada pengusaha dan merugikan kamu buruh. Misalnya pada pasal 3 yang sangat menekankan upah dalam penentuan Upah Minimum Provinsi (UMP). Isinya ” gubenur dalam menetapkan upah minimum mungupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional”. Hal ini diungkap ketua KP Sarekat Hijau Indonesia kalteng M. Ahmadi ”SKB empat menteri jelas2 merugikan kamu buruh, yang sudah sengsara menjadi makin sengsara” ujar Ahmadi dalam rillisnya kepada Kalteng post sabtu 16/11 lalu.

Menurut Ahmadi keprihatinya tersebut merupakan respon dari gerakan kaum buruh yang begitu fenomenal diberbagai tempat. Ada baiknya juga menjadi cermin bersama, lebih - lebih Kalteng yang beberapa waktu lalu ribuan karyawan (2.596 orang red) sempat diliburkan oleh Perusahan Besar Swasta (PBS) dengan dalih imbas krisi moneter global saat ini.

Alih – alih tersebut ucap mantan Presiden Mahasiswa BEM Universitas Palangkaraya (Unpar) ini, ditambah lagi tindakan pemerintah yang mengeluarkan SKB empat menteri. Salah satu pointnya upah minimum atau biaya penentuanya akan ditentukan oleh perusahaan dan pekerja.

”Tentu ini (SKB empat menteri red) adalah cara tak bijak yang dilakukan oleh pemerintah, karena pintu investasi itu melalui mereka. Tetapi saat bicara kesejahteraan rakyat khususnya perekerja swasta pemerintah lepas tangan. Tentu saja perusahaan nantinya akan bertindak semena – mena terhadap karyawanya” ucapnya.

Ahmadi sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang selalu pro investasi untuk perusahaan. Apalagi hal itu masih saja berlajut ditengah – tengah iklim politik atau kampaye pemimpin negeri atau daerah yang selalu bicara tentang kesejahteraan rakyatnya. Padahal hampir 80% rakyat Indonesia adalah buruh, baik itu buruh kasar mapuan buruh lunak.

"himbauan saya, inilah saatnya buruh atau klompok yang selalu diupah, yang bisa "orang' upah dan disuruh sekendak "orang" sudah harus mengevaluasi mana lawan dan mana kawan, mana yang memang pro buruh dan yang tidak, jangan sampai penzholiman terhadap kaum buruh terus terjadi, munculnya kelompok - kelompok mengatas namakan buruh padahal hanya mengambil pemenfaatannya saja, ada buruh yang tidak memburuh, yang bicara tentang upah minimum buruh saja tidak pernah bagaimana mau bicara tentang kesejahteraan buruh. Tentu ini merupakan sesuatu yang tidak boleh terjadi, mereka hanya bisa memanfaatkan kaum buruh dengan duduk - duduk dikursi empuk” kata Ahmadi, masih dalam rillisnya,

Berdasarkan pemberiataan sebelumnya, karyawan beberapa perusahaan bidang perkayuan dan perkebunan terkena imbas krisis moneter Amerika Serikat (AS). Sebanyak 2.596 pekerja diliburkan.
Sejumlah perusahaan yang meliburkan karyawanya antara lain PT Korindo di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) untuk 1.500 pekerja selama tanggl 1 – 9 November 2008. kemudian PT Bumi Asri Persaman (BAP) di Barito Selatan (Barsel) sebanyak 425 karyawan pada tanggal 13 – 19 Oktober 2008, dan 641 karyawan PT Antang Permai Plywood Industri (APPI) di Kapuas yang rencananya akan kembali bekerja pada tanggl 15 November 2008.

Perusahaan lainnya yakni PT Sukses Karya Mandiri di Sukamara sempat melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 30 oarang karyawannya. Ini dikarenakan perusahaan tersebut bergabung atau merger dengan PT Sampoerna. 30 keryawan ii kemudian dipekerjakan di PT Sampoerna(def/sma).

Sosok Barack Obama....(Sebuah Cerminan)


Barack Obama
Ini dia tokoh populer di Amerika Serikat saat ini. Bersaing secara ketat dengan Hillary Clinton, Obama menjadi idola dan panutan anak muda Amerika

Karir politik Barack Obama melejit. Kemampuan berpolitiknya ditopang kemampuan retorika yang mempesona, kharisma yang berkobar dan senyum menawan. Itulah yang menjadi perhatian kaum muda yang saat ini sedang kecewa dengan politik modern.

Sebenarnya siapa sih Obama ?

Barack Hussein Obama, Jr, lahir 4 Agustus 1961, adalah seorang Senator dari Illinois. Ia menjadi perhatian dunia karena pidato utamanya pada Konvensi Nasional Partai Demokrat 2004, ketika ia masih menjadi Senator Negara Bagian Illinois. Tahun itu juga, ia menjadi orang keturunan Afrika pertama yang memenangkan pemilihan ke Senat AS sebagai seorang Demokrat.

Obama dilahirkan di Queen's Medical Center di Honolulu, Hawaii dari ayah ekonom lulusan Harvard, Barack Hussein Obama, Sr., dari Kenya, dan ibu Ann Dunham, dari Wichita, Kansas. Waktu Obama dilahirkan, kedua orangtuanya adalah mahasiswa di East-West Center di Universitas Hawaii di Manoa.

Ketika berusia dua tahun, orangtuanya bercerai. Ayahnya kembali ke Kenya, dan ia hanya bertemu dengan anaknya sekali lagi sebelum meninggal pada 1982. Ann Dunham kemudian menikah dengan Lolo Soetoro, juga seorang mahasiswa East-West Center (MA Geografi 1962) dari Indonesia.

Pada masa kecilnya Barack menggunakan nama 'Barry'. Keluarga ini kemudian pindah ke Jakarta, di mana adik tiri Obama, Maya Soetoro-Ng, dilahirkan (Obama juga memiliki saudara-saudara tiri dari ayahnya yang menikah lagi). Ketika Obama berusia 10 tahun ia kembali ke Hawaii dan diasuh kakek-neneknya, Madelyn Dunham.

Masa Kecil di SDN Menteng 01

Barack Obama, orang kulit hitam pertama yang kini dijagokan jadi calon presiden Amerika Serikat pada Pemilu 2008, dikenang oleh guru dan teman-temannya di SD Menteng, Jakarta, sebagai murid bertangan kidal yang cerdas.

Sosok kepemimpinan Barry memang sudah terlihat sejak bergabung dengan Pramuka sekolah. Pertama datang ke SDN 1 Menteng, Barry tidak bisa bahasa Indonesia. “Dia diantar ibunya, orang bule,” kenang Bandung Winardiyanto, kakak kelas Obama.

Karena teman-teman satu kelas tidak ada yang bisa bahasa Inggris, Barry pun kesulitan berkomunikasi. Layaknya siswa baru yang “antik”, pria kelahiran 4 Agustus 1961 itu kerap jadi bulan-bulanan teman sekolah.

“Dia (Barry) dijulukin Si Lentik Barry karena bulu matanya lentik sekali, rambutnya keriting khas orang Afrika,” ceritanya. Selain itu, Si Lentik pun dijuluki Si Hitam karena kulitnya berwarna gelap. “Tapi dia sih cuek aja dibilang gitu,” kata Bandung tertawa.

Meski tak bisa bahasa Indonesia lancar, Barry mudah bergaul dengan teman-teman seangkatan bahkan seniornya. Kenangan terindah bersama Barry ketika camping di sekolah.

“Kami senior dan junior menjabat sebagai Pramuka penggalang,” ungkapnya. Kegemaran Barry main tali-temali dan lomba lari. Pokoknya anaknya tak bisa diam, hiperaktif dan sering bertanya,” terang Bandung. Barry juga sering didaulat menjadi pemimpin regu.

“Dia tak pernah memilih-milih teman sampai suka jajan di kios Kamid,” ceritanya. Kios Kamid berdiri sejak tahun 60-an menjual permen, ciki-cikian (sejenis makanan ringan), dan cokelat. Kami sering jajan bareng,” katanya.

Barack Obama siswa SDN Menteng 01
Barack Obama siswa SDN Menteng 01
Karir Politik, Harapan & Perubahan


Karir politik Obama bermula dari konvensi nasional Partai Demokrat pada 2004. Saat itu orang langsung membandingkan dia dengan tokoh-tokoh semacam Martin Luther King Jr, dan ikon Demokrat, John dan Robert Kennedy.

Sejak itulah ia mengembangkan mantra `harapan dan perubahan`. Ia juga menggambarkan pesaingnya, Hillary Clinton, sebagai simbol sistem politik yang rusak dan harus diperbarui segera.

"Ini saat kita akhirnya mengalahkan politik yang menakut-takuti, meragukan dan sinis. Politik ini malah memecah, bukan membangun negara ini," kata Obama kepada pendukungnya.

"Sejak saat ini, anda akan melihat ke belakang dan mengatakan, inilah waktu dan tempat Amerika mengingat apa artinya harapan," lanjutnya.

Karena dua tahun di Kongres dan satu periode sebagai legislator lokal, banyak orang menganggap kampanye Obama sekarang prematur. Dalam bukunya The Audacity of Hope, Obama menjelaskan mengapa ia tidak menunggu giliran untuk bertarung masuk Gedung Putih.

Ia mengaku sangat termotivasi dengan ucapan Martin Luther King Jr tentang `kepentingan yang sangat mendesak` bagi sebuah gerakan akar rumput untuk mendesakkan perubahan.

Ia bahkan sering merenungkan harga yang harus dia bayar untuk menyukseskan kampanyenya, yaitu kehilangan waktu untuk sang istri Michelle dan dua anak perempuannya Malia dan Sasha.

Sebagai kaum kulit berwarna, ia kerap menyebut diri sebagai juru bicara generasi mendatang. Secara implisit berupaya memisahkan diri pejuang kulit hitam pendahulunya seperti Jesse Jackson dan Al Sharpton yang saat ikut pemilu presiden kurang mendapat perhatian dari kaum kulit putih.

Dalam sebuah wawancara dengan AFP, Obama mengaku bahwa hidup di Indonesia telah membuka matanya. Ia melihat kesenjangan lebar antara kaum miskin dan kaya di seluruh dunia, serta dampak pergolakan politik pada rakyat jelata.

"Itu menyadarkan saya tentang jurang lebar di seluruh negara di dunia ini. Ini juga membuat saya sangat memahami betapa orang bisa sedemikian miskin, bagaimana isu-isu korupsi bisa menghilangkan peluang orang," imbuhnya.

Setelah tamat sekolah menengah, Obama kuliah di Universitas Columbia, lalu masuk ke Harvard Law School. Di situlah ia menjadi mahasiswa kulit hitam pertama yang menjabat presiden Harvard Law Review, sebuah lembaga yang sangat berpengaruh.

Obama bersama istri
Obama bersama istri
Semasa kuliah ia sempat bekerja sebagai pengelola komunitas di Harlem New York dan South Side Chicago, dua wilayah paling keras di AS. Saat itu ia membentuk sebuah keluarga.

Ia pun terjun ke politik di Illinois sebagai pengacara yang membela hak publik. Ia pun berhasil tiga periode menjadi senator negara bagian, sebelum berhasil menjadi senator AS pada 2004. Pidatonya saat itu membuat dunia melihat lahirnya seorang bintang baru politik AS.

"Tidak ada kulit hitam Amerika, kulit putih Amerika, Latino atau Asia Amerika, kita satu bangsa. Kita semua berjanji setia pada bendera Amerika, kita semua mempertahankan Amerika Serikat," serunya yang mengundang tepuk tangan membahana. (afp/ly)

PUISI kasih.....(dari seorang teman)

Palangkaraya, 31. Okt. 08

Untuk Insan yang mencuri hatiku,
Tetesan embun di luaran menambah dingin suasana, namun saat ini menjelang pukul dua dini hari aku masih membolak – balikkan badanku, begitu sulitnya aku pejamkan mata ini. Dingin yang menyeruak kedalam sumsumku saat ini tak terasa lagi, yang ada hanya sebuah angan yang sulit aku lukiskan dengan kata – kata. Kulirik angka di telepon genggamku telah menunjukan pukul 01.50, berarti kini aku telah sampai di hari rabu, hampir sepuluh hari sejak perjumpaan kita.
Dalam heningnnya pertiga malam dengan beberapa kali kokok ayam , lolongan anjing di seberang jalan rumah ini, aku masih terduduk menatap kedepan, melihat bisa – bias bayangmu.

Dinda …..begitu aku ingin memanggilmu, boleh kan? sekelumit kata penuh makna antara yang lebih tua dan muda antara adik dan kakak ,…antara…. Tak mau terlalu jauh aku berangan, namun hanya sebuah kemauan dan keilkhlasan serta waktu yang akan menjawabnya.

Boleh jawabmu…. Itu yang aku hendaki.
Dinda …
Biar kuhela nafas ini terlebih dahulu sebelum kulanjutkan rangkaian kata kata ini
Dinda…
Bukan aku ingin berlebihan dalam semua ini, semata hanya dari sebuah alur fikir yang terus mengalir dan akan lebih baik jika tanpa dusta aku muarakan di kertas ini.

Kau mengerti tentang senyuman dinda ?.
Senyum adalah sebentuk penyikapan atas hidup. Tanggapmu terhadap Tuhan, alam dan manusia sesama. Senyum adalah ekspresi jiwa pada segala.
Tentu kau yang paling engerti tentang senyummu dinda. Tapi bagiku, senyum tetaplah senyum yang bermakna harmoni. Dengan tersenyumnya dirimu padaku, itu berarti bahwa kau mengajakku berbagi harmoni. Entah itu harmoni rasa, entah itu harmoni jiwa.
Kau begitu pandai tersenyum. Sampai-sampai aku berfikir bahwa senyum telah menjadi seluruh asamu. Sungguh kau sangat lihai mengukir senyuman. Apakah memang kau terlahir dengan senyuman, atau kau terlahir sebagai senyuman? Atau bagaimana bila aku memanggilmu dewi senyuman dinda?
Tapi tampaknya kau memang begitu mengerti tentang arti sebuah senyuman dinda? Kau begitu faham bahwa begitu banyak hal, bahkan mungkin semua, dapat diluruskan dengan sedikit lengkungan di sudut bibirmu.
Aku mulai belajar tersenyum dari dirimu dinda. Meski bibirku tak seindah bibirmu. Meski senyumku tak semanis senyummu.
Maukah kau mengajariku tersenyum?

Kau mengerti tentang keikhlasan dinda?
Keikhlasan bermuara pada satu titik, dimana ego diri dan keangkuhan tidak lagi memiliki eksistensi. Tentu engkau meragu dan sangsi akan hal ini.
Tapi aku sangat yakin dengan hal ini. Bila ego dirimu merontokkan sayap hak milik dan klaim kebenarannya, bila keangkuhanmu menanggalkan jubah kesombongan dan kecongkakannya, maka kau akan hadir dengan telanjang di hadapan diri-Nya dalam kesendirian, kesunyian, kebisuan dan keheningan wujud-Nya.
Kau faham dengan maksudku, dinda? Kalau tidak, maka ambillah cermin dan tataplah lekat pada senyum yang kau ukir, di sana terpatri keikhlasan.
Apakah kau sadar, dinda?
Senyummu telah meluluhlantakkan ego diri dan keangkuhan.

Tahukah engkau tentang keheningan dinda?
Jangan kau menganggap aku mengerti tentang semua ini? Tidak, aku hanya belajar dari senyummu. Senyummu mengabarkan padaku bahwa keheningan tidak terdapat pada situasi dan suasana alam yang harmonis dan dunia yang tanpa suara.
Keheningan terhampar pada padang kebeningan jiwa yang dipenuhi hijaunya rumput keikhlasan dan keteduhan hitamnya bayang pohon kerelaan. Semilir sejuk angin kekhusyukan dan gemericik air pengorbanan menjadi musik yang berdenting lirih di pangkuan-Nya.
Tapi dinda, sungguh sulit membedakan suara suara hati nurani yang hening dan bening dengan bisik nafsu yang ramai, ribut dan meracau tanpa ujung pangkal. Namun lagi-lagi aku belajar dari senyummu, bahwa suara hati nurani akan terdengar jernih bila kita dapat menyusup kedalam taman kesunyian dan lolos dari pelukan dan dekapan tangan-tangan nafsu yang kekar.

Dinda . . . . .
¬¬¬¬¬Dalam rangkaian kata kataku ini aku cuma mau menyampaikan satu hal. Senyummu kemarin manis sekali kulihat. Lebih manis dari sebelumnya. Kau tahu kenapa? Itu karena hari itu, wajahmu tidak hanya dihiasi senyum, tapi wajahmu dilengkapi dengan berbagai makna hidup.
Ternyata kau menyimpan khasanah keindahan lain dari wajahmu dinda. Mungkin sebuah anugerah buatku, bisa mencandra anugrah tuhan. Ini diakibatkan oleh penampilanmu yang berbeda. Jilbab yang membalut kepalamu lebih bersahaja kali ini sehingga wajahmu ibarat purnama.
Kau tahu? Kau menjadi makin manis karenanya.
Dinda, aku berharap dapat melihatmu terus jilbab.

Dinda . . . . .
Jangan bertanya apapun padaku. Aku sedang berusaha mengosongkan jiwaku dari ego diri dan keserakahan. Semua ini kulakukan agar aku bisa memahami, mengerti dan mencintai orang lain.
Aku ingin kembali pada diriku yang pemalu.
Bukankah rasa malu merupakan sabuk pengaman bagi sebuah silaturahmi?

Bagaimana senyummu dinda?
Ingin lebih banyak aku bertanya padamu, setelah sekian hari lamanya aku tak berjumpa, tentu senyummu masih seindah dulu bukan? Oh ya, bolehkan aku meminta sesuatu padamu? Aku penasaran dengan wajahmu bila cemberut. Apa mungkin kau akan lebih manis bila cemberut? Apa mungkin kau akan lebih menarik bila merajuk?
Terkadang aku merasa, kau begitu manja hingga aku menjadi kaget dalam bersikap terhadapmu. Jangan memaksaku menunjukkan bahwa antara kita ada jejaring rasa yang tersulam diam-diam dalam hening dan beningnya hati, bahwa antara kita ada rajutan emosi yang mulai mengkristal dan memintal menjadi temali kukuh dan mengikat jiwa.
Aku takut dengan jejaring dan rajutan itu, ini mungkin sebongkah kebodohan. Tapi bagiku, ini penting untuk kusampaikan sebagai sebentuk keberanian untuk mengakui kekeliruan, kalau ini memang kekeliruan, terutama pada diri sendiri.

Dinda, aku takut kehilangan senyummu.

Dinda . . . . .
Seribu langkah menuju cinta tidak akan terasa. Karena cinta akan mengimpaskannya.

Ada yang harus kau tau dinda,
Kau miliki makna tersediri bagiku,
Tahukah engkau tentang kedalaman makna ?
Baiklah simaklah baik-baik.
Kedalaman makna akan kau gapai bila kau menjalani hidup dengan sederhana. Karena kesederhanaan adalah cermin yang begitu bening, karena kesederhanaan adalah ruang yang begitu hening.

Peritiga malam menjelang shubuh,
Lama aku merangkai kata-kata ini untukmu dinda.
Terus terang aku sengaja melakukannya, aku takut pada diriku sendiri. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya. Bahwa ada jejaring dan rajutan yang mempertautkan kita. Aku sadar, jejaring dan rajutan itu adalah sebongkah cinta. Tetapi jejaring itu telah menjeratku begitu kuat, rajutan itu menyeretku begitu jauh, memaksaku untuk memilikimu.
¬Bukankah cinta tidaklah berarti harus memiliki?
Bukankah cinta tidaklah sebuah janji untuk saling mengikat?
Bukankah cinta tidaklah sebuah akad untuk saling memiliki?
Tapi aku rasa tak bisa melepaskan diri. Makanya aku tak menghubungimu.
Dinda,...
Hari ini aku begitu gelisah, tahukah kau kalau dalam tidur siangku aku bermimpi tentangmu. Kau hadir dengan senyummu yang termanis dalam balutan jilbabmu yang bersahaja, begitu indah.
Tapi sungguh, semua itu membuat aku sakit. Kuingin senyum itu untukku, bukan untuk yang lain.
Aku tak ingin kehilangan segalanya, kalaupun bahkan aku mulai kehilangan kata. Mungkin kalimat ini adalah baris terakhir yang kutulis diam-diam untukmu, diantara sekian banyak kalimat yang masih kusimpan dan tak pernah tercurah sedikitpun padamu.

Dindaku, aku merindui kamu.


Palangkaraya, 19 Agustus 2008

Kerja Gila Kaum Muda....(Oase)

Kerja Gila Kaum Muda Untuk Kebangkitan Indonesia


Sebuah ikhtiar melawan lupa dari sebuah negeri yang disebut-sebut mengidap penyakit akut amnesia….. (I:BOEKOE)

Tim kerja -Kronik Kebangkitan Indonesia- , yang bekerja di bawah naungan Indonesia Buku (I:BOEKOE) telah meluncurkan hasil kerja raksasanya bulan Mei lalu , Kerja keras belasan anak muda berusia di bawah 25 tahun selama 1,5 tahun kini telah berbuah 21 buku dengan ketebalan 1.7 meter. Tim Kerja I:BOEKOE juga menggarap riset dan penulisan intensif Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Tanah Air Bahasa : Seratus Jejak Pers Indonesia, Seabad Pers Perempuan (1908-2008).

Hebatnya lagi 2 orang dari tim kerja ini yakni Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan secara berbarengan juga menggarap proyek mereka berdua berupa 3 buku dasyat Trilogi Lekra Tidak Membakar Buku. Buku-buku itu adalah Lekra Tak Membakar Buku : Suara Senyap Lembar kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965, Gugur Merah : Sehimpunan Puisi Harian Rakjat-Lekra dan Laporan dari Bawah : Sehimpunan Cerita Pendek Harian Rakjat –Lekra. Coba simak di dalam Lekra Tidak Membakar Buku kedua anak muda ini melakukan liputan menyeluruh yang diriset dari sekitar 15 ribu artikel kebudayaan yang terserak.

Bila saya sempat menulis 2008 : Tahun Emas Penemuan Sejarah Nusantara dan Sejarah Indonesia : Dasawarsa Emas Pembongkaran Pemalsuan Sejarah (2000-2010) maka untuk anak-anak muda inilah penghargaaan tertinggi saya berikan. Salute!

dirgahayu kaum muda!!

Psikologi Prasangka Orang Indonesia

Kumpulan Studi Empirik Prasangka dalam Berbagai Aspek Kehidupan Orang Indonesia.

1. Ilustrasi
Tahun 1989 selagi mahasiswa saya sempat mengikuti sebuah penelitian di Kalimantan dan mendapatkan briefing dari peneliti senior di Perguruan Tinggi di Banjarmasin . Setelah briefing usai, Cantika, mahasiswi asal Banjar yang juga terlibat dalam penelitian mengajak Saya dengan berkata ” Kang , mari main kelamin saya!” Saya karuan saja rikuh. Pikir saya ”gila juga nih mahasiswi, baru aja kenal udah ngajajak yang macam-macam” . Membaca bahasa tubuh saya yang keGeEran , Cantika langsung menimpali ”Wee jangan berpikir yang bukan-bukan, ya maksud saya ayo main ke kamar (lamin=kamar) kos saya untuk ambil sejumlah buku”.

Tahun 1997 di ruang training , saya membaca name tag seorang peserta tertulis Endang Kosasih kemudian mengajak bicara dalam bahasa Sunda.” Kumaha Pak Endang, damang yeuh, tos kagungan putra sabaraha? Parantos lami didamel di dieu ? ” Ia hanya mendapatkan jawaban diam dan mata melongo dari peserta. Saat saya bertanya “kenapa kok bengong pak ¿ . Jawab peserta tersebut “Maaf pak, nama saya Endang Kosasih-memang nama Sunda, marga Saya Sembiring Meliala, ayah saya punya sahabat yang dikaguminya ,berhnama Endang Kosasih orang Sunda dan memberi nama itu pada saya”.

Saat pertama kali ke Aceh pasca amuk samudra, Maret 2005 begitu turun di Bandara Blang Bintang dengan wajah sangar , tubuh denan dada dibusungkan dan tangan bertenaga sejumlah pria menahan saya (belakangan diketahui orang ini anggota GAM) dan mengajukan pertanyaan , ”Siapa Nama ”. Saya menjawab lantang ”Nama saya Asep Haerul Gani”. Si penanya , bertanya lagi, ”Orang Sunda , ya dari daerah Kartosuwiryo”. Saya jawab ” Betul sekali, saya orang Sunda dari daerah Garut, Kartosuwiryo dari daerah Limbangan Garut sama dengan saya”. Para penanya ini herannya malah melemah dan memberi isyarat kepada temannya untuk mempersilakan saya mendapatkan mobil sewaan. Masih teringat saja si penanya berkata lirih ”Anda seperjuangan dengan Saya, Kita di Aceh menghargai Pak Kartosuwiryo teman seperjuangan Teuku Daud Beureh”. Selama bepergian ke Aceh aman-aman saja . Berbeda dengan pengalaman teman-teman saya yang justru kena palak berkali-kali karena gara-gara namanya dikaitkan dengan nama sang tokoh orde baru.

2. Prasangka dalam kehidupan manusia
PRASANGKA adalah tema utama dari tiga cerita di atas . Masih banyak cerita-cerita lainnya yang saya alami yang bila ditarik benang merahnya bertemakan prasangka. Saking banyaknya cerita-cerita dalam hidup saya yang bertema Prasangka, sampai-sampai saya menduga betapa tidak mudah menjadi orang yang merdeka dari prasangka.

Prasangka adalah praduga yang bisa berkonotasi positif atau negatif trhadap suatu objek. Prasangka dalam bahasa Arab adalah dzan. Prasangka yang berkonotasi positif disebut dengan husnuzhan sedangkan prasangka yang berkonotasi negatif diistilahkan Suudzhon. Prasangka adalah fenomena persepsi. Kita menerima informasi mengenai objek lalu mempersepsikannya. Persepsi kita tentang sesuatu sangat tergantung seberapa banyak informasi yang anda peroleh tentangnya. Informasi yang sedikit dan hanya satu sisi tentu saja akan menyebabkan persepsi seseorang terhadap sesuatu mengalami bias. Semakin bias sebuah informasi, maka prasangka pun semakin menjadi.

Manusia terbelenggu dalam prasangka sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Manusia tidak bebas dari prasangka sejak lahir dari liang rahim hingga masuk liang kubur. Manusia bisa berprasangka terhadap apapun mulai dari makanan yang dimakan, pakaian yang disandang, peralatan yang diiklankan di TV, Berita yang tertulis di surat kabar, kendaraan yang ditumpangi, buku yang dibaca hingga tokoh yang naik daun. Objek prasangka bisa hal biasa yang dipandang nista hingga hal yang luhur dipandang agung . Manusia bisa berprasangka terhadap Nama, Gelar, Jabatan, Pekerjaan. Manusia pun bisa berprasangka terhadap pakaian yang anda kenakan, kelompok tempat anda berafiliasi, rekan-rekan yang menjadi sahabat anda bahkan pada aktifitas keagamaan yang anda geluti.

Meskipun prasangka pada awalnya maknanya adalah netral, bisa positif juga negatif, dalam sejumlah kajian psikologi seakan kata prasangka terjadi penyempitan makna. Prasangka cenderung dimaknai dengan praduga yang berkonotasi negatif terhadap objek tertentu diakibatkan oleh bias karena kurang lengkapnya informasi, dan semakin diperparah dengan adanya penilaian yang negatif dan merendahkan terhadap objek/kelompok yang bukan bagian dari identitas diri..

Di masyarakat yang multi etnik, ragam kultur, aneka bahasa, macam agama dan keyakinan ini peluang anda untuk terpancing prasangka negatif terhadap orang lain cukup besar. Prasangka negatif ini dalam beberapa hal mungkin hanya memicu kelucuan saja, namun dalam tingkat yang lebih parah bisa memicu perkelahian, pembunuhan massal hingga penghapusan etnik tertentu (genocide).

3. Buku ”Psikologi Prasangka Orang Indonesia”
Buku yang terdiri dari 8 Bab, 206 halaman ini membahas mengenai Prasangka. Meskipun buku ini tidak mengurai lengkap seluruh prasangka yang mungkin diungkap, paling tidak buku ini memenuhi keperluan pembaca yangingin memahami fenomena prasangka.

Mas Ito, nama biasa ia dipanggil oleh mahasiswa, menjelaskan alasan penerbitan buku ini. Buku ini adalah buku yang mencoba merangkum temuan-temuan penelitian dari tugas kuliah, skripsi, tesis dan disertasi tentang prasangka. Di Bab II, dengan cara ngepop mas Ito menguraikan teori dari belahan Barat dan Timur mengenai prasangka.

Di Bab III hingga Bab VII Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono ini berupaya menyajikan fenomena-fenomena prasangka di Indonesia.

Di Bab III Anda akan menemukan beragam teori yang diungkapkan sejumlah peneliti terhadap kasus-kasus prasangka Etnik. Anda akan membaca bagaimana prasangka orang Papua terhadap karyawan Freeport, prasangka etnik dalam perkawinan, dan kerusuhan-kerusuhan yang dipicu oleh prasangka etnik.

Setelah menyusuri Bab IV anda akan senyum dikulum menelusuri bagaimana prasangka terhadap Gender meskipun di bab ini hanya mengutip prasangka terhadap gender perempuan di posisi domestik hingga perempuan di kancah publik, apalagi subjudulnya pun cukup menggelitik dan berprasangka : Dari Ibu Srie ke Ibu Tien.

Di Bab V anda akan temukan bagaimana prasangka juga muncul di kalangan agama atau umat beragama, bahkan Tuhan dipandang sebagai alasan untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan, penghakiman dan pembunuhan oleh sebagian orang.. Anda akan terkesima oleh kutipan seorang yang mengkritik Syiah . Anda akan tercengang oleh cerita seorang Wartawati yang semula mewawancari Jafr Umar Thalib malah kemudian menjadi pengikut setia. Andapun akan galau saat Anda membaca kisah Saefudin , alumni pesantren yang mengajarkan toleransi di Ponorogo Jawa Timur justru terjebak dalam konflik batin menyembunyikan alm. Dr. Azahari dan Noordin M Top.

Di Bab VI yang menguraikan Prasangka Politik dan Agressi anda dapat membaca kisah-kisah kerusuhan yang dipicu oleh prasangka antar umat beragama. Anda seakan diajak kembali menelusuri jejak kasus mulai dari kasus Empok (empat Oktober 1994) Tanjung Priuk hingga berakhir dengan rekonsiliasi dan Kasus kerusuhan Ambon yang juga diwarnai pengguinaan simbol-simbol agama dan kata-kata julukan seperti Obet dan Acan.

Nah Bab VII ini adalah Bab unik. Seperti adegan Goro-Goro pada lakon Wayang Kulit.. , Adegan yang ditampilkannya bisa membuat penonton nyantai sejenak . Ada adegan saru (nyerempet porno), lucu , senyum dan memancing tawa di Bab ini. Setelah anda membaca suasana yang penuh ketegangan, tumpahan darah dan airmata di Bab V dan VI anda akan tersenyum membaca cerita tentang seks, lelucon tentang seks, penelitian tentang seks dan folklore tentang seks. Nama Ma Erot dari Sukabumi pun dimunculkan di bab ini. Bahkan Kartun Jane yang sedang bergelantungan memegang ”akar” Tarzan sehingga Tarzan berteriak ”Auuuuuooooooooo ” pun menghiasi halaman bab ini.

Sarlito Wirawan Sarwono memang bukan cerpenis. Namun demikian membaca buku ini tak ubahnya membaca buku kumpulan cerpen seorang cerpenis. Boleh jadi cerita demi cerita tidak disusun berdasarkan urutan atau sistematika tertentu. Anda mempunyai kebebasan membaca dari bab mana. Mulai dari bab manapun anda membaca , tak masalah. Anda akan dibawa hadir masuk ke dalam suasana cerita, bahkan anda merasa seakan menjadi Sang Tokoh sendiri. Percayalah emosi anda pun akan disentuh oleh kenyataan-kenyataan yang dipaparkan pada setiap bab, Ada emosi geram dan kesal. Ada emosi khawatir sedih dan takut. Ada emosi birahi yang menggelegak. Ada pula emosi tawa dan canda.

Di Bab VIII Mas Ito, yang juga peniup Saxophone The Profesor ini berupaya menutup dengan menduga sejumlah hal yang menjadi akar prasangka di Indonesia. Seperti yang diungkap di awal tulisan ini, Mas Ito pun tetap tidak bebas dari prasangka saat menulis dan menutup buku ini.

Buku yang diterbitkan PT. Raja Grafindo Persada, 2006 ini mungkin akan lebih baik bila editor dari penerbit cukup teliti. Ada penulisan dan penomoran yang mengganggu di halaman 165 yang merupakan bagian dari Tabel 7.7. Di tabel 7.7. ini mengurai Sifon, Budaya Sperma dan Nikah Sirri. Bila dibaca teliti sebenarnya mengupas Sifon, Budaya Sprema, Gunung Kemukus dan Nikah Sirri. Editor harusnya menuliskan c. Gunung Kemukus bukan bagian dari Budaya Sperma, tetapi sebagai sub tersendiri, dengan demikian nomor 8-12 di halaman 165 seharusnya menjadi nomor 1-5 di bawah sub Gunung Kemukus.

Hal lainnya adalah tidak ditemukannya nama Hamdi Muluk dalam daftar Pustaka sebanyak 187 itu padahal nama tersebut diulang-ulang dalam teks.

Buku yang di toko buku Gramedia dijual seharga Rp 33.000 – ini , paling tidak bisa menjadi acuan pendidik, pengajar, trainer, inspirator, motivator, pekerja sosial, kalangan LSM untuk bisa masuk dan meretas prasangka demi kejayaan Indonesia Raya. Masih jauh jalan menuju sana, bisa jadi. Membaca buku ini dan memahaminya minimal menjadi langkah awal menuju ke tujuan luhur itu.

DATA MENGENAI BUKU
Pengarang : Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono
Tebal : 206 halaman
Penerbit : PT. RajaGrafindo Persada, Rajawali Pers Jakarta
Tahun : 2006
Ukuran : 13,3 X 24,5 cm

Pun Sapun , Ampón Paralun
Salam hangat dari Ciracas
Asep Haerul Gani

Psikologi Dalam Interaksi Sosial (Persepsi)

Pengertian

· Pengertian interaksi sosial menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok, maupun antara orang perorangan dengan kelompok. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi.

· Interaksi sosial tidak selalu ditandai dengan mengadakan kontak muka atau berbicara, tetapi interaksi sosial bisa terjadi manakala masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan orang-orang yang bersangkutan, yang disebabkan misalnya karena bau minyak wangi. Hal itu bisa menimbulkan kesan di dalam fikiran seseorang, yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya.

· Interkasi yang terjadi antar kelompok-kelompok manusia, misalnya pada tawuran antar pelajar satu sekolah dengan sekolah lain, peperangan antar etnis, pertikaian kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain, pertemuan para senat mahasiswa perguruan tinggi se Indonesia, pertemuan perguruan tinggi dengan pemerintah daerah setempat dll.

· Interaksi yang terjadi antar orang perorangan dengan kelompok, misalnya interaksi dosen dengan mahasiswanya di dalam kelas, interaksi seorang pembicara dalam seminar dengan peserta seminar dll.

Syarat-syarat terjadinya interkasi sosial
Interaksi sosial terjadi setidaknya memenuhi dua syarat :

1. Adanya kontak sosial
Secara fisik kontak sosial bisa berarti sebagai kontak yang terjadi hubungan badaniah; sementara sebagai gejala sosial tidak perlu adanya hubungan badaniah, oleh karena seseorang dapat mengadakan hubungan dengan fihak lain tanpa menyentuhnya. Misalnya seseorang yang berbicara melalui telepon, e-mail, surat, radio dll. Bahkan dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat adanya kontak. Jadi kontak merupakan tahap pertama terjadinya interaksi sosial. Kontak terjadi misalnya kontak antara suatu pasukan dengan pasukan musuh. Ini berarti bahwa masing-masing pihak telah mengetahui dan sadar akan kedudukan masing-masing dan siap untuk bertempur (yang biasanya disebut kontak bersenjata)

Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu :
(1) antara orang perorangan, misalnya apabila anak kecil diajarkan oleh orang tuanya mengenai sopan santun, kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya; dua orang saling berbicara dll.

(2) Antara orang perorangan dengan suatu kelompok atau sebaliknya.
Misalnya ketua partai politik menyuruh para anggota-anggota paartainya untuk menyesuaikan diri dengan ideologi/program partai

(3) Antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya.
Misalnya dua atau lebih partai politik berkoalisi untuk mengalahkan partai politik yang lain.

Selain itu suatu kontak dapat pula bersifat primer dan sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, seperti misalnya apabila orang-orang tersebut berjabat tangan, saling senyum dll. Sebaliknya kontak sekunder memerlukan perantara. Misalnya A berkata kepada B, bahwa C mengagumi kepintarannya bermain catur. A sama sekali tidak bertemu dengan C akan tetapi terjadi kontak antara mereka, karena masing-masing memberi tanggapan, walaupun dengan perantaraan B. Hubungan sekunder misalnya bisa dilakukan juga melalui telepon, radio, e-mail dll. Akan tetapi apabila A meminta tolong kepada B supaya diperkenalkan dengan gadis C, maka kontak tersebut bersifat sekunder tidak langsung.

2. Adanya komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampian pesan dari komunikator (penyampai) pesan) kepada komunikan (penerima pesan). Komunikasi berlangsung apabila seseorang menyampikan suatu stimulus (rangsang) yang kemudian memeproleh arti tertentu yang dijawab (respon) oleh orang lain.

Komunikasi diartikan bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (bisa berupa pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap); dan perasaan-perasaan apa yang ingin disampikan oleh orang tersebut. Orang tersebut kemudian memberikan respon/reaksi terhadap apa yang disampaikan. Misalnya apabila seorang gadis menerima seikat bunga, secara spontan ia akan mencium bunga tersebut; akan tetapi yang menjadi pertanyaan dari gadis tersebut adalah siapa yang mengirim bunga tersebut, dan apa yang menyebabkan dia mengirimkannya. Apakah bunga tersebut dikirimkan sebagai tanda cinta, perhatian, untuk mendamaikan suatu perselisihan, untuk peringatan hari ulang tahun, untuk memenuhi janji, sebagai tanda simpati atas kesehatan seseoraang dll. Apabila gadis tersebut tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka dia-pun tidak tahu apa yang akan dilakukannya, dan selama itu juga belum terjadi komunikasi.

Dalam komunikasi terjadi pula berbagai macam penafsiran terhadap tingkah laku orang lain. Misalnya seulas senyum bisa ditafsirkan sebagai keramahtamahan, sikap bersahabat. Lirikan bisa ditafsirkan bahwa mungkin orang tersebut tidak senang atau malah sebaliknya menunjukkan ketertarikan.

Dasar Berlangsungnya Interaksi Sosial

Dasar berlangsungnya proses interaksi sosial didasarkan pada berbagai faktor yaitu :

1. Imitasi
Imitasi adalah proses meniru yang menyebabkan terjadinya interaksi sosial.

2. Sugesti
Sugesti adalah proses mempengaruhi dari seseorang kepada orang lain. Prosesnya akan efektif apabila penerima sugesti dalam kedudukan lebih rendah, dalam keadaan mental yang tidak seimbang, atau apabila pemberi sugesti adalah orang yang lebih berwibawa.

3. Identifikasi
Identifikasi adalah kecenderungan untuk menjadi sama dengan orang lain yang menjadi idolanya. Identifikasi sifatnya lebih mendalam dari imitasi, oleh karena kepribadian seseorang dapat terbentuk pada proses ini.

4. Simpati
Simpati merupakan proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Ketertarikan menyebabkan orang cenderung untuk ingin selalu berhubungan.

Hal-hal tersebut di atas merupakan faktor-faktor minimal yang menjadi dasar bagi berlangsungnya proses interaksi sosial, walaupun di dalam kenyataannya proses tadi memang sangat kompleks, sehingga kadang-kadang sulit mengadakan pembedaan tegas antara faktor-faktor tersebut.

Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), pertentangan (conflict). Secara rinci bentuk-bentuk interaksi sosial adalah sebagai berikut :

1. Kerjasama (cooperation)
Kerjasama maerupakan suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerjasa antara lain : bargaining, cooptation, coation, dan joint venture.

(a) Bargaining adalah pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih

(b) Cooptation adalah suatu penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan baru dalam organisasi atau kehidupan politik

(c) Coalition adalah penggabungan dua organisasi atau lebih untuk mencapai tujuan bersama

(d) Joint venture adalah kerjasama dalam pendirian atau penyelesaian proyek-proyek tertentu.

2. Akomodasi
Akomodasi bisa menunjuk sebagai suatu keadaan atau proses. Akomodasi sebagai suatu proses adalah usaha untuk meredakan suatu pertentangan, dalam mencapai kestabilan. Akomodasi sebagai suatu keadaan adalah apabila antara dua kelompok yang saling bertentangan berhenti tidak bertikai, tetapi masih dalam kondisi bertentangan. Bentuk-bentuk akomodasi antara lain :

(a) Coercion (penggunaan paksaan atau kekerasan)
Adalah suatu akomodasi yang prosesnya dilaksanakan secara paksaan, di mana salah satu pihak menguasai pihak lain.

(b) Compromise (kompromi)
Adalah suatu akomodasi di mana pihak-pihak yang berlawanan saling mengurangi tuntutannya dengan mengadakan kesepakatan-kesepakatan (kompromi)

(c) Arbritation (perwasitan)
Adalah penyelesaian melalui pihak ketiga, apabila masing-masing pihak yang bertentangan tidak mampu menyelesaikan sendiri.

(d) Mediation (mediasi)
Penyelesaian sengketa yang menyerupai arbritation, tetapi pihak ketiga hanya sebagai perantara dan tidak mempunyai kewenangan mengambil prakarsa.

(e) Conciliation (konsiliasi)
Adalah usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih, agar tercapai persetujuan bersama.

(f) Toleration (toleransi)
Toleransi merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan bersama. Misalnya toleransi antarumat beragama di Indonesia, masing-masing umat beragama berusaha menghindarkan diri dari perselisihan.

(g) Stalemate (buntu)
Adalah pihak-pihak yang saling bertentangan karena mempunyai kekuatan seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangan. Misalnya perang dingin anatar Amerika-Rusia di masa lalu karena masalah nuklir

(h) Adjudication (keputusan pengadilan)
Adalah penyelesaian perkara atau sengketa melalui pengadilan.

3. Akulturasi
Membicarakan akulturasi lebih tepat dalam kaitannyan dengan perubahan kebudayaan. Akulturasi terjadi apabila suatui kelompok masyarakat dengan kebudayaan tertentu berinteraksi dengan unsur-unsur kebudayaan asing yang dibawa kelompok lain, sehingga lambat laun unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan yang menyerapnya.

4. Asimilasi
Adalah proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaan antara kelompok-kelompok yang berbeda tetapi sudah bergaul cukup lama. Asimilasi ideal apabila kebudayaan-kebudayaan dari kelompok yang berbeda berubah saling menyesuaikan diri.

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi :

1). Adanya toleransi amsing-masing kelompok
2). Kesempatan dalam bidang ekonomi yang seimbang
3). Sikap saling menghargai kebudayaan amsing-masing
4). Sikap terbuka dan mau bekerja sama
5). Adanya unsur-unsur kebudayaan yang mirip atau memiliki persamaan
6). Antara kelompok yang berbeda terjadi perkawinan
7). Adanya musuh bersama dari luar, sehinggaa menodorng masing-masing kelompok untuk bersatu

Faktor-faktor yang mempersulit terjadinya asimilasi :
1). Perbedaan ciri-ciri fisik badaniah
2). Identitas sosial khas yang terus-menerus dipertahankan
3). Dominasi ekonomi oleh kelompok tertentu
4). Terisolasinya kelompok tertentu dalam suatu kawasan, misalnya kelompok dengan tingkat ekonomi lebih baik menghuni suatu kawasan pemukiman khusus (perumahan elit) akan menyulitkan pembaauran dan asimilasi.
5. Persaingan
Persaingan adalah suatu proses sosial di mana orang perorangan atau kelompok bersaing untuk memperebutkan sesuatu yang jumlahnya terbatas. Persaingan perorangan disebut persaingan pribadi, sedangkan persaingan yang tidak bersifat pribadi merupakan persaingan antar kelompok, misalnya persaingan antara dua perusahaan dalam memperebutkan daerah pemasaran.

6. Pertikaian atau pertentangan
Pertentangan (conflict) adalah usaha menentang pihak lawan dalam mencapai tujuan. Bentuk-bentuk pertentangan antara lain :

1). Pertentangan pribadi
2). Pertentangan rasial
3). Pertentangan antara kelas-kelas sosial
4). Pertentangan politik
5). Pertentangan yang bersifat internasional

Interaksi Sosial dalam Perspektif Teori Interaksionisme Simbolik
Dalam mempelajari interaksi sosial digunakan pendekatan tertentu, yang dikenal dengan nama interactionist perspektive. Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, dijumpai pendekatan yang dikenal dengan nama symbolic interactionism (interaksionisme simbolik). Pendekatan ini bersumber pada pemikiran George Herbert Mead. Dari kata interaksionisme tampak bahwa sasaran pendekatan ini adalah interaksi sosial; sementara kata simbolik mengacu pada penggunaan simbol-simbol dalam interaksi.

Simbol menurut Leslie White didefinisikan sebagai “a thing the value or meaning of which is bestowed upon by those who use it”. Jadi simbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh seseorang (mereka) yang mempergunakannya. Menurut White makna atau nilai tersebut tidak berasal dari atau ditentukan oleh sifat-sifat yang secara instrinsik terdapat di dalam bentuk fisiknya. Makna suatu simbol, menurut White hanya dapat ditangkap melalui cara-cara non sensoris; melalui cara-cara simbolis. Misalnya : makna suatu warna tergantung mereka yang mempergunakannya. Warna merah, misalnya dapat berarti berani (dalam bendera kita merah berarti berani, putih suci); namun dapat pula berarti komunis (kaum merah); dapat pula berarti tempat pelacuran (daerah lampu merah). Warna putih berarti suci; dapat pula berarti berkabung; dapat pula berarti menyerah.

Makna-makna tersebut tidak dapat ditangkap dengan panca indera; sebagaimana dikemukakan oleh White bahwa makna-makna tersebut tidak ada kaitannya dengan sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat pada warna. Hal yang sama misalnya, air atau benda lain yang dianggap suci. Kesucian hewan tertentu (misalnya sapi bagi orang India), atau benda lain (seperti air, patung) tergantung pada makna yang diberikan oleh pihak yang menggunakannya. Jadi kesucian suatu benda tidak ada hubungannya dengan sifat-sifat intrinsik yang melekat pada benda tersebut.

Herbert Blumer salah seorang penganut pemikiran Mead, berusaha menjabarkan pemikiran Mead mengenai interaksionisme simbolis. Menurut Blumer pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga :

(1) Pertama manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. Dengan demikian tindakan (act) seorang penganut agama Hindu di India terhadap seekor sapi (thing) akan berbeda dengan tindakan seseorang penganut agama Islam di Pakistan, karena masing-masing orang tersebut – memiliki makna (meaning) yang berlainan terhadap sapi.

(2) Kedua Blumer mengemukakan bahwa makna yang dipunyai sesuatu tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya. Mengapa dalam masyarakat kita warna merah bermakna berani, dan putih suci? Mengapa orang yang ideologinya radikal sering disebut kiri? Makna yang diberikan orang pada konsep-konsep merah, putih, kanan, kiri ini muncul dari interkasi sosial, Keberanian tidak melekat pada warna merah (sebagai telah disebutkan, dalam konteks warna merah dapat pula diartikan sebagai komunisme atau tempat pelacuran) dan pandangan ideologis pun tidak ada kaitannya dengan arah kiri atau kanan.

(3) Ketiga Blumer mengemukakan bahwa makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative process), yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Yang hendak ditekankan Blumer di sini ialah bahwa makna yang muncul dari interaksi tersebut tidak begitu saja diterima oleh seseorang melainkan ditafsirkan terlebih dahulu. Apakah seseorang akan menanggapi dengan baik ucapan “selamat pagi” atau assalamualaikum, tergantung pada penafsirannya apakah si pemberi salam tersebut beritikad baik ataukah beritikad buruk.

Definisi Situasi
Konsep lain yang juga penting diperhatikan dalam pembahasan mengenai interkasi sosial ialah konsep definisi situasi (the definitiation of the situation) dari William Isac Thomas (1968). Berbeda dengan pandangan yang mengatakan bahwa interkasi manusia merupakan pemberian tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus), maka menurut Thomas seseorang tidak segera memberikan reaksi manakala ia mendapat rangsangan dari luar. Menurutnya tindakan seseorang selalu didahului suatu tahap penilaian dan pertimbangan; rangsangan dari luar diseleksi melalui proses yang dinamakannya definisi atau penafsiran situasi. Dalam proses ini orang yang bersangkutan memberi makna pada rangsangan yang diterimanya itu. Misalnya dalam proses ini orang yang memberi salam, maka rangsangan yang berupa ucapan “selamat pagi” diseleksi dan diberi makna. Bila menurut definisi situasi seorang gadis ucapan “selamat pagi” dari seorang pria yang belum dikenalnya tidak dilandasi itikad baik, ia akan cenderung memberikan reaksi berupa tindakan yang sesuai dengan penafsirannya-misalnya mengabaikan salam tersebut.

Dalam kaitannya dengan definisi situasi ini, Thomas terkenal karena ungakpannya : “when men define situations as real, they are real in the consequnces” – bila orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekuensinya nyata. Yang dimaksudkannya di sini ialah bahwa definisi situasi yang dibuat orang akan membawa konskeunsi nyata.

Thomas membedakan antara dua macam definisi situasi : definisi situasi yang dibuat secara spontan oleh individu, dan definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat (definisi situasi yang mengatur interaksi manusia). Definisi situasi dibuat oleh masyarakat – keluarga, teman, komunitas. Thomas melihat adanya persaingan antara kedua macam definisi situasi tersebut. Menurutnya moralitas yang berwujud aturan atau hukum muncul untuk mengatur kepentingan pribadi agar tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

Analisis Psikologi Komunikasi Novel Tuhan.... Pelacur!
:nur melati septiana

Nidah Kirani adalah seorang gadis muslimah yang taat beribadah. Badannya dihijabi oleh jubah dan jilbab yang besar. Hampir semua kegiatan sehari-harinya diisi dengan aktivitas pendekatan pada Tuhan dan menjalankan perintahNya sebagaimana cara yang diajarkan Rasullullah, setiap waktu dia habiskan untuk shalat, baca Al-Qur’an dan berzikir. Ketertarikan untuk mengetahui lebih dalam tentang keislaman melalui diskusi tentang Islam mendorongnya untuk membentuk suatu forum kajian yang membahas masalah-masalah keislaman, dan keinginannya ini didukung oleh Dewan Mahasiswa Kampus Barek yang memberikan kepercayaan pada Kiran untuk menjalankan forum ini.

Dari forum inilah dia didekati seorang ikhwan (sebutan untuk laki-laki muslim aktivis islam) bernama Dahiri. Keaktifan dan kekayaan referensi Dahiri dalam membahas tiap topik yang diangkat dalam forum diskusi ini menyita perhatian Kiran. Sehingga waktu diskusi mereka bukan hanya berada pada saat forum berjalan tetapi juga diluar forum karena Dahiri juga merupakan teman sekelas Kiran di Kampus Barek. Ternyata Dahiri merupakan aktivis jamaah yang merupakan gerakan yang subversif, organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang diidealkan bisa mengantarkan pengikutnya ber-Islam secara kaffah. Dan dia memang mengincar Kiran yang dia ketahui sedang semangat-semangatnya untuk memperdalam keimanannya dan mencari kedamaian dalam aktifitas keislaman yang baru dibangunnya, seperti seorang muallaf yang baru menikmati dan merasakan kenyamanan Islam. Selalu ingin berada pada komunitas yang bisa membawanya mengetahui lebih banyak tentang islam.

Berbekal dengan kemampuannya dalam berargumen dan penguasaan terhadap ayat-ayat Qur’an serta Hadits, Dahiri berhasil mempengaruhi pikiran Kiran. Sehingga Kiran yang tadinya meyakini pengetahuannya tentang Islam sudah cukup baik berubah menjadi pemikiran betapa masih dangkalnya dia dalam mempelajari Islam. Sosok Dahiri berhasil membuatnya menjadi gelisah dan akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan organisasi islam garis keras itu.

Setelah melakukan proses baiat (pengucapan sumpah untuk bergabung pada organisasi jamiah), Kiran benar-benar menjalani kehidupan sebagai sufi, yang demi kezuhudannya dia melakukan shaum (puasa) setiap hari, tidak lagi mengkonsumsi nasi dan daging tetapi hanya mengkonsumsi roti ala kadarnya. Tiap waktunya dimanfaatkan untuk menegakkan syariat Islam dan dakwah pun dia jalankan dengan keyakinan untuk menyelamatkan sesama muslim berislam secara benar. Tiap waktu dia mencoba mempengaruhi orang-orang yang ada disekitarnya untuk berhijrah dari paham agama lamanya. Tetapi tidak jarang aktifitasnya ini juga mendapat penolakan dan membuat dirinya dikucilkan oleh orang-orang di pondokkannya tempat dia selama ini tinggal. Karena merasa gerakannya tidak disukai, akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan pondokan itu dan memilih tinggal di Pos Jemaah yang terletak di sekitar kampusnya. Tadinya Kiran membayangkan dengan tinggal di Pos ini, ritual keagamaannya menjadi lebih dalam tetapi pemikiran itu bertolak belakang dengan kondisi sebenarnya.

Satu-satunya ibadah yang dilihatnya adalah cuma shalat berjamaah, selebihnya ibadah yang dilakukan para aktivis di Pos itu terlihat biasa. Bahkan ritual ibadah di Pondokan Ki Ageng, tempat dia tinggal sebelumnya lebih khusyuk dibandingkan di Pos ini. Tetapi Kiran tidak ambil pusing, dia tetap dengan keyakinannya bahwa dia harus meneggakkan hukum Islam dengan mengabdikan dirinya di jalan Allah. Dakwah terus dilancarkannya dan dia berhasil merekrut orang banyak termasuk orangtua, keluarga dan masyarakat desanya. Bukan hanya merekrut orang, setiap minggunya dia juga harus memberikan infak sebesar 500 ribu rupiah yang katanya digunakan untuk biaya perjuangan menegakkan Syariat Islam. Tidak jarang untuk itu, Kiran harus berbohong pada orangtua dan kakaknya yang berada di luar negeri dengan dalih membayar keperluan kuliahnya.

Tetapi ditengah jalan, Kiran diterpa badai kekecewaan. Pergerakan yang selama ini dia tempuh dan sudah banyak resiko yang dia terima, dari dikucilkan oleh para santri di pondokannya dulu, biaya yang dia keluarkan untuk infak yang tidak sedikit sampai diusirnya dia dari desa tempat tinggalnya tetapi dia nilai tidak dianggap oleh aktifis lainnya. Akal sehatnya mulai mencerna, organisasi yang dia ikuti ternyata tidak mempunyai kegiatan yang jelas, uang infak itu juga tidak jelas kemana digunakan hingga membuat Kiran berontak dan berusaha keluar dari organisasi meskipun taruhannya adalah nyawa. Karena organisasi ini berjalan secara rahasia dan terus diburu oleh pemerintah, sehingga aktifis yang ada disini bila berkhianat diancam akan dibunuh.
Begitu besarnya kekecewaan Kiran, hingga merampas nalar kritis sekaligus keimanannya. Dia selalu mempertanyakan untuk apa yang Tuhan balas untuk segala pengorbanan yang telah dia lakukan demi penghambaannya kepada Tuhannya. Dan akhirnya dia menalar bahwa Tuhan yang selama ini dia agung-agungkan seperti lari dari tanggung jawab dan tidak menghiraukan keluhannya.

Dalam keadaan frustasi dan kekosongan, dia menemui Daarul Rachim seorang Ketua Forum Studi Mahasiswa Kiri Untuk Demokrasi. Melalui Daarul dia mengeluarkan semua beban dan rasa sakit hatinya. Berawal dari situ, hubungan mereka makin akrab dan Kiran memandang sosok Daarul sebagai pahlawannya yang tiap saat bisa melindunginya dari rasa takut akan dibunuh. Tetapi kedekatan itu akhirnya memulai suatu babak baru, Kiran seorang muslimah yang taat harus menggadaikan keimanannya dengan melepaskan keperawanannya karena tidak kuat menahan rasa cinta yang mulai tumbuh pada laki-laki yang melindunginya ini dan sebagai wujud pemberontakannya pada Tuhannya. Kesalahpahaman membuat hubungan mereka merenggang dan akhirnya putus, hal ini membuat Kiran makin frustasi dan kembali menyalahkan Tuhannya. Dalam frustasinya itu, akhirnya dia terjerembab dalam dunia hitam.

Kekecewaannya dilampiaskan dengan melanggar aturan-aturan agamanya, freesex dengan pria-pria aktivis sayap kiri dan kanan (islam) yang selama ini dikenal sebagai aktivis kampus yang lantang meneriakkan tegaknya moralitas dan syariah islam. Membongkar topeng kemunafikkan tiap aktivis tersebut membuatnya puas sebagai bentuk pemberontakannya pada Tuhan. Tidak ada rasa sesal yang setiap kali usai melakukan petualangan cinta. Bahkan salah satu korbannya adalah seorang Dosen Kampus Matahari Terbit Yogyakarta yang juga merupakan anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh memperjuangkan tegaknya syariat islam di Indonesia. Dan Dosen ini jugalah yang akhirnya menjadikan dirinya memiliki profesi yang selama ini dihujat orang banyak, menjadi seorang pelacur.

ANALISIS CERITA
Dalam novel yang berjudul “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur”, merupakan cerita yang menggambarkan luka seorang muslimah yang tadinya taat beribadah, tetapi karena salah langkah memilih jalan yang dia anggap akan membawa dirinya makin dekat dengan Tuhannya dan memiliki harapan yang sangat besar sehingga banyak pengorbanan yang dia lakukan, ketika harapan besar itu bertolak belakang dengan kondisi sebenarnya menjadikan Nidah Kirani, tokoh utama cerita ini menjadi frustasi dan akhirnya terjerembab dalam dunia hitam dengan melanggar aturan-aturan agamanya dari freesex sampai mengkonsumsi obat terlarang. Hal ini dilakukannya sebagai bentuk kekecewaan dan bentuk pemberontakan kepada Tuhannya, yang dia anggap tidak pernah perduli dengan dirinya sedangkan dia telah banyak melakukan pembuktian sebagai wujud pengabdiannya pada Tuhan.

Pada alur cerita ini, ada 1 tokoh utama lain yang mempengaruhi jalan pemikiran Kiran yaitu sosok Dahiri, seorang mahasiswa yang juga aktivis organisasi islam garis keras. Dahiri inilah yang berhasil mengajak Kiran untuk menjadi aktivis jamiah dan menjanjikan Kiran akan menemukan ketenteraman dan kedamaian berjihad dijalan Allah.

1. HUBUNGAN INTERPERSONAL TOKOH UTAMA
Menurut De Vito ada 5 tahap hubungan antar pribadi kalau kita akan melakukan hubungan dengan orang lain, yaitu tahap kontak, keterlibatan, keakraban, pengrusakan dan pemutusan. Keterlibatan Kiran dalam organisasi islam garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat islam di Indonesia berawal dari pendekatan komunikasi persuasif yang dilakukan oleh Dahiri pada Kiran. Lebih jelasnya secara teoritis dapat dijelaskan melalui Kontak Bagan tahap tahap hubungan interpersonal menurut DeVito :
Berdasarkan apa yang dialami oleh Kiran, kontak pertama dengan Dahiri berawal dari forum diskusi islam yang akhirnya melakukan pembentukan Hubungan Interpersonal.

Tahap ini sering disebut juga sebagai tahap perkenalan (Acquaintance Process). Steve Duck (1976;127) dalam Rahmat (2001) menyatakan perkenalan adalah proses komunikasi dimana individu mengirimkan (secara sadar) atau menyampaikan (kadang kadang tidak sengaja) informasi tentang struktur isi kepribadiannya kepada bakal sahabatnya, dengan menggunakan cara-cara yang agak berbeda, pada bermacam-macam perkembangan persahabatan. Dahiri merupakan anggota yang aktif mengikuti forum diskusi yang dikelola Kiran, sehingga dari sinilah Kiran lebih mengenal sosok seorang Dahiri yang tadinya hanya dikenalnya sebagai teman sekelas dan menimbulkan penilaian yang positif yaitu Dahiri merupakan pria yang cerdas, pintar berargumen dan memiliki wawasan yang luas tentang islam.

Dengan data diri Dahiri tersebut, Kiran berusaha membentuk kesan tentang diri Dahiri. Kesan pertama amat menentukan, karena itu hal-hal yang pertama kelihatan merupakan hal yang menentukan kesan pertama menjadi sangat penting. Brooks dan Emmerts (1976,24) mengatakan para psikolog sosial menemukan bahwa penampilan fisik, apa yang diucapkan pertama, apa yang dilakukan pertama menjadi penentu yang penting terhadap pembentukan citra orang lain.

Oleh karena itu Dahiri berhasil menjaga kesan pertamanya, Dahiri dapat menunjukkan pada Kiran yang menjadi target sasarannya bahwa ia serius mengajak Kiran untuk memahami islam secara benar. Untuk membantu memudahkan pengaruh pada Kiran, Dahiri memulainya dengan ikut aktif dalam forum diskusi yang dikelola oleh Kiran, dari sinilah Kiran dapat mengenal kepribadiannya dan Dahiri mengetahui apa yang menjadi kebutuhan Kiran.

Selanjutnya setelah Kiran memperoleh kesan pertama yang positif terhadap Dahiri, maka tahap selanjutnya adalah menuju pada tahap keterlibatan. Pada tahap ini Dahiri mengembangkan sikap-sikap yang memudahkan penerimaan terhadap kehadiran Dahiri. Selain sikap faktor lain yang juga menentukan adalah atraksi interpersonal yang dilakukan oleh Dahiri. Oleh karena itu Dahiri berhasil mengembangkan Atraksi Interpersonalnya, karena Atraksi Interpersonal adalah daya tarik personal yang timbul dalam hubungan Interpersonal. Makin tertarik kita kepada seseorang, maka besar kecendrungan kita berkomunikasi dengan dia. Ada dua faktor yang mempengaruhi Atraksi interpersonal yaitu Faktor personal dan faktor situasional.

Faktor Personal yang telah dikembangkan oleh Dahiri hingga kehadirannya mudah diterima oleh Kiran adalah :

1. Kesamaan Karakteristik Personal (Similarity).
Dalam situasi dimana seseorang harus berinteraksi dengan semua golongan dalam masyarakat yang berbeda maka timbul kecendrungan dalam dirinya untuk memilih orang yang memiliki banyak persamaan dengan dirinya (Depari dan Andrews; 1988). Sikap ini disebut dengan homofilis. Komunikasi yang efektif lebih mudah dicapai apabila baik sumber informasi maupun penerima informasi sama sama homofilis.

Sebagai seseorang yang berusaha masuk untuk mempengaruhi orang, maka Dahiri berusaha mencari kesamaan yang ada pada Kiran dengan yang ada dalam dirinya. Dari kesamaan-kesamaan ini maka keberadaan Dahiri akan lebih mudah diterima oleh Kiran. Orang yang memiliki kesamaan dalam nilai,sikap,keyakinan,tingkat, sosial ekonomi,agama,ideologis,cenderung saling menyukai. Menurut Heider dalam buku Psikologi komunikasi (Jalaludin Rakhmat;2004), “ Kita cenderung menyukai orang, kita ingin mereka memiliki sikap yang sama dengan kita. Kita ingin memiliki sikap yang sama dengan orang yang kita sukai, supaya seluruh unsur konsisten”.

Dahiri telah dapat memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya, karena Dahiri mempunyai kelebihan dapat berbicara dengan lugas dan memiliki pengetahuan yang luas tentang islam bahkan dia hapal dengan ayat-ayat Qur’an yang menjadi modalnya untuk berargumen pada tiap diskusi tentang islam. Sebagai muslimah, Kiran mempunyai kesamaan dengan Dahiri yaitu tertarik dengan ilmu-ilmu dan jalan hukum-hukum islam. Mereka memiliki latar belakang budaya yang sama yaitu hidup dengan sendi-sendi islam. Kesamaan karakteristik inilah yang merupakan modal dasar bagi Dahiri untuk masuk kedalam lingkungan kehidupan Kiran yang harus direkrutnya. Faktor lain yang turut mendukung mudahnya Dahiri kedalam lingkungan kehidupan Kiran adalah faktor kesamaan bahasa yang dimiliki Dahiri. Kesamaan bahasa ini akan memudahkan dalam melakukan komunikasi serta memudahkan dalam mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orang-orang yang memakai bahasa yang berbeda.

Pada alur cerita ini, kontak khusus antara kedua tokoh utama berawal diluar forum diskusi. Dialog pada halaman 33 dimana Dahiri berusaha mendekati Kiran yang sedang berada sendirian diperpustakaan. Tatapan tajam Dahiri direspon oleh Kiran dengan menyapanya “Dahir, gimana kabarmu. Ada tugas?” kemudian Dahiri menjawab “Bukan soal tugas Kiran, tapi soal Islam yang kita bahas minggu lalu.”

2. Tekanan Emosional (Stres)
Bila orang berada dalam keadaan cemas atau harus memikul tekanan emosional, maka ia akan menginginkan kehadiran orang lain. Sebagai aktifis yang berusaha merekrut anggota baru Dahiri pandai membaca situasi dan kondisi dilingkungannya. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan mencari orang-orang yang berada dalam kecemasan, kesusahan atau berada dalam tekanan emosional. Dengan bersikap ingin menolong Kiran agar menjadi muslimah secara kaffah akan melihat niat baik dari Dahiri pada Kiran. Kiran memikirkan semua perkataan Dahiri tentang islam dalam konteks yang sebenarnya sehingga akhirnya memunculkan keraguan pada diri Kiran apakah saat ini dia belum menjalankan syariat islam secara benar, keraguan inilah yang secara perlahan membuat keberadaan Dahiri diterima dan lebih dekat dengan Kiran.

3. Harga diri yang rendah
Menurut Webster, bila harga diri direndahkan, hasrat afiliasi (bergabung dengan orang lain) bertambah, ia makin responsif untuk menerima orang lain. Ditambahkan oleh Tubbs dan Moss; 1974, Orang yang rendah diri cenderung mudah untuk mencintai orang lain. Dahiri adalah seorang aktifis organisasi keislaman, jelas ia dipandang lebih tinggi dan lebih baik oleh Kiran. Harga diri Kiran mungkin lebih rendah dari Dahiri. Dengan memandang Dahiri sebagai orang yang lebih baik dari Kiran, Kiran tertarik untuk mencari tahu dan menemukan jalan agar dia bisa lebih baik lagi.

4. Isolasi Diri
Eliot Aronson, seorang ahli yang mengembangkan Gain-loss Theory (teori untung rugi) mengatakan bahwa orang yang kesukaannya kepada kita bertambah akan lebih kita senangi daripada orang-orang yang kesukaannya pada kita tidak berubah. Dengan demikian bagi orang yang terisolasi akan lebih menyenangi kedatangan orang dari luar, apalagi orang tersebut dapat memberikan ganjaran yang menguntungkan mereka.. Nidah Kirani yang baru menemukan kedamaian berada pada jalan islam adalah orang yang secara psikologis mempunyai kekurangan dan keterbatasan pada ilmu keislaman dan ada kecenderungan mengisolasikan dirinya. Dengan keberadaan Dahiri sebagai orang dari luar lingkungannya akan memudahkan Dahiri untuk menjalankan misinya, karena adanya kecendrungan menyenangi kedatangan orang dari luar.

Disamping faktor personal , faktor lain yang juga mempengaruhi atraksi Interpersonal adalah faktor situasional. Faktor situasional tersebut adalah :

1. Daya Tarik Fisik (Phisical Attractiveness).
Beberapa penelitian telah mengungkapkan bahwa daya tarik fisik sering menjadi penyebab utama Atraksi interpersonal. Sebagai orang yang terlibat dengan masyarakat (orang banyak) maka penampilan Dahiri juga terjaga. Kelebihan yang dimiliki oleh Dahiri seperti pintar, tampan dan lain sebagainya dimanfaatkan untuk memudahkan hubungan dengan Kiran yang menjadi target sasarannya. Penampilan fisik pada diri Dahiri dapat dimanfaatkan untuk membuat persepsi orang berubah dari belum bisa menerima menjadi bisa diterima oleh Kiran.

2. Ganjaran
Kita akan cenderung menyenangi orang yang memberikan ganjaran kepada kita. Ganjaran itu berupa bantuan, dorongan moril, pujian atau hal-hal yang dapat meningkatkan harga diri. Selain itu juga merupakan sifat alami manusia yang senang mendapat pujian dan hadiah. Untuk lebih memudahkan Dahiri membina hubungan dengan Kiran maka Dahiri selalu berusaha memberikan ganjaran kepada Kiran. Ganjaran yang dimaksudkan disini berupa bantuan, dorongan moril, pujian dan lain sebagainya yang dapat memberikan keuntungan bagi Kiran. Pada cerita ini terdapat pada saat Kiran diliputi keraguan dan akhirnya meminta penjelasan pada Dahiri. Hal ini sesuai pula dengan teori pertukaran sosial (Social Exchange Theory), bahwa interaksi sosial adalah semacam transaski dagang. Interaksi akan timbul bila memberikan keuntungan bagi salah satu atau kedua belah pihak.

3. Familiarity
Dengan semakin sering dan banyak melakukan pertemuan dan bimbingan kepada Kiran, maka Dahiri akan semakin dikenal oleh Kiran. Semakin akrab Dahiri dengan Kiran makin memudahkan untuk mempengaruhi Kiran agar merubah paham keislamannya. Menurut Zajonc (1968), ia akan menemukan makin sering subjek melihat wajah tertentu, maka ia makin menyukainya.

4. Kedekatan (Proximity)
Jarak fisik merupakan faktor penting pada tahap awal interaksi. Orang cenderung menyenangi mereka yang tempat tinggalnya berdekatan. Persahabatan lebih mudah timbul diantara tetangga yang berdekatan. Tindakan yang telah dilakukan Dahiri adalah melakukan pendekatan dengan mengikuti forum yang dikelola Kiran. Karena faktor kedekatan inilah yang akhirnya sangat mempengaruhi keberhasilan misi yang dijalankan oleh Dahiri.

5. Kemampuan (Competence)
Kita cenderung menyenangi orang-orang yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari pada kita. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa orang orang mempunyai kemampuan biasanya lebih berhasil kehidupanya. Dahiri dapat menunjukkan kemampuannya agar ia disenangi oleh Kiran, targetnya. Sebagai orang yang memberikan informasi dan inovasi maka ia harus mempunyai kredibilitas. Faktor faktor mempengaruhi Dahiri dalam menciptakan kredibilitasnya sebagai nara sumber adalah :Trust (kepercayaan dan pengaruh karena karismatik), Expertise (keahlian, keilmuan, tingkat pendidikan), Autority (kekuasaan, kedudukan), Performance( penampilan fisik, Socio economic Status (status sosial ekonomi), Experience (pengalaman), dan style of influence (gaya yang sesuai dengan keinginan user). Hal lain yang dibuktikan oleh Dahiri adalah karena ia telah dipercaya oleh anggota organisasi islam sebagai orang yang berkompeten mempengaruhi orang lain untuk merubah paham keislamannya, ia merupakan orang yang telah dipercaya oleh anggota organisasi.

Setelah Dahiri dapat diterima oleh Kiran, Dahiri telah mengusahakan agar komunikasi yang dilakukan dengan Kiran menjadi efektif. Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang semakin baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi bila isi pesan kita fahami – tetapi hubungan antar komunikan menjadi rusak. “ Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting. Setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya menyampaikan pesan; kita juga menentukan kadar hubungan interpersonal, bukan hanya menentukan content tetapi juga relationship.

Dalam kaitannya dengan membina hubungan interpersonal ini, seorang Psikolog Arnold Goldstein (1975) menghubungkan apa yang disebut sebagai “relationship enchancement” (metode peningkatan hubungan) dalam psikoterapi, ia merumuskan metode ini dengan tiga prinsip : makin baik hubungan interpersonal (1) makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya, (2) makin cenderung ia meneliti peranannya secara mendalam beserta penolongnya (psikolog), dan (3) makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasehat yang diberikan penolongnya.

Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya. Sehingga makin efektif komunikasi diantara mereka. Dalam kasus ini, maka semakin efektif komunikasi yang dilakukan oleh Dahiri, maka semakin terbina hubungan yang baik antara Dahiri dengan Kiran. Dengan diterimanya kehadiran Dahiri tersebut, maka Dahiri dapat berperan sekaligus sebagai “teman” atau “sahabat” bagi Kiran.

Hubungan Interpersonal Dalam Model Permainan
Model ini berasal dari psikiater Eric Berne (dalam Jalaludin Rakhmat, 2001), dimana dalam model ini orang-orang berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah tiga bagian kepribadian manusia – Orang tua, Orang dewasa dan anak. Orang tua adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang kita terima dari orang tua kita atau orang yang kita anggap orang tua kita. Orang Dewasa adalah bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional, sesuai dengan situasi, dan biasanya berkenaan dengan maslah-masalah penting yang memerlukan pengambilan keputusan secara sadar. Anak adalah unsur kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak dan mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreatifitas dan kesenangan.

Pada alur cerita novel ini, menampilkan salah satu aspek tersebut. Yaitu pada saat Kiran mulai membutuhkan kajian tentang pemahamannya terhadap islam yang sesungguhnya, kemudian dia berusaha mencari informasi yang dapat membantunya menjawab keyakinannya itu. Kebutuhan Kiran tersebut merupakan kepribadian anak yang mengandung potensi spontanitas dan kretaifitas. Dahiri menyadari kebutuhan Kiran dan dia membantu Kiran dengan menanamkan ideologi yang dianggap benar untuk membawa Kiran dalam kedamaian yang dicarinya, ini merupakan kepribadian orang tua. Dan hubungan interpersonal Kiran dan Dahiri berlangsung baik dengan transaksi yang bersifat komplementer.

Kiran yang tidak pandai bergaul memilih Dahiri yang mempunyai kelebihan dapat berargumen dan pemikiran yang keras tentang syariah islam. Ia ingin langkahnya berada pada jalur pemahaman yang benar tentang islam. Dengan cara ini Kiran dapat memperoleh keuntungan. Pertama Kiran mencari dalih dengan ketidakmampuannya “jika bukan karena kamu, pasti banyak kawan yang mau dekat dengan aku”. Kedua, ia menimbulkan perasaan bersalah pada Dahiri, sehingga Dahiri akan terus membimbingnya.


2. PESAN LINGUISTIK
Menurut Mulyana (2004), Bahasa terikat oleh konteks budaya. Dengan ungkapan lain, bahasa dapat dipandang sebagai perluasan budaya. Menurut Hipotesis Sapir Whorf, sering juga disebut Teori Relativitas Linguistik, sebenarnya setiap bahasa menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas yang melukiskan realitas pikiran, pengalaman batin dan kebutuhan pemakainya. Jadi bahasa sebenarnya mempengaruhi pemakainya untuk berpikir, melihat lingkungan dan alam semesta dengan cara yang berbeda sehingga berperilaku berbeda.

Bahasa memungkinkan kita menyandi peristiwa dan obyek obyek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa kita mengabstraksikan pengalaman kita dan mengkomunikasikannya dengan orang lain. Bahasa merupakan sistem lambang tak terbatas, yang mampu mengungkapkan segala macam pemikiran. Bahasa adalah prasyarat kebudayaan yang tidak dapat tegak tanpa itu atau dengan sistem lambang yang lain. (Jalaludin Rakhmat; 2004)

Bahasa memiliki kekuatan untuk mengubah pendapat, keyakinan yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu, menimbulkan perasaan tertentu, bahkan mengendalikan diri.

Kata sebagai bagian dari bahasa mengandung dua aspek yaitu aspek bentuk atau ekspresi dan aspek isi atau makna. Makna kata adalah hubungan antara bentuk dengan hal atau benda yang diwakilinya (referent).

Adanya fenomena yang timbul dimasyarakat mengenai penggunaan kata kata kiasan dan peribahasa didalam kehidupan sehari hari adalah karena masih adanya norma-norma dan budaya yang masih dijunjung tinggi didalam pergaulan dimasyarakat. Percakapan yang digunakan sehari hari terutama kepada orang yang lebih dihormati biasanya menggunakan bahasa, kata-kata dan kalimat yang sopan, halus dan baik. Begitu juga untuk mengungkapkan perasaan senang dan tidak senang kepada seseorang juga menggunakan bahasa yang mencerminkan perasaannya. Kata-kata yang diungkapkan dalam percakapan seseorang menunjukkan apa yang ada dalam pikirannya dan biasanya ucapan akan diikuti dengan tindakan. Contohnya bila seseorang mengatakan mau makan biasanya diikuti dengan tindakan makan, mau mandi diikuti dengan tindakan mandi dan lain sebagainya.

Seperti penggalan dialog yang terdapat pada halaman 38-39 alur cerita novel ini antara Dahiri dan Kiran pada saat Kiran meminta penjelasan tentang pemahaman islam Dahiri yang menyebutkan islam di Indonesia belum sempurna dan berbalik pada ajaran islam yang sesungguhnya.

Dahiri: “Kuulangi sekali lagi padamu bahwa keislaman kita di Indonesia belum ada apa-apanya, belum murni. Kita masih pada fase Mekkah. Islam yang sah adalah Islam fase Madinah. Dan sekarang Islam di Madinah itu belum juga ada dan masih dalam taraf di usahakan. Islam di Madinah adalah Islam Negara. Daulah. Keabsahan beragama dan tegaknya syariat tadi ditentukan oleh apakah kita memiliki daulah atau tidak. Dan kami punya rencana besar untuk mengusahakan berdirinya Daulah Islamiyah Indonesia”.

Kiran : “Hah, mendirikan Daulah? Daulah seperti apa itu, Mas?”

Dahiri : “Belum saatnya. Nanti juga akan kamu tahu. Tapi kutekankan padamu, ini adalah gerakan rahasia. Top Secret. Yang poko sekarang adalah kalau ada keraguan, jangan kembalikan pada manusia tapi pada Allah. Kalau bertanya, janganlah tanya pada orang lain, tapi tanya pada saya”.

Kiran : “Iya Mas”

Dari percakapan tersebut bisa kita lihat kata-kata kiasan yang dipergunakan oleh masing-masing orang mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan mengungkapkan perasaannya. Dahiri menggunakan bahasa yang halus tapi tegas dan Kiran menggunakan bahasa yang menandakan kebingungannya.

Makna muncul dari hubungan khusus antara kata (sebagai simbol verbal) dan manusia. Makna tidak melekat pada kata-kata, namun kata-kata membangkitkan makna dalam pikiran. “Hah, mendirikan Daulah. Daulah seperti apa” adalah salah satu contoh kalimat dimana makna tidak melekat pada kata-kata tapi kata-kata yang memberikan makna dalam pikiran. Daulah merupakan conth kata yang berarti negara Islam yang disepakati makananya oleh para aktifis islam garis keras.

Makna dari kalimat diatas bisa diartikan karena adanya kesepakatan antar sekelompok orang untuk memberikan arti atau makna yang sama. Kata-kata seperti yang kita ketahui diberi arti secara arbitrer (semaunya) oleh kelompok -kelompok sosial.

Kata hanyalah simbol verbal dari suatu obyek yang diwakilinya. Jadi kata bukanlah sesuatu atau benda , karena dalam definisi disebutkan symbol adalah sesuatu yang digunakan untuk atau dipandang sebagai wakil sesuatu lainnya. Kata tidak hanya mempresentasikan obyek atau benda, tetapi juga peristiwa atau kejadian, sifat sesuatu benda atau obyek, aksi atau tindakan, hubungan, konsep dan sebagainya .


DAFTAR PUSTAKA
Berlo, SA,S.J. beebe dan MV. Redmond, 1988. Interpersonal Communication, Relating to Others, Allyn and Bacon. Boston. USA.
Dahlan, Muhidin M. 2005. Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Memoar Luka Seorang Muslimah. Scriptamanent. Yogyakarta.
Depari, E dan macAndrews, C, 1988, Peranan komunikasi Massa dalam Pembangunan, Suatu Kumpulan Karangan, UGM.
Devito, J.A, 1997. Komunikasi Antar Manusia, Kuliah dasar, Edisi ke 5. Profesional Books. Jakarta.
Liliweri, alo, 1994, Perspektif teoritis, komunikasi Antar Pribadi, Suatu Pendekatan ke Arah psikologi Sosial Komunikasi, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Little John, stephen W, 1996, Theories Of Human Communication, Fifth Edition, Wadsworth Publishing Company, California USA.
Mulyana, D, 2004, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, edisi ke 6, Rosdakarya, Bandung.
Rakhmat, J, 2004, Psikologi Komunikasi, Edisi ke 21, rosdakarya bandung.
Sereno, Kenneth. K dan Bodaken Edward. M, 1975. Trans-Per Understanding Human Communication, Houghton Mifflin Company. Boston.
Tubbs, SL dan S. Moss, 1983, Human Communication, Fourth Edition. Random House Inc .New York.

* PS: Bahan Kuliah Psikologi Komunikasi, 2006.

Psikologi Da Perkembangan Moral

Perkembangan Moral


Berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan Kohlberg pada tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya dengan judul The Developmental of Model of Moral Think and Choice in the Years 10 to 16, seperti tertuang dalam buku Tahap-tahap Perkembangan Moral (1995), tahap-tahap perkembangan moral dapat dibagi sebagai berikut:

1. Tingkat Pra Konvensional
Pada tingkat ini anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Akan tetapi hal ini semata ditafsirkan dari segi sebab akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan kebaikan). Tingkatan ini dapat dibagi menjadi dua tahap:

Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan
Akibat-akibat fisik suatu perbuatan menentukan baik buruknya, tanpa menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat tersebut. Anak hanya semata-mata menghindarkan hukuman dan tunduk kepada kekuasaan tanpa mempersoalkannya. Jika ia berbuat “baik’, hal itu karena anak menilai tindakannya sebagai hal yang bernilai dalam dirinya sendiri dan bukan karena rasa hormat terhadap tatanan moral yang melandasi dan yang didukung oleh hukuman dan otoritas

Tahap 2 : Orientasi Relativis-instrumental
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dipandang seperti hubungan di pasar (jual-beli). Terdapat elemen kewajaran tindakan yang bersifat resiprositas (timbal-balik) dan pembagian sama rata, tetapi ditafsirkan secara fisik dan pragmatis. Resiprositas ini merupakan tercermin dalam bentuk: “jika engkau menggaruk punggungku, nanti juga aku akan menggaruk punggungmu”. Jadi perbuatan baik tidaklah didasarkan karena loyalitas, terima kasih atau pun keadilan.

2. Tingkat Konvensional
Pada tingkat ini anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa. Anak memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan hanya konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melainkan juga loyal (setia) terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata-tertib atau norma-norma tersebut serta mengidentifikasikan diri dengan orang tua atau kelompok yang terlibat di dalamnya. Tingkatan ini memiliki dua tahap :

Tahap 3 : Orientasi kesepakatan antara pribadi atau orientasi “anak manis”
Perilaku yang baik adalah yang menyenangkan dan membantu orang lain serta yang disetujui oleh mereka. Pada tahap ini terdapat banyak konformitas terhadap gambaran stereotip mengenai apa itu perilaku mayoritas atau “alamiah”. Perilaku sering dinilai menurut niatnya, ungkapan “dia bermaksud baik” untuk pertama kalinya menjadi penting. Orang mendapatkan persetujuan dengan menjadi “baik”.

Tahap 4 : Orientasi hukuman dan ketertiban
Terdapat orientasi terhadap otoritas, aturan yang tetap dan penjagaan tata tertib/norma-norma sosial. Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menghormati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada, sebagai yang bernilai dalam dirinya sendiri.

3. Tingkat Pasca-Konvensional (Otonom / Berlandaskan Prinsip)
Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. Ada dua tahap pada tingkat ini:

Tahap 5 : Orientasi kontrak sosial Legalitas
Pada umumnya tahap ini amat bernada semangat utilitarian. Perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh seluruh masyarakat. Terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativitas nilai dan pendapat pribadi sesuai dengannya. Terlepas dari apa yang telah disepakati secara konstitusional dan demokratis, hak adalah soal “nilai” dan “pendapat” pribadi. Hasilnya adalah penekanan pada sudut pandangan legal, tetapi dengan penekanan pada kemungkinan untuk mengubah hukum berdasarkan pertimbangan rasional mengenai manfaat sosial (jadi bukan membekukan hukum itu sesuai dengan tata tertib gaya seperti yang terjadi pada tahap 4). Di luar bidang hukum yang disepakati, maka berlaku persetujuan bebas atau pun kontrak. Inilah “ moralitas resmi” dari pemerintah dan perundang-undangan yang berlaku di setiap negara.

Tahap 6 : Orientasi Prinsip Etika Universal
Hak ditentukan oleh keputusan suara batin, sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang mengacu pada komprehensivitas logis, universalitas, konsistensi logis. Prinsip-prinsip ini bersifat abstrak dan etis (kaidah emas imperatif kategoris) dan mereka tidak merupakan peraturan moral konkret seperti kesepuluh Perintah Allah. Pada hakikat inilah prinsip-prinsip universal keadilan, resiprositas dan persamaan hak asasi manusia serta rasa hormat terhadap manusia sebagai pribadi individual.

Berdasarkan penelitian empirisnya tersebut, secara kreatif Kohlberg menggabungkan berbagai gagasan dari Dewey dan Piaget, bahkan berhasil melampaui gagasan-gegasan mereka. Dengan kata lain ia berhasil mengkoreksi gagasan Piaget mengenai tahap perkembangan moral yang dianggap terlalu sederhana.Kohlberg secara tentatif menguraikan sendiri tahap-tahap 4, 5 dan 6 yang ditambahkan pada tiga tahap awal yang telah dikembangkan oleh Piaget. Dewey pernah membagi proses perkembangan moral atas tiga tahap : tahap pramoral, tahap konvensional dan tahap otonom. Selanjutnya Piaget berhasil melukiskan dan menggolongkan seluruh pemikiran moral anak seperti kerangka pemikiran Dewey, : (1) pada tahap pramoral anak belum menyadari keterikatannya pada aturan; (1) tahap konvensional dicirikan dengan ketaatan pada kekuasaan; (3) tahap otonom bersifat terikat pada aturan yang didasarkan pada resiprositas (hubungan timbal balik). Berkat pandangan Dewey dan Piaget maka Kohlberg berhasil memperlihatkan 6 tahap pertimbangan moral anak dan orang muda seperti yang tertera di atas.

Hubungan antara tahap-tahap tersebut bersifat hirarkis, yaitu tiap tahap berikutnya berlandaskan tahap-tahap sebelumnya, yang lebih terdiferensiasi lagi dan operasi-operasinya terintegrasi dalam struktur baru. Oleh karena itu, rangkaian tahap membentuk satu urutan dari struktur yang semakin dibeda-bedakan dan diintegrasikan untuk dapat memenuhi fungsi yang sama, yakni menciptakan pertimbangan moral menjadi semakin memadai terhadap dilema moral. Tahap-tahap yang lebih rendah dilampaui dan diintegrasikan kembali oleh tahap yang lebih tinggi. Reintegrasi ini berarti bahwa pribadi yang berada pada tahap moral yang lebih tinggi, mengerti pribadi pada tahap moral yang lebih rendah.

Selanjutnya penelitian lintas budaya yang dilakukan di Turki, Israel, Kanada, Inggris, Malaysia, Taiwan, dan Meksiko memberikan kesan kuat bahwa urutan tahap yang tetap dan tidak dapat dibalik itu juga bersifat universal, yakni berlaku untuk semua orang dalam periode historis atau kebudayaan apa pun.

Menurut Kohlberg penelitian empirisnya memperlihatkan bahwa tidak setiap individu akan mencapai tahap tertinggi, melainkan hanya minoritas saja, yaitu hanya 5 sampai 10 persen dari seluruh penduduk, bahkan angka inipun masih diragukan kemudian. Diakuinya pula bahwa untuk sementara waktu orang dapat jatuh kembali pada tahap moral yang lebih rendah, yang disebut sebagai “regresi fungsional”. Nah, dimana tingkatan moral anda? (jp)

Perkembangan Moral

Oleh: Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi.

;;